Alt Title

MBG dan Stunting Buah Kebijakan Populis

MBG dan Stunting Buah Kebijakan Populis



Kasus keracunan yang makin bertambah dari hari ke hari di berbagai daerah

menunjukkan kurangnya pengawasan dan pemantauan pemerintah terhadap permasalahan ini

_____________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA- Keracunan akibat menu Makan Bergizi Gratis (MBG) lagi-lagi dan lagi terjadi di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Adapun siswa yang keracunan adalah siswa SMP Bina Karya di Desa Cimanggu, Kecamatan Ngamprah.


Dikutip dari detikjabar.com, (11-11-2025). Berdasarkan data yang terjadi ada sebanyak 13 siswa yang mengalami mual-mual, muntah, dan pusing yang berefek keracunan. Menurut data yang dirilis oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan lembaga terkait lainnya, terjadi ribuan kasus keracunan terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak Januari hingga November 2025.

 

Berdasarkan data per 1 Oktober 2025, Kepala BGN menyebutkan ada 6.517 korban keracunan sejak Januari. Namun, data dari organisasi seperti Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menunjukkan angka yang lebih tinggi, yaitu 10.482 korban hingga 4 Oktober 2025 dengan kasus-kasus terbaru terus bertambah hingga November.


Kasus keracunan yang makin bertambah dari hari ke hari di berbagai daerah menunjukkan kurangnya pengawasan dan pemantauan  pemerintah terhadap permasalahan ini. Karena banyaknya korban keracunan sehingga banyaknya wali murid tidak mau menerima Makan Bergizi Gratis (MBG). Alih-alih memberikan gizi yang terbaik untuk anak bangsa ini malah memberikan makanan yang tak layak untuk dikonsumsi.


Program Pak Prabowo  menyalurkan Makanan Bergizi Gratis (MBG) ke sekolah-sekolah untuk menghilangkan stunting dan menghilangkan gizi buruk yang menimpa anak-anak. Ketika dianalisis, ini bukanlah solusi tuntas karena faktor stunting dan gizi buruk itu akibat banyaknya masyarakat hari ini  kesulitan ekonomi, ketidakmampuan orang tua memberikan makanan yang sehat dan bergizi. Jangankan beli buah dan susu, untuk makan sehari-hari saja tidak sanggup. Apalagi di sistem hari ini semuanya serba mahal dari pendidikan, kesehatan, bahan-bahan pokok semuanya harganya naik seperti beras, minyak, cabai dan lain-lain.


Apalagi di sistem demokrasi kapitalis hari ini sulitnya mendapatkan pekerjaan. Bukan karena masyarakatnya malas bekerja, tetapi tidak adanya lapangan pekerjaan yang disediakan oleh pemerintah. Alhasil, rakyat banyak yang pengangguran. Berefek kepada  perbuatan yang haram, seperti mencuri hanya untuk memenuhi keberlangsungan hidup.


Data terbaru menunjukkan jumlah pengangguran di Indonesia pada Agustus 2025 mencapai 7,67 juta orang, meningkat dari 7,28 juta orang pada Februari 2025. Adapun anggaran makan bergizi gratis diperkirakan mencapai Rp1,2 triliun per hari, dengan total anggaran program sebesar Rp335 triliun untuk tahun 2026. Ini termasuk dana yang cukup besar yang harus dikeluarkan negara.

 

Di Indonesia 82,4%  lebih Anggaran Pendapatan Negara (APBN) bersumber dari penerimaan pajak. Pajak menjadi tulang punggung pembiayaan negara. Sudahlah rakyat miskin, banyak yang  pengangguran, tetapi rakyat dipaksa untuk membayar pajak untuk berjalannya program dari pemerintah. Padahal program Makan Bergizi Gratis (MBG) itu tidak memberikan solusi yang tuntas untuk menghilangkan stunting atau gizi buruk yang dialami anak Indonesia.

 

Solusi di Dalam Islam


Di dalam Islam, negara seharusnya bertanggung jawab terhadap kesejahteraan warganya  dengan memberikan lapangan pekerjaan yang merata dengan gaji yang cukup. Pemerintah juga memberikan pengawasan dan pemantauan terhadap bahan bahan pokok yang terjual di pasaran dengan memberikan harga terjangkau.

 

Alhasil, semua warga mampu untuk membeli bahan bahan pokok yang dibutuhkan. Tidak adanya pajak di dalam Islam. Kas negara di dalam Islam bernama Baitulmal dengan sumber pendanaan utama adalah zakat, ganimah, fai, dan sumber daya alam yang berlimpah yang akan dikelola oleh negara dan akan dikembalikan kepada rakyat.


Sumber daya alam seperti air, listrik, tambang dan lain-lain adalah milik umum yang harus dikelola oleh negara secara langsung untuk kepentingan rakyat, bukan diserahkan kepada swasta/asing. Dasarnya antara lain sabda Rasulullah saw., “Kaum muslim berserikat dalam tiga hal: padang rumput, air dan api." (HR. Abu Dawud, Ahmad dan Ibnu Majah)


Negara perannya memberikan kesejahteraan kepada warganya dengan adanya lapangan pekerjaan yang merata dengan gaji yang cukup sedangkan peran orang tua memberikan makanan yang sehat dan bergizi. Khalifah (pemimpin) dalam sistem pemerintahan Islam bukan sekadar penguasa. Ia adalah pelayan umat yang wajib menjamin kesejahteraan mereka. Sebagai pemimpin, khalifah akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.


Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah saw., "Imam (khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Wallahualam bissawab. [SM/MKC]

 

Tini Sitorus