Alt Title

Waspada, Kriminalitas di Mana-Mana!

Waspada, Kriminalitas di Mana-Mana!

 


Masyarakat sekuler, cenderung menjadi masyarakat yang praktis, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya

 Prioritas utama mereka adalah materi

______________________________


Penulis Nurul Bariyah 

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Keamanan dan kenyamanan dalam hidup adalah penting, dan hal tersebut merupakan hak bagi semua orang. Perlindungan yang terdekat berasal dari keluarga dan juga masyarakat sehingga menimbulkan keamanan dan kenyamanan hidup seseorang.


Namun tidak, yang dialami oleh seorang ibu rumah tangga di dusun Sindangjaya, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis. Menurut sumber berita news Republika.co.id, Jumat 2/5/2024, seorang suami tega membunuh dan memutilasi istrinya sendiri yaitu YN.


Motif pembunuhan sedang diselidiki. Polisi juga menyelidiki kondisi kejiwaan pelaku dan dugaan halusinasi yang terjadi pada pelaku. Alih-alih melindungi, seorang suami malah membunuh istri bahkan memutilasinya. Sangat miris, seorang suami sejatinya adalah pelindung keluarga yaitu istri dan anak-anaknya. Namun kenyataan sang suamilah yang menghabisi nyawanya. 


Kondisi masyarakat saat ini sangat mengerikan, keamanan dan kenyamanan lingkungan tidak mudah didapat saat ini. Banyak terjadi kejahatan di mana-mana termasuk di area terkecil yaitu keluarga. Berbagai motif digelindingkan seiring banyaknya terjadi kasus pembunuhan, seperti yang terjadi di Bekasi, Bali dan banyak lagi. 


Baru-baru ini juga terjadi kasus penganiayaan yang terjadi pada taruna STIP Marunda Jakarta Utara yang mengakibatkan kematian dan pelaku adalah seniornya. Hal tersebut diberitakan oleh Tirto.id dari sumber Antara, 4 Mei 2024. Saat ini polisi sedang menangani kasus tersebut dengan mengumpulkan bukti-bukti dan menginterogasi saksi yang juga diduga sebagai pelaku.


Apa yang terjadi pada manusia saat ini? Mengapa dengan begitu mudahnya menghilangkan nyawa orang lain? Apalagi orang terdekatnya sendiri. Apakah mental mereka sudah begitu rusaknya? Sehingga setiap amarah diakhiri dengan menghabisinya nyawa orang lain. Tak adakah jalan keluar yang lebih baik dalam memecah persoalan mereka?


Pola pikir yang sempit ini bersumber dari faktor pendidikan yang rendah dan salah, terutama jauhnya manusia sekarang dari ajaran agama. Agama melarang penganutnya menyakiti sesama apalagi sampai menghabisi nyawa. Faktanya di masyarakat saat ini, ajaran agama telah jauh ditinggalkan. Sehingga terjadi kejahatan, kerusakan, kemerosotan moral juga ketidaknyamanan dalam kehidupan.


Masyarakat sekuler, cenderung menjadi masyarakat yang praktis, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Prioritas utama mereka adalah materi. Bahkan materi di atas segalanya. Sehingga mengakibatkan kondisi emosi yang tidak stabil jika mendapat rintangan. 


Marah terjadi jika emosi yang dialami seseorang meluap, akan tetapi dalam Islam kita wajib menahan emosi atau kemarahan. Menahan amarah dianggap sebagai tindakan luhur dan membawa keberkahan dan pahala. 


Berikut keutamaan seseorang yang menahan amarah: 

Pertama, Allah Swt. akan menahan siksa-Nya.

Kedua, termasuk orang yang kuat. 


Rasulullah saw. bersabda: "Orang-orang yang kuat di antara kalian adalah orang yang dapat mengalihkan hawa nafsunya ketika marah, dan orang yang paling santun di antara engkau adalah orang yang memaafkan ketika mampu." (HR. Ibnu Ad dhunya dan lainnya).


Ketiga, mendapat rida Allah Swt. pada hari kiamat.


Selanjutnya mendapatkan pahala yang besar, dan terlindung dari neraka jahanam. Hatinya dipenuhi dengan keimanan, dan terakhir ketujuh mendapatkan bidadari di surga.


Oleh karena itu umat Islam diajarkan untuk menahan amarah, yaitu dengan cara beristighfar, meredam marah dengan berwudu, menahan diri, berdiam diri dan membaca taawuz.


Rasulullah pernah bersabda, "Jangan kamu marah, maka bagimu surga" (HR. Ath Thabrani)


Lihatlah betapa besar balasan bagi orang yang berhasil menahan marah, tidak main-main balasannya surga. Siapa yang tidak mau masuk surga?


Maka contohlah Rasulullah saw. sebagai suri teladan kita, manusia mulia yang berakhlak baik yang selalu mengajarkan kita tentang kebaikan. Rasulullah memberikan pedoman yang bijaksana mengenai pengendalian amarah.


Beliau bersabda: "Jika salah seorang dari kalian marah ketika berdiri, maka hendaklah ia duduk. Apabila marahnya tidak hilang juga maka hendaklah ia berbaring. Rasulullah menyarankan apabila tidak hilang juga, maka berwudu."


Pesan ini mengingatkan betapa pentingnya kesabaran dan menolak untuk merespons keburukan dengan keburukan yang berlebihan.


Dalam Islam ada sanksi untuk setiap perbuatan yang dilakukan, termasuk tindak kejahatan pembunuhan. Sanksi yang diberlakukan merupakan sanksi yang tegas yang menimbulkan efek jera bagi pelaku juga orang lain.


Ancaman bagi seorang pembunuh dalam Islam di akhirat nanti yaitu akan dimasukkan ke dalam neraka dan tidak akan dikeluarkan sampai kapan pun alias kekal di dalamnya. Dalam hukum pidana Islam sanksi yang diberikan yaitu berupa Qishas. Yaitu hukuman yang sama dengan perbuatan kejahatan yang dilakukannya, seperti membunuh maka hukumannya adalah dihukum mati.


Sebagaimana firman Allah Swt.: "Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya." (QS. An-nisa ayat 93)

Wallahualam bissawab. [SJ]