Screen Time Vs Quality Time
ReportasePemuda muslim punya peran penting untuk membangkitkan umat
bukan malah terperosok dalam kesenangan duniawi
______________________________
Penulis Siska Juliana
Tim Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, REPORTASE - Kehidupan saat ini tidak terlepas dari dunia digital. Setiap orang seakan memiliki dua dunia, yaitu dunia nyata dan maya. Hal tersebut juga dialami para remaja. Apalagi mereka telah berdampingan dengan dunia maya sejak usia dini. Lantas sejauh mana dampak yang ditimbulkan akibat interaksi di dunia maya ini?
Untuk menjawab rasa penasaran itu, Komunitas Smart With Islam mengadakan kajian yang bertajuk, “Screen Time Vs Quality Time” pada Ahad 21 Desember 2025. Kegiatan ini dihadiri oleh puluhan pelajar dan mahasiswa area Kota Bandung, Jawa Barat.
Para peserta antusias mengikuti acara ini dari awal hingga akhir. Adanya sesi tanya jawab dan silah ukhuwah bersama peserta menambah pemahaman para remaja muslimah yang menghadiri acara ini.
Teh Siska selaku pemateri menguraikan fakta yang terjadi. Menurut State of Mobile 2023 Indonesia berada di ranking teratas secara global sebagai pengguna internet terlama di tahun 2022. Durasi screen time rata-rata 6,14 jam per hari. Gen Z merupakan kelompok tertinggi yang melakukan screen time mencapai 35%.
Dampak negatif screen time berlebihan, di antaranya mager mode on, waktu tidak produktif, mudah cemas dan stres, mengurangi quality time bersama keluarga dan teman jadi berkurang.
Islam sudah mengingatkan kita tentang urusan waktu. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menyebutkan sebuah perkataan: “Waktu ibarat pedang, jika engkau tidak menebasnya maka ialah yang akan menebasmu. Dan jiwamu jika tidak kau sibukkan di dalam kebenaran maka ia akan menyibukkanmu dalam kebatilan.”
Maka siapa saja yang waktunya dihabiskan untuk Allah dan karena Allah maka waktu itulah hakikat umur dan kehidupannya. Adapun selain itu (jika waktunya tidak dihabiskan untuk dan karena Allah) maka waktu tersebut pada hakikatnya bukanlah termasuk kehidupannya, akan tetapi kehidupannya laksana ibarat kehidupan hewan.
Sebagai generasi muda, harus mengenali potensi diri yang dimiliki. Kekuatan dan anugerah, masa muda adalah kekuatan di antara dua kelemahan (bayi & tua), anugerah terindah yang harus dimanfaatkan optimal.
Pemuda muslim punya peran penting untuk membangkitkan umat, bukan malah terperosok dalam kesenangan duniawi. Juara dunia akhirat, layak meraih predikat umat terbaik dengan menyuruh yang baik dan mencegah yang mungkar, serta beriman kepada Allah.
Islam memiliki role model pemuda yang hebat. Ibnu Abbas belajar bukan karena deadline, tetapi karena ingin mengerti kebenaran, menjadi ahli tafsir hebat meski muda. Usamah bin Zaid, panglima muda sejati yang cerdas, pemberani, dan dicintai Nabi Muhammad saw., menunjukkan potensi kepemimpinan sejak dini. Bilal bin Rabah, suaranya yang lantang jadi simbol keteguhan iman.
Teh Siska mengingatkan untuk menjadikan setiap waktu berkualitas, yaitu:
Pertama, setiap waktu yang kita pakai bisa menambah pahala. Screen time bisa dijadikan sarana berdakwah. Sharing nasihat, quote dakwah, atau catatan kebaikan yang bisa menginspirasi orang lain agar berbuat baik. Tujuannya biar berbuah pahala dan menggapai rida Allah.
Kedua, mengurangi waktu screen time. Isi waktu dengan ibadah, misalnya salat sunah, baca Al-Qur’an, atau membantu orang lain yang kesulitan. Ibnu Mas’ud berkata, “Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, ajalku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.”
Ketiga, fokus pada quality time. Luangkan waktu penuh perhatian untuk orang tersayang, bukan hanya fisik, tetapi juga mental.
Keempat, setiap waktu yang kita pakai bisa untuk menambah ilmu. Mengkaji Islam secara kafah biar tidak kehilangan arah hidup.
“Mari jadikan setiap waktu kita quality time untuk tambah pahala dan tambah ilmu. Karena waktumu, masa depanmu,” pungkasnya.


