Alt Title

Remaja: Ketika Diam Menjadi Ledakan

Remaja: Ketika Diam Menjadi Ledakan



Dalam pandangan Islam, tujuan pendidikan bukan hanya mencetak anak pintar

tetapi juga membentuk kepribadian yang berakhlak mulia

______________________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Kasus kekerasan di kalangan remaja kembali menyita perhatian publik. Dilansir dari beritasatu.com (8-11-2025), baru-baru ini, seorang santri membakar asrama karena sakit hati setelah menjadi korban perundungan dari teman-temannya. Peristiwa ini bukan sekadar insiden biasa, tetapi sinyal bahaya tentang kondisi mental dan sosial generasi muda saat ini.


Tak hanya itu, di tempat lain, seorang siswa SMA diduga melakukan aksi ledakan di sekolah. Berdasarkan keterangan awal, siswa tersebut kerap menjadi sasaran ejekan dan perlakuan tidak menyenangkan dari teman-temannya. Tekanan sosial yang berulang dapat memicu kemarahan yang tak terkendali, hingga akhirnya muncul tindakan ekstrem.


Fenomena ini menunjukkan bahwa banyak remaja yang mengalami beban psikologis berat akibat olok-olok, pengucilan, atau pelecehan verbal maupun fisik. Rasa sakit hati yang tidak tersalurkan dengan baik bisa berubah menjadi tindakan berbahaya, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.


Perundungan sudah menjadi masalah serius yang menjalar ke berbagai daerah. Ini bukan lagi masalah individu, tetapi menunjukkan kegagalan sistem pembinaan karakter di lingkungan pendidikan. Ketika sekolah hanya fokus pada nilai akademik tanpa memperhatikan pembentukan sikap dan empati, maka lahirlah generasi yang rapuh secara emosional.


Media sosial pun turut memperparah keadaan. Banyak remaja yang meniru perilaku negatif dari konten di dunia maya. Ejekan dan hinaan sering dijadikan bahan candaan tanpa menyadari dampaknya. Fenomena ini menandakan bahwa krisis adab sedang melanda, dan fungsi pendidikan sebagai pembentuk kepribadian mulai pudar.


Ironisnya, tidak sedikit korban bullying yang mencari pelarian di dunia maya, justru menemukan inspirasi berbahaya di sana. Beberapa bahkan menjadikan tindakan kekerasan sebagai jalan keluar untuk melampiaskan rasa sakit atau dendam. Ini adalah peringatan keras bahwa perhatian terhadap kesehatan mental remaja perlu ditingkatkan.


Sistem pendidikan yang berorientasi pada capaian akademik semata juga perlu dievaluasi. Ketika keberhasilan hanya diukur dari nilai dan prestasi materi, sisi kemanusiaan dan moralitas sering kali terabaikan. Akibatnya, anak-anak tidak dibekali kemampuan menghadapi tekanan sosial atau mengelola emosi dengan bijak.


Dalam pandangan Islam, tujuan pendidikan bukan hanya mencetak anak pintar, tetapi juga membentuk kepribadian yang berakhlak mulia. Pendidikan harus menanamkan nilai moral dan spiritual yang kuat agar setiap individu memiliki fondasi keimanan dan etika dalam bertindak.


Proses pembelajaran seharusnya menumbuhkan pola pikir dan pola sikap yang baik. Guru dan lembaga pendidikan perlu menjadi teladan dalam hal kejujuran, empati, dan tanggung jawab. Pembinaan karakter tidak boleh berhenti di ruang kelas, tetapi menjadi bagian dari keseharian siswa.


Kurikulum yang ideal adalah kurikulum yang menempatkan adab dan nilai-nilai moral sebagai dasar dari setiap pelajaran. Pendidikan bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi membentuk manusia yang sadar akan tanggung jawab sosialnya.


Negara pun memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan sistem pendidikan berjalan sesuai tujuan luhur ini. Pemerintah harus hadir menjamin pembinaan moral, menyediakan lingkungan belajar yang aman, serta melindungi generasi muda dari segala bentuk kekerasan dan kezaliman sosial. Wallahualam bissawab.


Ummu Hamizan