Alt Title

Remaja Pembunuh Satu Keluarga, Bukti Sistem Sesat yang Terus Menyesatkan

Remaja Pembunuh Satu Keluarga, Bukti Sistem Sesat yang Terus Menyesatkan

 


Kondisi ini jelas sangat beda dengan situasi di sistem serba bebas sekarang ini. Alih-alih menjadi pemimpin dan pewaris negara, bahkan mengurusi masalah sendiri saja tidak selesai

Mental anak dan remaja sangat mengenaskan. Wajar kalau ada siswa menjadi minder atau bahkan sadis hingga tega membunuh

__________________


Penulis Fitri Andriani, S. S.

Kontributor Media Kuntum Cahaya, aktivis Pemerhati Sosial dan Penggerak Literasi


KUNTUMCAHAYA.com, ANALISIS - Indonesia dalam beberapa pekan ini kembali dihebohkan oleh remaja belum genap 17 tahun (J) membunuh satu keluarga dan memperkosa dua wanita dewasa korbannya. Sesaat sebelumnya dia menegak miras dengan teman-temannya hingga mabuk. Pelaku masih berstatus siswa SMK. Menurut pengakuan korban, dia menyukai anak pertama tetangganya yang berusia 15 tahun (R). Ternyata R menolak cintanya. Namun menurut masyarakat sekitar, keluarga tersebut sering bertengkar sehingga menimbulkan dendam kepada korban. Dikutip dari berita online (kompas.com., 03/08/2024).


Pembunuhan oleh remaja ini bukan kasus pertama. Banyak kejadian kekerasan yang dilakukan oleh remaja. Sepanjang tahun awal tahun 2024 sudah ada puluhan kasus kejahatan dilakukan remaja. Mulai dari membunuh, memperkosa, hingga mencuri dan membuli. 


Ada apa dengan generasi penerus bangsa ini? kenapa berbagai bentuk kejahatan menghiasi kehidupan mereka? siapa saja penyumbang kesalahan pola asuh pendidikan mereka? Di mulai dari lingkungan keluarga. Seperti remaja pembunuh, keluarganya kerap berantem dan bermasalah dengan keluarga korban. Padahal dari masyarakat, diketahui bahwa keluarga korban yang dibunuh banyak orang yang melayat jenazahnya karena mereka keluarga yang baik. Artinya, keluarga korban di masyarakat memang sering berbuat baik. Kenapa keluarga harus baik dulu untuk menghasilkan anak yang baik? Karena sekolah pertama anak adalah dari keluarga, terutama ibunya. Kalau keluarga sudah mewariskan ilmu yang salah, bagaimana akan baik di luar rumah?


Lalu harus ada masyarakat yang baik untuk mengontrol individu agar baik. Kenapa ini penting? Karena kalau masyarakat buruk, pengaruh terdekat individunya adalah keburukan. Dan jika baik masyarakatnya, kemungkinan individunya akan mendapatkan contoh baik setiap hari. Masyarakat yang baik akan mengingatkan dan mengajarkan yang baik kepada individu masyarakat yang ada di dalamnya. 


Dalam negara, sistem yang digunakan akan sangat berpengaruh pada masyarakat. Karena, sistem itu yang menjadi patokan dan panduan masyarakat. Bagi negara yang menganut sistem kebebasan atau disebut sistem liberal akan mencetak generasi lemah iman, akhlak dan mental. Yang penting punya ijazah untuk siap kerja. Bukan generasi militan yang berakidah kuat, berakhlak Islam, pemikiran tajam dan ilmu yang mumpuni. Memang itu, tujuan pendidikan di sistem liberal.


Sekolah dibuat mahal agar bisa maksimal menghasilkan uang. Lalu, siswa yang stres karena terlalu banyak dijejali materi pelajaran menjadi siswa pemberontak. Ada juga korban bully dari teman sekolah, depresi tak jarang bunuh diri. Banyak sekarang yang putus sekolah dan nikah sebab pergaulan bebas sampai hamil. Rusak sudah masa depan dan moral remaja. Bila dikoreksi individunya menolak dengan alasan hak asasi.


Bandingkan dengan negara yang menjalankan sistem Islam. Setiap keluarga akan membina anak-anak mereka dengan akidah yang lurus, adab yang baik sebelum berinteraksi di lingkungan masyarakat. Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Ayah adalah penanggung jawab dunia akhirat bagi keluarganya. Sehingga, ketika keluar rumah, anak akan bermental kuat, juga berakhlak baik. Bila keluar rumah, akan bertemu dengan masyarakat yang mempunyai prinsip sama, saling mengoreksi karena keimanan.


Tentu, bagi negara yang menggunakan sistem Islam akan menjalankan sistem pendidikan Islam. Siswa akan mendapatkan tsaqafah Islam sejak dini. Dari pendidikan awal atau dasar diberi pendidikan akidah yang kuat. Sehingga ketika mendapat masalah, mereka bisa kembali kepada Islam dan solusinya menurut perintah Allah serta menjauhi laranganNya.


Akan ada jenjang pendidikan sesuai usia. Jenjang ini akan memudahkan dalam memberikan materi tsaqafah lain kepada siswa agar siap ketika akidahnya sudah kuat. Selain negara akan mengratiskan biaya pendidikan, menyediakan seluruh sarana pendidikan dan gaji yang sangat cukup kepada para guru. Sehingga, guru fokus mencerdaskan dan membina siswanya menjadi generasi hebat secara ilmu, kuat akidahnya, taat kepada TuhanNya. Siswa dan orangtua tidak perlu pusing dengan biaya sekolah dan bisa fokus belajar menjadi generasi kuat iman dan ilmunya. Wajar kalau generasi Islam ketika masih menjadi mercusuar peradaban dahulu, pemudanya hebat dalam aqidah dan akhlak juga tsaqafah lainnya. Mental mereka kuat, mampu menjadi pemimpin dan pewaris negara. 


Kondisi ini jelas sangat beda dengan situasi di sistem serba bebas sekarang ini. Alih-alih menjadi pemimpin dan pewaris negara, bahkan mengurusi masalah sendiri saja tidak selesai. Mental anak dan remaja sangat mengenaskan. Wajar kalau ada siswa menjadi minder atau bahkan sadis hingga tega membunuh. 


Masalah lainnya adalah tidak tegasnya hukum di Indonesia. Andai membunuh jiwa yang dijamin adalah dengan jiwa juga, maka membunuh mungkin akan sangat mengerikan. Namun, hukum yang cenderung tajam ke bawah dan tumpul ke atas, membuat pelaku pembunuhan dan perkosaan tidak ada efek jera. Dipenjara saja hanya akan menambah masalah bagi negara, sel penuh, harus banyak narapidana yang diberi makan. Artinya, harus memsubsidi bagi orang jahat.


Memperkosa hanya akan ada pada sistem yang membebaskan pergaulan laki-laki serta perempuan tanpa batasan. Di mana, sikap bebas berperilaku hanya akan menimbulkan nafsu manusia yang tidak ada batasnya. Namun, menikah tidak mampu. Karena, laki laki dan perempuan fitrahnya saling tertarik, seharusnya ada pemisahan wanita dan laki laki.


Mereka bisa berinteraksi ketika ada kebutuhan yang dibolehkan secara hukum Allah. Misalnya, pendidikan dan pengajaran, pengobatan jual beli, dan proses hukum. Laki-laki dan wanita bisa bertemu dengan adab yang baik dan menutup aurat. Sistem Islam juga mengatur dengan jelas hal ini. Kasih sayang laki-laki dan perempuan bisa disalurkan hanya dengan pernikahan. Selebihanya, diharamkan oleh Allah. Dan sudah pasti membahayakan bila dilanggar. 


Kondisi pemuda saat membunuh kelima korbannya sedang dalam pengaruh miras (minuman keras). Mudahnya mendapatkan miras dan kebiasaan mabuk di masyarakat merupakan hasil dari buah kekebasan hidup. Akhirnya, yang haram diterobos sehingga merusak akal manusia. Membunuh makhluk bernyawa tanpa rasa belas kasihan termasuk dari rusaknya akal pikiran. Tentu, karena sistem sudah merusak rasa keimanannya kepada Allah. Sehingga, tidak merasa berdosa mencabut nyawa dengan semena-mena.


Sistem Islam telah sempurna dan paripurna. Terlalu sempurna sehingga kesalahan terbesar manusia untuk membuat tata aturan lain dibanding aturan islam yang dibuat boleh Pencipta Bumi, langit dan seisinya. Sebagaimana Rasulullah mendakwahkan Islam ketika di Makah dan di Madinah. Kemudian, Islam sampai ke relung setiap penduduk Madinah sehingga Islam menjadi sistem kehidupan secara kafah (keseluruhan) bagi penduduk Madinah.


Hingga berabad-abad lamanya Islam menjadi mercusuar peradaban dunia. Lebih dari dua pertiga dunia menjadi satu dalam naungan Islam kafah. Namun, hancur di tangan Kemal Attatruk di tahun 1924 menjadi Republik. Setelah itu hingga sekarang Islam dipisahkan oleh nasionalime dan menjadi serpihan-serpihan kecil kekuatan yang tertidur lelap. 


Mari kita kembali meneladani seluruh risalah Nabi saw. dalam kehidupan kita. Termasuk di antaranya menyampaikan pada masyarakat bahwa Islam adalah sistem buatan Allah yang harus diterapkan kembali secara keseluruhan agar permasalahan hidup memiliki solusi tuntas dan keberkahan bagi seluruh alam. Wallahualam Bissawab. [Dara]