Game Online Kekerasan Kian Mengancam Salah Siapa?
OpiniAdapun perusahaan pencipta game tersebut pasti membayar pajak yang tinggi kepada negara
Oleh karenanya, pemblokiran platform digital menjadi sesuatu yang mahal bagi negara yang berideologi kapitalisme demokrasi
_________________________
Penulis Ledy Ummu Zaid
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Siapa sangka telepon genggam yang dahulu hanya digunakan untuk komunikasi, tetapi sekarang keberadaannya seolah wajib dimiliki? Kini, gadget tidak lagi menjadi benda yang asing bagi anak-anak. Banyak orang tua yang memperkenalkan dunia digital sejak dini. Namun, tak sedikit pula anak-anak yang akhirnya terjerumus pada tindak kriminal.
Game Online Berbau Kekerasan Banyak Peminat
Dilansir dari laman cnnindonesia.com (26-12-2025), kasus pembunuhan anak terhadap ibunya yang terjadi di Kota Medan beberapa waktu lalu menemukan fakta baru. Polrestabes Medan akhirnya mengungkap kronologi pembunuhan tersebut. Pelaku yang tak lain merupakan anak korban ini diduga sakit hati lantaran game online favoritnya dihapus oleh korban. Adapun game online tersebut dipenuhi dengan adegan kekerasan menggunakan pisau.
Tak hanya itu, ada dugaan pelaku terpicu kala melihat kakaknya dipukuli korban menggunakan sapu dan tali pinggang. Kemudian, pelaku juga pernah melihat korban sedang mengancam sang ayah dengan pisau. Oleh karenanya, imajinasi pelaku semakin menjadi-jadi hingga melancarkan aksinya kepada korban yang tengah tertidur lelap.
Di tempat yang berbeda, telah terjadi ancaman bom di beberapa sekolah di Kota Depok, Jawa Barat, seperti yang dilansir dari laman regional kompas.com (29-12-2025). Seorang mahasiswa berinisial HRR nekat melakukan teror bom terhadap 10 sekolah di Kota Depok. Adapun untuk melancarkan aksinya, HRR mengirimkan email berisi ancaman kepada sekolah-sekolah tersebut.
Usut punya usut, pelaku merasa kesal terhadap mantan pacarnya yang menolak lamarannya. Akibatnya, ia yang merasa sakit hati meneror sang mantan hingga ke kampusnya. Kemudian, aksi teror bom di 10 sekolah ini menjadi klimaks dari kekesalannya tersebut. Terbukti, konten kekerasan, baik game online maupun tontonan lainnya di dunia maya memiliki banyak peminat.
Game Online Bebas dalam Sistem Kapitalisme
Tak dapat dimungkiri, platform digital saat ini dapat membahayakan penggunanya. Banyak platform yang sengaja menyisipkan nilai-nilai yang bertentangan dengan norma di masyarakat. Walhasil, banyak generasi yang terjerumus dalam kubangan pengaruh negatif. Mulai dari tindakan bullying, pelecehan seksual, hingga pembunuhan bahkan dapat dilakukan oleh anak-anak.
Apa yang terjadi di Kota Medan, Sumatra Utara tersebut menjadi bukti bahwa kemajuan teknologi dapat mengancam generasi. Tak sedikit anak-anak mengakses konten-konten kekerasan dan vulgar karena platformnya mudah diakses dan tersebar luas.
Jika kita telisik lebih dalam, akar dari masalah di dunia digital ini adalah sistem ekonomi kapitalisme. Ideologi yang berlandaskan asas manfaat ini senantiasa menjadikan materi sebagai tolok ukur. Dengan demikian, teknologi dapat dijadikan lahan bisnis yang menjanjikan. Kapitalisme global berpeluang meraup keuntungan dari ruang digital tanpa memedulikan kerusakan moral rakyat.
Benar saja, negara terbukti tidak mampu melindungi generasi dari bahaya game online yang berbau kekerasan. Adapun perusahaan pencipta game tersebut pasti membayar pajak yang tinggi kepada negara. Oleh karenanya, pemblokiran platform digital menjadi sesuatu yang mahal bagi negara yang berideologi kapitalisme demokrasi.
Islam Mampu Menjaga Sistem Informasi
Berbeda dengan kapitalisme, Islam hadir sebagai sebuah sistem yang dapat mengatur segala lini kehidupan, tak terkecuali sistem informasi. Dalam negara Islam atau yang lebih dikenal dengan Daulah Islamiyah, sistem informasi hadir dengan memberikan informasi yang faktual dan syar’i. Sebagai contoh, daulah akan sigap menjaga konten-konten yang beredar di masyarakat. Daulah juga tidak segan memblokir situs-situs atau platform yang menampilkan kemaksiatan.
Tak hanya itu, daulah juga memiliki kedaulatan digital di mana hanya Daulah yang memiliki kendali terhadap sistem informasi. Tidak akan ada ceritanya bahwa negara menyediakan lahan bisnis bagi swasta dan asing. Dengan demikian, hegemoni ruang digital tak akan dikuasai kapitalisme global, karena daulah pun mampu bersaing.
Adapun seorang khalifah akan hadir sebagai garda terdepan dalam menjaga ketakwaan setiap individu rakyatnya. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang imam itu (laksana) perisai. Dia akan dijadikan perisai, di mana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala." (HR. Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, solusi dari kerusakan generasi ini dapat ditemui dalam tiga pilar besar, yakni individu, masyarakat, dan negara yang bertakwa. Ketika semua saling bersinergi menciptakan lingkungan yang islami, maka kerusakan moral dapat dengan mudah ditangkal. Khususnya, dalam bidang pendidikan, pergaulan sosial, budaya, ekonomi, dan politik semua harus berlandaskan syariat Islam.
Khatimah
Islam yang hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam tentu memiliki pengaturan yang kompleks dan komprehensif. Dengan diterapkannya syariat Islam kafah (menyeluruh), umat akan terjaga ketakwaannya. Seperti pada zaman kepemimpinan Islam di masa lalu, kaum muslimin mampu menjadi khairu ummah atau umat terbaik.
Sayangnya, dalam sistem kapitalisme hari ini, negara tak mampu membendung arus negatif di media sosial. Tak ayal, game online berbau kekerasan kian mengancam generasi. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]


