Alt Title

Nasihat Pernikahan

Nasihat Pernikahan

Artinya, dalam rumah tangga tetap dituntut fokus bertujuan ibadah, jangan tertipu dengan budaya nikah sekadar melepas lajang atau bujang saja

Tetapi pikirkan kehidupan selanjutnya yakni berjuang bersama menuju rida Allah Ta'ala

____________________________


Penulis Ummu Bagja Mekalhaq 

Kontributor Media Kuntum Cahaya 



KUNTUMCAHAYA.com, INSPIRASI - Adapun tujuan nikah untuk melanjutkan keturunan, membentuk generasi terbaik, menjadikan generasi setelah kita pelanjut sujud, membumikan Al-Qur'an, menjadikan Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup dan pengatur semua kehidupan. 


Tujuan nikah bukan sekadar bermodalkan kekuatan fisik, tetapi terpenting lagi harus bermodalkan kekuatan mental spiritual.


Nikah itu bukan sekadar berbekal kekuatan harta atau ekonomi. Bukan pula sekadar kekuatan dorongan biologis, tetapi nikah menuntut kedewasaan bertanggung jawab untuk menjadi pemimpin dalam keluarga yang akan dibina.


Nikah pun bukan sekadar ingin mengecap rasa bahagia, meskipun rasa bahagia itu yakin ada tetapi tak selamanya. 


Kebahagiaan saat nikah memang sangat terasa, terpenuhinya kebutuhan kasih sayang dari pasangan, terpenuhinya kebutuhan hidup sandang, pangan dan papan. Namun bukan sekadar itu yang menjadi tujuan, tetapi ketenangan lahir dan batinlah yang sangat diidamkan.


Hanya saja, dalam menggapai ketenangan lahir dan batin tersebut, perlu diperjuangkan agar benar-benar keluarga samawa bisa terwujud.


Untuk itu, perlu berbekal: 


1. Keimanan yang kuat

2. Beramal saleh

3. Saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran 


Adapun dalam tata cara pelaksanaan ketiga poin tersebut butuh ilmu. Untuk meningkatkan keimanan butuh ilmu. Dengan cara sering mendatangi majelis ilmu, bisa juga via bacaan buku-buku, atau memiliki guru.


Dalam pernikahan adanya aktivitas amal saleh sesuai tuntutan Al-Qur'an dan Sunnah yang jelas yang dicontohkan Rasulullah saw.. Begitu pula terkait saling menasihati terdapat amar makruf nahi mungkar yang mestinya berjalan terus dalam kehidupan rumah tangga. 


Itulah jalan yang harus ditempuh agar rumah tangga awet, bahagia dan samawa. Tanpa berbekal iman, amal saleh dan saling nasihat tentu rumah tangga takkan langgeng, cepat bosan, bisa jadi kandas di tengah jalan. Nauzubillahi min zalik.


Tanpa berbekal amal saleh tentu tidak ada kebaikan didalamnya. Tanpa ada saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, tentu rumah tangga gagal.


Artinya, dalam rumah tangga tetap dituntut fokus bertujuan ibadah, jangan tertipu dengan budaya nikah sekadar melepas lajang atau bujang saja. Tetapi pikirkan kehidupan selanjutnya yakni berjuang bersama menuju rida Allah Ta'ala. 


Jadikan sikap rida di setiap qada yang Allah beri adalah ujian dalam kehidupan rumah tangga. Karena rumah tangga sejatinya ujian bersama yang harus dilalui bersama, baik suka ataupun duka.

 

Nikah sejatinya perbaikan diri, menjaga diri dari nafsu angkara yang setan hembuskan dalam jiwa-jiwa Adam dan Hawa. Nikah sejatinya harus mampu memperbaiki diri dan keluarga, menjaga diri dan keluarga dari kobaran api neraka.


Firman Allah dalam surah  At-Tahrim ayat 6, "Hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ...." 


Nikah sejatinya mampu menjaga diri. Untuk itu selalu memperbaiki diri, tidak bosan berguru kepada yang berilmu. Nikah sejatinya harus mampu menjaga keluarga, artinya seorang suami pun dituntut mampu menjaga kesucian dan kemuliaan istrinya. 


Sebaliknya, seorang istri pun harus mampu menjaga diri saat suami tiada di rumah. Artinya ada sinergi berlomba dalam kebaikan baik suami ataupun istri. Nikah pun, sejatinya menjadikan luasnya kekerabatan. Mengakrabkan dua keluarga besar dalam ikatan pernikahan.


Tentu tidak mudah jika tidak diniatkan ibadah. Karena alaminya permasalahan itu terkadang datang dari keluarga terdekat ataupun keluarga besar. Jika datang masalah melanda, fokuslah pada solusi, yakni jangan panik saat ada masalah. 


Cari tahu kenapa masalah ini terjadi. Karena setiap masalah ada sebab dan akibat. Setelah jelas masalahnya, fokus solusinya dikembalikan kepada aturan Allah Ta'ala. Artinya, setiap permasalahan ada solusinya dalam Islam. 


Akhirnya di setiap permasalahan atau ujian yang silih berganti mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. "Minta tolonglah dengan sabar dan salat. Sesungguhnya sabar dan salat itu berat, kecuali bagi orang yang khusyuk." (QS. Al-Baqarah: 45)


Terakhir, Karena nikah itu ibadah, pastilah setiap ibadah ada halangan, gangguan dan rintangan. Maka  fokuslah kepada Allah untuk selalu mohon pertolongan dan perlindungan. Wallahualam bissawab. [SJ]