Alt Title

Negara Abai, Stockpile Batubara Ancam Kesehatan Warga

Negara Abai, Stockpile Batubara Ancam Kesehatan Warga

Negara kerap kali abai terhadap dampak yang ditimbulkan oleh industri terhadap masyarakat

Buktinya kasus keluhan stockpile ini belum juga ditangani. Sudahlah ruang hidup terampas, kesehatan harus terancam pula

______________________________


Penulis Putri Efhira Farhatunnisa 

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pegiat Literasi di Majalengka



KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Perampasan ruang hidup masyarakat memang kerap kali terjadi. Perindustrian yang masif dibangun tak jarang memberikan dampak negatif kepada masyarakat. Salah satunya adalah limbah yang mengganggu warga sekitar dan mengancam kesehatan mereka. Seperti debu dari aktivitas stockpile (penimbunan) batubara di Kelurahan Waylunik, Kecamatan Panjang, Bandar Lampung.


Warga mengeluhkan sesak napas dan perih mata yang dipicu oleh debu stockpile batubara. Warga menuntut untuk menangani limbah ini agar sesuai kesepakatan sebelum dibangunnya perusahaan, namun belum juga mendapat respon dari pihak perusahaan. Pihak pemerintahan pun belum melakukan tindakan apa pun atas keluhan warga ini. (news[dot]republika[dot]co[dot]id, 23/12/2024)


Menghirup debu stockpile batubara yang mengandung bahan kimia secara terus menerus pasti akan menimbulkan masalah kesehatan. Hal ini dialami oleh pekerja, penduduk sekitar, hingga pengguna kawasan lalu lintas pengangkutan batubara tersebut. Sudah seharusnya masalah ini mendapat perhatian yang baik dari negara.


Kapitalisme Penyebabnya


Sayangnya negara kerap kali abai terhadap dampak yang ditimbulkan oleh industri terhadap masyarakat. Buktinya kasus keluhan stockpile ini belum juga ditangani. Sudahlah ruang hidup terampas, kesehatan harus terancam pula.


Negara membuat regulasi yang menguntungkan bagi pengusaha, namun bagai buah simalakama bagi rakyatnya. Inilah yang terjadi saat sistem kapitalisme yang diambil oleh negara untuk menjalankan perannya. 


Negara hanya regulator bagi para pengusaha untuk meluaskan bisnisnya. Miris, namun memang itu fakta yang terjadi sekarang ini. Masyarakat tak lagi menjadi yang utama melainkan para pemilik modal.


Terlihat jelas dari kedudukan para kapital yang lebih disayangi ketimbang rakyat yang seharusnya rakyat itu ibarat tuan. Ya, tepatnya masyarakat adalah tuan bagi pemerintah atau seorang penguasa.


Mereka yang duduk di kursi pemerintahan itu kedudukannya sebagai pelayan. Sudah seharusnya melayani rakyat dengan bersungguh-sungguh, sebagaimana seorang pelayan melayani tuannya. Berbeda dengan kondisi sekarang, status tuan berada pada pemilik modal/pengusaha. Lalu rakyat secara tidak langsung diminta untuk mengurusi urusannya sendiri.


Status 'Tuan' dalam Islam


Berbeda dengan Islam yang menjadikan penguasa sebagai raa'in (pengurus) yang berkewajiban untuk melayani. Rakyat akan dilayani sebaik mungkin oleh penguasa dalam Islam, karena kedaulatan di tangan Allah dan itulah yang Allah perintahkan. Islam menjadi pengurus dan pelindung masyarakat yang berada di bawah naungannya, baik muslim maupun nonmuslim.


“Imam adalah raa'in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR. Al-Bukhari).


Penguasa Islam pun paham atas tanggung jawabnya, di mana ia akan ditanya tentang tanggung jawab tersebut kelak di hari akhirat. Maka menjadi pemimpin dianggap sebagai suatu amanah yang sangat berat, sehingga tidak ada yang berlomba-lomba dengan menghalalkan segala cara demi kursi jabatan tersebut. 


Tidak pula ada intervensi dari pihak lain karena dalam Islam tidak ada biaya kontestasi seperti sekarang ini. Sistem Islam di setiap aspek akan saling mendukung untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, sehingga penguasa akan berfokus pada kepentingan rakyat. Dan terpenuhinya kebutuhan rakyat pun akan menjadi mudah.


Jangankan membahayakan kesehatan warga dengan sengaja seperti kasus stockpile ini. Kesehatan setiap harinya pun diperhatikan dengan digratiskannya pelayanan kesehatan. Keamanan dan kebutuhan masyarakat akan terjamin. Hal ini bisa terjadi karena mekanisme yang tepat dalam Islam. 


Begitulah Islam yang akan mengedepankan kepentingan dan kebutuhan rakyat. Sehingga "Islam Rahmatan Lil 'Alamin" dapat terwujud. Sistem Islam dengan mekanisme yang tepat akan membuatnya menjadi sistem yang independen tanpa bisa di otak-atik oleh siapa pun. Karena kedaulatan hanya milik Allah semata. Wallahu alam bissawab. [SJ]