Ibu Ideologis: Mesin Pencetak Generasi Berkualitas
Opini
Ibu adalah madrasatul ula atau guru pertama yang paling berpengaruh mencetak generasi
berkarakter kuat, beriman, berakhlak mulia
Penulis Windih Silanggiri
Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pemerhati Remaja
KUNTUMCAHAYA.com, OPlNl - Ibu adalah sosok yang memiliki peran vital dalam sebuah keluarga di samping ayah. Peran ibu tidak hanya sebatas peran domestik, tetapi di tangan inilah generasi tangguh dan taat mampu untuk dicetak. Inilah pandangan Islam terhadap sosok seorang ibu, yaitu al ummun wa rabbatul bayt, ibu dan pengatur rumah tangga.
Seorang ibu bertugas mencetak generasi pemimpin dan penakluk peradaban yang hanya takut kepada Allah semata. Ibu akan melahirkan generasi visioner yang memiliki visi akhirat. Dunia akan ditaklukkan untuk mewujudkan visi akhirat. Karena dalam benak seorang ibu, generasi adalah penerus estafet peradaban masa depan.
Ibu adalah madrasah ula, yaitu sekolah pertama dan utama bagi anak-anak, yang pertama kali menanamkan tauhid, visi akhirat, dan syariat. Sejarah mengabadikan peran seorang ibu yang mampu mencetak generasi bervisi akhirat. Seperti ibunda generasi salafus salih.
Karena ibu sangat berperan dalam membentuk karakter dan akhlak generasi selanjutnya. Sebagaimana hadis Rasulullah saw., "Ibu adalah madrasah(sekolah) pertama bagi anak-anaknya. Jika ibu itu baik, maka anak-anaknya akan baik, jika ibu itu buruk, maka anak-anaknya akan buruk." (HR. Al-Baihaqi)
Sebagai contoh lmam Syafi'i tumbuh dalam kondisi keterbatasan ekonomi. Berkat didikan ibundanya beliau menjadi seorang mujtahid dengan ketinggian ilmu dan ketakwaan. Begitu juga Imam Malik. Ibunda Imam Malik mengajarkan adab sebelum ilmu sehingga lahirlah seorang ulama besar.
Ibunda Shalahuddin Al Ayyubi menanamkan kecintaan kepada Al Quds sehingga mampu menjadi penjaga Al Quds. Sedangkan ibunda Muhammad Al Fatih memperlihatkan benteng Konstatinopel sehingga di usia muda mampu menaklukannya.
Inilah gambaran ibu ideologis yang memadukan peran sebagai ibu biologis dengan kesadaran politik yang tinggi. Ibu ideologis menyadari bahwa anak-anak mereka adalah calon pemimpin umat di masa depan. Dengan kesadaran politik yang tinggi, seorang ibu ideologis mampu memberi nyawa demi terwujudnya cita-cita besar menjadi pemimpin peradaban dunia.
Ibu ideologis akan menanamkan rasa takut hanya pada Allah semata, bukan kepada makhluk. Menumbuhkan cara berpikir visioner hingga melampaui batas kemampuan sehingga mampu mengemban amanah besar. Jika demikian faktanya, maka generasi tangguh dan kuat hanya mampu tumbuh dari rahim seorang ibu ideologis yang sadar akan kewajibannya.
Fakta Berkata Lain
Namun, saat ini berbanding terbalik dengan masa lalu di mana telah terjadi krisis generasi. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan bahwa 90% kasus kenakalan anak, mulai dari tawuran, penyalahgunaan lem, hingga narkoba, berakar pada kurangnya kasih sayang dan interaksi dari orang tua. Hal ini disebabkan oleh kurangnya komunikasi, kesibukan mencari nafkah, atau bahkan perceraian orang tua. (kumparan.com, 31-5-2025)
Selain itu, serangan dunia digital yang makin masif, mengakibatkan generasi makin jauh dari nilai-nilai agama. Kerja algoritma yang membahayakan, platform digital yang tidak ramah, dan tayangan yang tak berfaedah dan bebas, menjadikan generasi tidak memiliki kepribadian Islam.
Penerapan sistem ekonomi kapitalisme membuat peran perempuan makin berat. Mereka dipaksa untuk keluar rumah demi kontribusi finansial. Di sisi lain, fitrah seorang ibu tidak mungkin ditinggalkan mengakibatkan seorang perempuan memiliki peran ganda yang sungguh melelahkan. Mereka dipaksa melakukan peran sebagai mesin pencetak uang dan pengurus rumah tangga.
Peran ganda inilah yang mengakibatkan seorang perempuan tidak memiliki waktu untuk mengisi ruang spiritualnya. Sementara itu, serangan budaya Barat, pemikiran sesat, gaya hidup bebas, dan faktor ekonomi telah menantang perempuan untuk tetap terus bertahan menjalani hidup yang berat.
Padahal peran seorang ibu sangat vital dalam keluarga. Mereka memiliki kewajiban membentuk generasi tangguh dan taat. Oleh karena itulah, perlu adanya penguatan akidah dan penanaman nilai-nilai Islam agar peran perempuan bisa optimal.
Profil Ibu Ideologis
Generasi yang memiliki kepribadian Islam dan ideologis, tidak bisa muncul dengan sendirinya. Namun, generasi ini dilahirkan dari rahim ibu ideologis sehingga perlu adanya gambaran sosok ibu ideologis.
Ibu ideologis harus memiliki gambaran yang jelas tentang visi pendidikan bagi anak-anaknya, yaitu sebagai abdullah, khalifah fil ardh, dan khairu ummah. Ibu ideologis akan mendidik anak-anaknya menjadi hamba Allah yang taat dalam setiap kondisi, membentuk pemimpin yang mampu merawat bumi dengan aturan Islam, serta menjadi bagian dari anggota masyarakat yang beramar makruf nahi mungkar. Visi pendidikan ini harus tertancap kuat dalam benak seorang ibu ketika mendidik anak-anaknya.
Ibu harus bisa menjadi teladan yang baik untuk anak-anaknya karena anak adalah peniru ulung. Segala bentuk ucapan dan tingkah laku ibu akan terekam kuat dalam benak anak. Ibu harus memberikan keteladanan berupa keyakinan yang kokoh, ketaatan di segala kondisi, kesabaran di segala ujian, dan kejujuran meski terasa pahit.
Peran ibu ideologis tidak berhenti di dalam rumah, tetapi harus dibarengi dengan upaya mengubah sistem kapitalis sekuler yang rusak dan merusak dengan sistem yang benar dan menyejahterakan, yakni sistem Islam. Dalam sistem kapitalis, tujuan utama hanya keuntungan yang bersifat materi belaka dan jauh dari nilai-nilai ruhiah. Konsep inilah yang membahayakan, terutama ibu dan anak-anak.
Sedangkan sistem Islam akan melahirkan manusia yang beradab dan mulia di sisi Allah. Konsep seperti ini akan menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab seorang ibu dalam membentuk anak-anaknya menjadi generasi yang bervisi akhirat. Wallahualam bissawab. [Luth/MKC]


