Alt Title

Mudik Memakan Waktu: Pengorbanan di Hari Terakhir Ramadan

Mudik Memakan Waktu: Pengorbanan di Hari Terakhir Ramadan

 


Negara dengan sistem Islam akan memberikan jaminan agar rakyat dapat melaksanakan Ramadan optimal penuh khusyuk 

Sehingga buah takwa pun bisa diraih oleh masyarakat muslim di Indonesia

_________________________


Penulis Sonia Rahayu, S. Pd

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Momentum hari lebaran setahun sekali memang menjadi hari yang sangat spesial untuk umat Islam. Hal tersebut tentunya tidak luput dari lika-liku ritual mudik setiap tahunnya di berbagai negara, termasuk Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. Mudik merupakan tradisi menjelang lebaran untuk berkumpul dengan keluarga, terutama masyarakat yang tinggal jauh dari kampung halamannya.


Setelah covid-19  berlalu, kegiatan berkumpul memang tidak begitu ramai bahkan saat lebaran. Tahun 2024 mungkin menjadi momentum yang tepat untuk masyarakat Indonesia kembali ke kampung halaman setelah sekian lama. Namun tidak dapat dimungkiri juga, momentum menjelang hari lebaran juga banyak kecelakaan saat mudik maupun masalah lainnya saat menyambut lebaran.


Menurut laporan dari CNBC Indonesia, dalam perjalanan dari Jakarta dan sekitarnya menuju Merak selama musim mudik lebaran 2024, ada peningkatan yang signifikan dalam waktu tempuh. Saat ini, dibutuhkan hingga tujuh jam untuk mencapai tujuan tersebut. Salah satu titik kemacetan terbesar terjadi sebelum penumpang naik ke kapal, di mana mereka harus menghabiskan waktu antri dalam tiga jalur yang berbeda sebelum bisa masuk kapal. Antrian ini sendiri bisa memakan waktu hingga empat jam. 


Berdasarkan berita tersebut tentu bukan hal yang asing bagi masyarakat dalam menghadapi kemacetan saat mudik, bahkan saat ditelusuri dari berita CNN tersebut penyebabnya dimulai karena penumpukan antrean pemudik ke gerbang tol merak di mana Km 95 menjadi titik awal kemacetan.


Adapun kemacetan juga bisa jadi dipicu dari kabar diskon tarif TOL bisa mencapai 20 persen saat musim mudik lebaran. Berdasarkan informasi yang dirilis oleh Katadata, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono, telah memastikan adanya penurunan tarif tol selama musim mudik Lebaran 2024. Langkah ini diambil untuk memfasilitasi kelancaran arus lalu lintas dan mengurangi beban biaya perjalanan bagi masyarakat. Ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengatasi kemacetan saat musim mudik lebaran serta memperbaiki kondisi ekonomi para pemudik pada tahun 2024 ini.


Dalam berita kumparanNEWS juga diinformasikan bahwa Korlantas Polri menerapkan aturan pembatasan kendaraan angkutan barang selama masa mudik lebaran 2024. Kendaraan truk dengan sumbu 3 atau lebih dilarang melintas di jalan tol maupun arteri. Kakorlantas Polri, Irjen Aan Suhanan, menyatakan bahwa ada ratusan truk yang ditindak karena melanggar aturan tersebut. Sebanyak 200 truk telah ditindak dengan penilangan dan dikandangkan sampai tanggal 16 April. Aan juga mengimbau kepada para pengusaha untuk tidak melakukan pengiriman barang selama masa mudik, mengingat dampaknya terhadap kelancaran arus lalu lintas yang sangat besar.


Permasalahan menjelang mudik tentunya persoalan yang kompleks, mengingat keinginan masyarakat dan para penguasa untuk menggunakan infrastruktur jalan digunakan secara optimal selama menjelang lebaran karena masing-masing individu memiliki tujuan yang berbeda saat menjelang lebaran. Seperti masyarakat umum ingin kumpul bersama keluarga di kampung halaman dan pengusaha yang ingin mengoptimalisasikan keuntungan bisnis menjelang lebaran.


Peran pemerintah tentunya tidak akan luput dari persoalan tersebut, kemacetan menjadi persoalan yang normal bagi masyarakat setiap tahunnya menjelang mudik lebaran. Akan berbeda jika ditelisik setiap tahun menjelang lebaran persoalan kemacetan menimbulkan kecelakaan di jalan, bahkan ada yang melanggar peraturan pemerintah seperti pembatasan laju truk muatan di musim mudik lebaran. Hal tersebut tentunya menjadi kelalaian pemerintah dan berlindung dalam permakluman tersebut sehingga tidak menyusun langkah yang tepat. 


Pada akhirnya, masyarakat pun juga mengorbankan hari-hari terakhir Ramadan. Tidak khusyuk karena kegiatan mudik yang memakan waktu cukup lama. Sedangkan dalam sistem Islam ditetapkan bahwasanya negara wajib mengurus rakyat sesuai hukum Allah termasuk melakukan mitigasi optimal sebagai bentuk periayahan negara atas rakyat khususnya dalam hal transportasi  mudik. Negara dengan sistem Islam akan memberikan jaminan agar rakyat dapat  melaksanakan Ramadan optimal penuh khusyuk sehingga buah takwa pun bisa diraih oleh masyarakat muslim di Indonesia. 

Wallahualam bissawab. [GSM]