Alt Title

Retakan di Bawah Kiblat Pertama

Retakan di Bawah Kiblat Pertama



Wahai kaum muslim, jangan biarkan Al-Aqsha berdiri sendiri

Ia memanggilmu untuk dibebaskan sebagaimana yang dilakukan Umar bin Khattab dan Salahuddin Al-Ayyubi

_____________________________

 

Penulis Sari Yuliyanti 

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pemerhati Pendidikan dan Kebudayaan


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Lebih dari lima dekade tanah di bawah Masjid Al-Aqsha terus digali. Bukan untuk memperkuat, tetapi untuk membangun narasi sejarah baru yang sesat. Bukan untuk memperkokoh masjid suci umat Islam, tetapi untuk menghapus jejak peradaban mulia kaum muslim.


Lubang-lubang itu kini menjalar seperti urat halus di bawah kompleks suci umat Islam. Tiap retakannya membawa tanda tanya besar, sampai kapan fondasi kiblat pertama itu mampu bertahan? Dan sampai kapan dunia diam terhadap kejahatan besar tersebut?


Penggalian besar di kawasan kompleks Masjid Al-Aqsha mulai terjadi setelah Perang 1967 ketika Isra*l menduduki Yerusalem Timur. (cnbcindonesia.com, 29-06-2022)


Sudah lebih dari 100 titik penggalian tercatat di bawah dan sekitar kompleks Al-Aqsha seperti dilaporkan dari kantor berita Turki, Anadolu Agency pada Juli 2022. Dengan posisi terowongan utama berada di sisi barat dan selatan kompleks Al-Aqsha juga di bawah kawasan permukiman, seperti Silwan serta di bawah dinding barat yang dikenal sebagai Western Wall. 


Kedalaman penggalian disebut antara sekitar 6-7 meter hingga antara 10-30 meter di beberapa bagian. Sementara total jaringan bawah tanah tersebut diperkirakan mencapai 1,5 sampai 2 kilometer yang terdiri dari beberapa jalur utama dan cabang kecil. 


Jika ditelaah secara mendalam, ada tiga tujuan besar di balik proyek-proyek penggalian ini, yaitu:

 

Pertama, legitimasi sejarah Yahudi atas Yerusalem Timur. Isra*l berusaha menegaskan klaim bahwa Yerusalem Timur (termasuk Al-Aqsha) adalah bagian warisan arkeologis dan historis bangsa Yahudi. (trtindonesia.com, 10-11-2025)

 

Tujuannya agar publik internasional memiliki narasi sejarah versi Israel, bahwa wilayah itu adalah sepenuhnya milik Yahudi bukan milik kaum muslim.


Kedua, perluasan kontrol fisik dan simbolik. Melalui terowongan tersebut, Isra*l dapat menembus bawah kompleks Al-Aqsha tanpa harus masuk melalui area yang dikuasai otoritas Yordania (Waqf Islam). Mereka juga membangun akses wisata dan ziarah Yahudi langsung ke bawah area suci umat Islam.

 

Strategi inilah yang disebut dengan spatial control yaitu menguasai ruang bukan dengan pasukan di permukaan, melainkan melalui penguasaan infrastruktur bawah tanah. Artinya, meski Al-Aqsha masih berdiri di permukaan, tetapi Isra*l sudah mengontrol fondasi dan jalur bawahnya.


Ketiga, pariwisata ideologis dan ekonomi politik. Bagian tertentu terowongan dijadikan tempat wisata ziyarah Yahudi dengan narasi arkeologis. (idntimes.com, 17-09-2025)

 

Wisatawan diarahkan untuk menelusuri jejak Bait Suci. Padahal jalur itu tepat berada di bawah kawasan muslim. Salah satu tujuan pariwisata tersebut adalah untuk meningkatkan pendanaan politik dan legitimasi proyek permukiman di Silwan dan sekitarnya.


Pihak P4lestina dan otoritas Yerusalem Timur sudah memperingatkan bahwa penggalian ini mengancam fondasi dan struktur Masjid Al-Aqsha dan bangunan sejarah di sekitarnya (cnnindonesia.com, 26-10-2025)

 

Pengamatan di lapangan menyebut terjadi retakan ketika pekerjaan berlangsung. Namun, bukannya dihentikan tetapi justru penggalian tersebut terus dilangsungkan hingga detik ini. Bahkan, dilakukan tanpa perizinan dan pengawasan yang memadai. 


Melihat fakta yang terjadi, bagaimana mungkin kaum muslimin bisa menerima proyek penggalian tersebut. Apalagi dilakukan di Masjid Al-Aqsha, masjid suci umat Islam. Di mana Rasulullah saw. mengatakan untuk tidak melakukan perjalanan jauh kecuali ke tiga masjid diantaranya adalah Masjidil Haram, Masjid Al-Aqsha, dan Masjid Nabawi. Hal ini menandakan bahwa Masjid Al-Aqsha adalah masjid yang sangat istimewa bagi kaum muslim. 


Selain itu, Masjid Al-Aqsha adalah tempat yang penuh dengan jejak orang-orang saleh? Di sanalah tempat nabi Muhammad saw. dihibur ketika mendapatkan kesedihan yang mendalam. Di sana juga Nabi saw. melakukan pijakan pertama ketika melakukan perjalanan langit. 


Nabi Muhammad saw. meminta kaum muslimin untuk melaksanakan salat di sana karena bernilai pahala berkali lipat. Jika tidak bisa ke sana, maka dianjurkan untuk membantu dan menjaganya, setidaknya dengan memberikan lampu penerangan. 


Sejarah mencatat, bagaimana para khalifah terdahulu melakukan penjagaan terhadap Masjid Al-Aqsha. Di bawah pimpinan Umar bin Khattab, Yerusalem di futuhat kemudian beliau membuat pengaturan dan keamanan masjid. Di Masa Walid bin Abdul Malik (Umayyah) dilakukan pembangunan dan perbaikan masjid, ditetapkan juga sistem keamanan secara administratif dan terorganisir.


Salahuddin Al-Ayyubi merebut kembali Yerusalem untuk umat Islam setelah sebelumnya jatuh ke tangan tentara Salib. Menunjukkan bahwa masjid Al-Aqsha harus dipertahankan dan diperjuangkan. Di masa Utsmaniyah, terdapat pasukan khusus ditugaskan menjaga Yerusalem dan Al-Aqsha. Di antaranya adalah Prajurit Ottoman bernama Corporal Hasan Al-Aghdarli disebut sebagai penjaga terakhir Ottoman yang mengabdi di Masjid Al-Aqsha selama sekitar 65 tahun lamanya.


Sudah cukup jelas, bahwa Masjid Al-Aqsha adalah masjid istimewa bagi umat Islam. Masjid yang akan selalu dijaga dan dipertahankan. Sejak Nabi Ibrahim as. hingga Salahudin Al-Ayyubi, para penjaga tauhid selalu menjaga Al-Aqsha sebagai simbol perlawanan terhadap kezaliman. Masjid Al-Aqsha bukan hanya bangunan semata, tetapi penanda sejarah iman dan keberanian umat Islam yang tak pernah padam.

 

Namun, kini Isra*l dengan lancang menggali masa lalu Yahudi untuk menghapus sejarah istimewa Islam dan umat Muslim. Penggalian itu adalah cara mereka yang sangat efektif untuk mengubah narasi sejarah tanpa harus dengan menembakkan peluru kepada umat Islam yang pemberani.


Menjaga Al-Aqsha adalah menjaga amanah para Nabi. Barangsiapa menghidupkan cinta kepada masjid itu, maka ia telah menyalakan kembali cahaya risalah di bumi Syam.


Wahai kaum muslim, jangan biarkan Al-Aqsha berdiri sendiri. Ia memanggilmu untuk dibebaskan sebagaimana yang dilakukan Umar bin Khattab dan Salahuddin Al-Ayyubi. Suaramu, perjuanganmu, dan doa-doa terbaikmu untuk P4lestina, itulah benteng terakhirnya. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]