Alt Title

Harga Beras Terus Melambung, Apa Penyebabnya?

Harga Beras Terus Melambung, Apa Penyebabnya?

 


Dalam rangka memenuhi kekurangan pasokan, negara lalai dalam menggenjot produksi

Di antaranya dengan dibiarkannya alih fungsi lahan pertanian secara masif. Di mana konversi lahan dijalankan atas nama proyek strategis nasional. Bagi rakyat, proyek ini minim sekali kemanfaatannya

______________________________


Penulis Ummu Najmi

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Kenaikan harga beras yang terus-menerus, membuat rakyat makin sulit untuk mendapatkannya. Padahal beras merupakan kebutuhan pokok rakyat di negeri ini.


Menurut pemberitaan CNBC, harga beras melambung pada setahun terakhir ini. Kenaikan tersebut mencapai 20% dari sebelumnya. Apakah kenaikan tersebut bisa turun kembali hingga ke level 10.000 atau 11.000 per kg untuk beras medium?


Adapun menurut Badan Pangan Nasional (Bappanas) Arief Prasetyo Adi, menilai bahwa jika harga beras kembali turun ke level 10.000 untuk beras medium, maka para petani akan menangis dikarenakan harga gabah akan mengalami tekanan ke bawah pula. Anggapannya pada saat ini petani sedang merasa bahagia, setidaknya dapat bernapas lega karena harga gabah tidak ditekan murah.


Menurut Arief kalau harga beras turun ke 10.000 kasihan petani. Jadi sudahlah karena sekarang sudah baik kenapa harus ditekan lagi? Menurutnya harga beras tergantung pada harga gabah, maka jika harga beras turun maka harga gabah akan turun lagi, kata Arief kepada CNBC, Jumat (5/1/2024)


Terkait harga pada dasarnya pasar yang menentukan, tetapi bagaimana agar kenaikan harga beras tidak menguntungkan sepihak. Di sisi lain di saat harga beras mengalami kenaikan yang terus menerus petani mendapat keuntungan, di sisi lain rakyat justru sulit untuk memenuhi kebutuhannya.


Tambal sulam aturan kapitalis tidak pernah menyentuh akar masalah justru memunculkan masalah baru, yang ujungnya rakyat jadi korban. Aturan yang diterapkan juga hanya menguntungkan segelintir orang atau oligarki.


Adanya kenaikan harga beras ini membuktikan bahwa ada kelalaian dari negara dalam urusan pangan, sehingga akibatnya rakyat mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pokok tersebut.


Harga beras yang dirasakan bertahan lebih dari setahun ini adalah waktu yang panjang kesulitan yang dihadapi rakyat untuk mendapatkannya. Sedangkan negara menunjukkan ketidakseriusannya dalam menangani urusan pangan ini.


Dalam rangka memenuhi kekurangan pasokan, negara lalai dalam menggenjot produksi. Di antaranya dengan dibiarkannya alih fungsi lahan pertanian secara masif. Di mana konversi lahan dijalankan atas nama proyek strategis nasional. Bagi rakyat, proyek ini minim sekali kemanfaatannya.


Kemudian petani pun mengalami kesulitan dalam mendapatkan sarana produksi padi yaitu pupuk, benih dan lain sebagainya. Bahkan anggaran untuk pupuk itu sendiri makin dikurangi. Kegagalan yang lain adalah memitigasi perubahan cuaca, sehingga terjadi gagal panen yang dirasakan oleh petani di mana-mana.


Dalam distribusi pun terlihat pula kelalaian yaitu terjadinya lonjakan harga yang sangat tidak wajar. Walaupun negara telah melakukan impor untuk memenuhi pasokan beras. 


Beginilah sistem kapitalis yang punya peran besar dalam memainkan harga sehingga para korporasi atau pedagang besar dapat berbuat sesukanya dalam mengendalikan harga beras ini. Yang penting dapat untung besar, sedangkan pemerintah sangat minim sekali terhadap pasokan pangan.


Di samping itu, abai dalam memutus rantai perniagaan yang menyimpang dari ketentuan yang seharusnya. Di sini terlihat sekali peran negara hanya sebatas regulator dan fasilitator. Sedangkan tugas sebagai pelayan umat tidak bisa dijalankannya. Sehingga rakyat tidak merasakan kehadiran negara. Maka hal ini menjadi peluang bagi para korporasi untuk menguasai usaha pertanian pangan.


Islam dapat menjamin kebutuhan pokok, setiap individu rakyat bisa memenuhi kebutuhannya dengan mudah. Di mana dalam kepemilikan harta harus sesuai dengan batasan syariat, sehingga privatisasi aset publik tidak akan terjadi. Di antaranya yang terkait dengan kepemilikan lahan.


Distribusi kekayaan kepada seluruh rakyat pun akan diatur sesuai denga syariat, yaitu dengan memakai sistem mata uang berbasis emas dan perak. Sehingga sistem ekonomi yang stabil akan bisa direalisasikan.


Negara akan melakukan pengaturan lahan sesuai syariat Islam, termasuk di dalamnya menghidupkan tanah mati, pemilik tanah harus mengelolanya, juga larangan untuk menyewakan lahan pertanian.


Negara akan berusaha mengoptimalkan lahan pertanian dengan cara memberikan bantuan kepada petani. Distribusi pun akan dijaga agar tidak terjadi distorsi harga, dan cadangan pangan pun akan dilakukan oleh negara secara berdaulat sesuai syariat. 


Begitulah dalam Islam, begitu sempurnanya dalam menyediakan kebutuhan pokok rakyat. Sehingga rakyat tidak akan merasa berat dalam memenuhi kebutuhan pokoknya. Wallahualam bissawab. [SJ]