Alt Title

"Horor" Kemacetan Mudik: Tantangan Lebaran di Indonesia

"Horor" Kemacetan Mudik: Tantangan Lebaran di Indonesia

 


Kemacetan mudik bukan hanya menjadi masalah transportasi semata

Tetapi, mencerminkan sejauh mana negara menghargai dan menjaga kebutuhan rakyatnya

_________________


Penulis Nunung Nurjanah, S.Pd.I

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUM CAHAYA.com, OPINI - Mudik merupakan salah satu tradisi yang melekat kuat di hati masyarakat Indonesia. Setiap tahunnya, ribuan orang memilih untuk pulang ke kampung halaman untuk merayakan hari raya agung bersama keluarga tercinta. Meski, tradisi ini memiliki nilai sentimental yang tinggi. Banyak tantangan yang harus dihadapi, mulai dari harga tiket yang mahal hingga kemacetan lalu lintas yang parah.


Pada Minggu (7/4/2024), antrean kendaraan pemudik mencapai puncaknya di Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten. Kendaraan-kendaraan terpaksa mengantre sepanjang 18 kilometer. Memakan waktu hingga 10 jam untuk mencapai tujuan. Taufik, seorang sopir truk, mengungkapkan pengalamannya yang terjebak di kemacetan mulai dari KM 90 menuju Pelabuhan Merak. Ia khawatir dengan kondisi kentang sebanyak 3,2 ton yang ia bawa dari Bandung menuju Kota Bandar Jaya, Lampung, yang mungkin menjadi busuk karena terlalu lama di jalan.


Kondisi kemacetan yang luar biasa ini mendapatkan perhatian khusus dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Beliau meminta pihak terkait untuk segera menangani masalah kemacetan di beberapa titik tertentu, terutama di Pelabuhan Merak yang terkait dengan arus kendaraan bermotor di Cindawan. Dengan adanya kemacetan seperti ini, pemudik harus rela terjebak selama 15-18 jam di lokasi, sebuah pengorbanan yang cukup besar demi tradisi.


Kondisi tersebut tentunya tidak hanya pada tahun ini, lintasan penyeberangan Merak-Bakauheni selalu menjadi sorotan setiap kali musim mudik tiba. Kemacetan yang sering terjadi di sini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah infrastruktur dermaga yang tidak mencukupi. Sehingga kapal feri sulit untuk beroperasi dengan maksimal. Rencana penambahan dermaga yang sudah lama disusun tampaknya belum pernah terealisasi, menambah daftar panjang masalah infrastruktur transportasi di Indonesia.


Sebagai perbandingan, Umar bin al-Khaththab ra., seorang pemimpin yang sangat bertanggung jawab, percaya bahwa kerusakan infrastruktur dapat menjadi tanggung jawab di akhirat. Pembangunan infrastruktur dalam perspektif Islam memiliki prinsip-prinsip yang jelas: tanggung jawab negara dalam pembangunan, perencanaan wilayah yang efisien, dan penerapan teknologi terkini. Ini tercermin dalam sejarah Islam, seperti pembangunan jalan di Baghdad dan proyek "Hejaz Railway" oleh Khilafah Utsmaniyah, yang mengingatkan kita akan pentingnya infrastruktur yang berkualitas untuk keamanan dan kesejahteraan rakyat.


Namun, di Indonesia, infrastruktur transportasi masih jauh dari kata ideal. Meski, sejarah menunjukkan bagaimana pemimpin Islam memprioritaskan kesejahteraan rakyat. Pada kenyataannya, kemacetan dan ketidaknyamanan transportasi menjadi masalah yang belum terselesaikan. Mitigasi dan langkah antisipasi yang seharusnya ada seringkali gagal, dan masyarakat tampaknya terbiasa dengan kondisi ini, menganggapnya sebagai kelalaian negara.


Sebagai negara dengan mayoritas penduduk dan memiliki pemimpin beragama Islam, Indonesia seharusnya menjalankan tanggung jawabnya untuk memberikan layanan transportasi yang aman dan memadai bagi rakyatnya, terutama dalam momen-momen istimewa seperti Lebaran. Perlu adanya komitmen yang kuat dari pemerintah untuk meningkatkan kualitas infrastruktur transportasi. Sejalan dengan ajaran Islam yang mengutamakan kesejahteraan dan keadilan bagi semua.


Bagi banyak pemudik, perjalanan mudik yang seharusnya menjadi momen kebersamaan dan kekhusyukan menjelang akhir Ramadan, berubah menjadi pengalaman yang "horor" karena kemacetan dan ketidaknyamanan. Sebagai negara yang berlandaskan prinsip Islam, pemimpin seharusnya menjalankan tugasnya untuk mengurus rakyat sesuai dengan hukum Allah, termasuk dalam hal transportasi mudik. Negara harus memberikan jaminan agar rakyat dapat melaksanakan ibadah puasa dan merayakan Lebaran dengan khusyuk dan nyaman, sehingga dapat meraih buah takwa yang diharapkan. 


Kesimpulannya, kemacetan mudik bukan hanya menjadi masalah transportasi semata. Tetapi, mencerminkan sejauh mana negara menghargai dan menjaga kebutuhan rakyatnya, khususnya dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadan dan merayakan Lebaran. Diperlukan langkah konkret dan komitmen yang kuat dari pemerintah untuk meningkatkan kualitas layanan transportasi dan infrastruktur, sehingga tradisi mudik dapat berjalan dengan lancar dan nyaman bagi semua pemudik. Wallahualam bissawab. [Dara]