Alt Title

Esensi Pendidikan dalam Islam, Mencetak Generasi Rabbani yang Taat Seutuhnya pada Syariat Islam

Esensi Pendidikan dalam Islam, Mencetak Generasi Rabbani yang Taat Seutuhnya pada Syariat Islam

 


Kurikulum dalam Islam berdasarkan akidah Islam dan berpedoman pada Al-Qur'an dan Sunnah

Seorang guru dalam kacamata Islam harus memiliki kepribadian dan akhlak yang baik, menjadi suri teladan untuk murid-muridnya

______________________________


Penulis Mawaddah Sopie

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Entah sudah berapa kali kita bertemu dengan bulan Mei. Dari kita lahir sampai kini kita dewasa beranak pinak. Bulan Mei identik dengan perayaan hari pendidikan. Mei 2024 juga ditetapkan sebagai bulan merdeka belajar. Tema peringatan hari pendidikan nasional tahun ini adalah “Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar".


Kurikulum merdeka ini memang bisa meningkatkan nilai PISA dengan peningkatan skor literasi dan numerasi siswa. Namun sangat disayangkan kurikulum tersebut tak mampu memberantas  persoalan problematik dunia pendidikan. Dengan banyaknya output dari dunia pendidikan yang jauh dari akhlak. Bahkan lebih miris lagi melakukan tindakan maksiat, asusila maupun kriminal. 


Contohnya seperti narkoba, hamil di luar nikah. Tindakan rudapaksa oleh guru kepada muridnya, siswa perundungan antarsesama teman (bullying). Bahkan terhadap guru sekalipun, seorang siswa berani menganiaya gurunya sampai meninggal.  


Menurut hasil Asesmen Nasional 2021 dan 2022 atau Rapor Pendidikan 2022 dan 2023, sebanyak 24,4% peserta didik mengalami berbagai jenis perundungan (bullying). Dan berdasarkan info dari Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), ada 30 kasus bullying sepanjang 2023.


FSGI juga menilai sepanjang 2023, ada 46,67% kekerasan seksual terjadi di sekolah dasar. Belum lagi dengan kasus yang terjadi di lapangan yang enggan untuk melapor. (Kompas.com, 25/04/2024)


Namun amat sangat disayangkan, perayaan hari pendidikan hanya dijadikan ajang kegiatan ceremony semata. Bukan jadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas generasi di dunia nyata, dan mencari solusi dari akarnya untuk memperbaiki masalah yang terjadi di lapangan.


Walhasil, pendidikan saat ini menghasilkan peserta didik yang kurang mumpuni dari segala bidang. Baik dinilai dari sisi intelektual maupun spiritual. 


Kurikulum merdeka yang digadang-gadang mampu mencetak generasi berkualitas ternyata kurang efektif dan efisien. Sebagai kurikulum nasional, tak mampu untuk mencetak generasi yang  berkualitas, bertakwa, dan berkarakter mulia. 


Karena sejatinya pendidikan yang benar itu tidak hanya memfokuskan pada pencapaian materi semata. Akan tetapi yang terpenting adalah bagaimana generasi ini bisa terdidik sesuai dengan apa yang Allah Swt. mau, yakni taat pada syariatNya. 


Sistem pendidikan Islam teruji melahirkan generasi yang taat terhadap syariat, cerdas secara intelektual dan spiritual, beradab dan mencetak para ulama, guru, peneliti, ilmuwan yang mumpuni. Islam juga menitikberatkan sistem pendidikan yang berkualitas untuk membangun peradaban. 


Tujuan pendidikan dalam Islam jelas untuk mencetak generasi yang berkepribadian Islam, memegang teguh ideologi Islam. Menguasai ilmu-ilmu terapan (pengetahuan, ilmu, dan teknologi), dan setiap individu memiliki keterampilan yang tepat yang bermanfaat untuk kemajuan umat.  


Kurikulum dalam Islam berdasarkan akidah Islam dan berpedoman pada Al-Qur'an dan Sunnah. Seorang guru dalam kacamata Islam harus memiliki kepribadian dan akhlak yang baik, menjadi suri teladan untuk murid-muridnya. Bukan seperti tukang pos yang hanya sekadar mentransfer ilmu. Akan tetapi juga berperan dalam mendidik dan membimbing siswa untuk takut dan taat pada Rabb-Nya.  


Untuk menunjang kinerja guru yang kompeten, maka pemerintah pun melalui lembaga pendidikan seperti sekolah, selayaknya memberikan fasilitas pelatihan. Pemerintah juga menjamin kesejahteraan guru sebagai tenaga profesional dengan memberikan gaji yang layak serta cukup. 


Dahulu kala dalam sistem pemerintahan Islam, gaji guru, ilmuwan, dan penulis itu serta profesi yang bisa meningkatkan mutu pendidikan sangatlah mahal, dibanding profesi yang lain. Seperti artis dan tenaga penghibur lainnya yang justru merusak moral bangsa. 


Siswa-siswa dalam sistem Islam, diberikan pendidikan secara gratis. Karena mencerdaskan anak bangsa adalah tugas dan kewajiban negara. 


Salah satu bukti cemerlangnya output pendidikan dalam sistem pendidikan Islam yaitu lahirnya ilmuwan-ilmuwan muslim  yang cerdas dalam ilmu dunia maupun akhirat. Contohnya seperti Al-Jabbar, Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Khawarizmi, Jabir Ibnu Hayyan, dan lain sebagainya. 


Itu semua dapat terwujud dan terlaksana, jika sistem Islam tegak di muka bumi ini. Diterapkan secara kafah (menyeluruh) di berbagai aspek kehidupan. Wallahualam bissawab. [SJ]