Alt Title

Study Tour, Jangan Hanya Untung Pastikan Keamanannya Juga

Study Tour, Jangan Hanya Untung Pastikan Keamanannya Juga

  


Kecelakaan merenggut nyawa yang terjadi secara berulang ini seharusnya menjadi perhatian khusus pemerintah

Namun faktanya, jaminan keselamatan bertransportasi kini tidak lagi dirasakan masyarakat

_________________________


Penulis Ayi Tristiyanti 

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Sepanjang bulan Mei ini beberapa kasus serupa terjadi yaitu kecelakaan bus rombongan pelajar yang hendak pergi study tour (detiknews.com, 23/05/2024). Kecelakaan maut dialami oleh rombongan pelajar SMK Lingga Kencana Depok pada hari Sabtu(11/05/24) di Ciater Subang, Jawa Barat. Kejadian tersebut memakan 11 korban jiwa dan adapun lainnya mengalami luka-luka. Kejadian serupa juga dialami oleh bus rombongan pelajar SMP PGRI 1 Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Pada Selasa (21/05/24) di ruas tol Jombang-Mojokerto, yang telah merenggut nyawa 2 penumpangnya dan korban luka-luka. Juga terjadi pada bus rombongan pelajar dari MIN 1 Pesisir Barat Lampung yang mengalami kecelakaan pada Rabu, 25/05/2024 di Kabupaten Tanggamus, Lampung dengan korban luka-luka sebanyak 6 orang. Juga beberapa kasus serupa lainnya di wilayah berbeda.


Setelah diusut, sebab terjadinya kecelakaan pun sama. Selain sopirnya kelelahan dan kurang fit, ternyata bus yang dikendarai juga tidak layak beroperasi. Banyak ditemukan kerusakan yang ada, rem blong juga jadi alasan pertama saat terjadi kecelakaan. Dari sini terlihat pemilik bus memaksakan diri dengan terus mengoperasikan armadanya tanpa mengecek dan merawatnya secara berkala sebelum beroperasi. Stamina juga jadi hal terpenting bagi sopir saat berkendara karena dia bertanggung jawab dengan nyawa banyak orang. Rupanya kedua hal penting itu kini mulai dilupakan oleh pemilik bus dan sopir sendiri, lagi-lagi karena yang dikejar hanya materi dan untung saja bukan keselamatan bersama.


Akhirnya setelah kejadian kecelakaan rombongan itu terus berulang, banyak dari orang tua yang mengecam dan menolak pengadaan study tour di sekolah. Hati orang tua mana yang tidak cemas melihat berita yang ada belakangan ini, apalagi yang punya anak sekolah. Ada yang over thingking-nya sampai tahap ngikutin anaknya berangkat study tour gara-gara banyak terjadi kecelakan masal dengan bus yang ditumpanginya. 


Study tour kini memang menjadi kegiatan rutin tahunan sekolah setelah padatnya aktifitas harian di dalam kelas, yang biayanya pun full dibebankan kepada para siswa. Tak jarang orang tua pun merasa keberatan karena biaya yang di bayarkan harus bertambah. Tak salah juga jika orang tua protes saat fasilitas dan pelayanan tidak sesuai dengan biaya besar yang dikeluarkan. Pun di sisi lain destinasi luar kota banyak menjadi pilihan pihak sekolah untuk kegiatan karena akan menambah pengetahuan baru dengan suasana yang baru juga. Dengan begitu pasti banyak pertimbangan dalam pembagian biaya untuk kegiatan, transportasi, juga pendampingnya.


Kecelakaan merenggut nyawa yang terjadi secara berulang ini seharusnya menjadi perhatian khusus pemerintah. Namun  faktanya, jaminan keselamatan bertransportasi kini tidak lagi di rasakan masyarakat. Pemerintah tak mau ambil pusing dan lepas tangan, semua diserahkan penuh kepada biro bus dan kendaraan untuk mengelolanya. Pemilik pun bisa bebas tanpa harus mengeluarkan uang untuk perawatan lebih tapi tetap bisa menggunakan armadanya meski tak layak pakai. Di sisi lain, juga tidak ada sanksi tegas bagi pemilik jika ditemukan kendaraan yang tak pernah di rawat secara berkala. Insfrastruktur juga harus jadi fokus utama pemerintah, karena ini bagian dari jaminan keselamatan dalam berkendara. Pemerintah seharusnya memastikan betul kondisi jalan tidak rusak, tidak licin dan membahayakan pengemudi. 


Dalam sistem Islam, pemerintah sudah seharusnya menjadi pelayan penuh rakyat. Mencukupi semua kebutuhan rakyat termasuk tanggung jawab pemerintah menyediakan armada yang nyaman dan layak pakai dengan insfrastruktur memadai, sopir yang fit bukan sekedar kejar setoran.


Adapun kegiatan studi tour sendiri, harus ditinjau ulang oleh pihak sekolah. Pada dasarnya kegiatan ini adalah boleh dilakukan sebagaimana juga Islam membolehkan study tour atau rihlah sebagaimana firma Allah dalam Surat Al-Mulk Ayat 15, “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”


Namun, pihak sekolah juga harus mempertimbangkan asas manfaat dan juga keamanannya. Setiap kegiatan di luar sekolah juga harus disiapkan untuk pembelajaran siswa, bernilai edukasi dan menambah ilmu juga ketakwaan kepada Allah Swt.. Kegiatan ini bukan sebatas bertamasya, seharusnya juga tidak menambah beban ganda orang tua karena harus menyiapkan dana khusus. Walallahualam bissawab. [GSM]