Alt Title

Mengais Asa di Bumi Palestina

Mengais Asa di Bumi Palestina

Kesempatan untuk melakukan jihad bagi kaum muslimin saat ini sulit untuk direalisasikan

Upaya untuk membela warga Palestina pupus sudah. Terhalang oleh paham nasionalisme. Jihad fi sabilillah hanya bisa terwujud jika negara menerapkan sistem Islam secara kafah

________________________________________


Penulis Tinah Ma'e Miftah

Kontributor Tetap Media Kuntum Cahaya dan Pegiat Literasi AMK



KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - "Kehadiran saya di sini untuk membela kemanusiaan. Indonesia mengutuk sekerasnya kekerasan yang dilakukan Israel terhadap Palestina termasuk serangan terhadap rumah sakit dan tempat ibadah di Gaza. Pembunuhan, penculikan dan hukuman kolektif atas warga sipil tanpa pandang bulu harus dikecam karena tidak manusiawi dan melanggar hukum Internasional." Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Palestina.  (CNBC Indonesia[dot]com, 26-10-2023)


Melalui peryataan Menlu (Menteri Luar Negri) Retno Marsudi, Indonesia mengutuk keras serangan yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina. Ia juga mendesak agar majelis umum PBB mengambil tindakan nyata "3 plus 1" yakni: Pertama, hentikan agresi untuk menghindari lebih banyak korban sipil. Kedua, Majelis Umum harus mendesak Israel untuk membuka pintu bantuan kemanusiaan ke Gaza. Dan ketiga, menolak pemindahan paksa warga sipil Gaza untuk melindunginya.


Israel telah melakukan penyerangan serta pembantaian terhadap warga Gaza Palestina sejak 7 Oktober lalu. Serangan yang membabi buta, menewaskan lebih dari 7000 warga Palestina, yang sebagian besar dari mereka adalah anak-anak. Video dan foto yang menggambarkan kekejaman Zionis Israel kini berseliweran. Banyak korban berjatuhan dengan keadaan yang memprihatinkan. Ada yang kepalanya pecah, muka berlumuran darah, kaki putus, tangan putus. Bayi-bayi mati. Bahkan beberapa diantaranya terlihat dengan kepala terpisah dari badannya. Semua menggambarkan betapa kejamnya Zionis Yahudi. 


Sayangnya, para penguasa negeri-negeri muslim hanya diam menyaksikan pembantaian keji Israel terhadap kaum muslimin tersebut. Mereka menolak melihat kenyataan bahwa korbannya adalah saudara kita, saudara seiman. Bukankah kaum muslimin itu seluruhnya bersaudara? Ibarat satu tubuh, jika satu anggota tubuh terluka maka anggota tubuh yang lain ikut merasakan sakitnya. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw:

"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, menyayangi, mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga ( tidak bisa tidur) dan panas ( ikut merasakan sakit)." (HR. Bukhari dan Muslim)


Diamnya para penguasa negeri-negeri muslim termasuk Indonesiaq karena paham nasionalisme. Para penguasa hanya memikirkan negerinya masing-masing. Kalau ada tindakan, hanya sekedar mengutuk dan mengecam keras. Bahkan, tetap menjalin hubungan bilateral dengan Israel. Mereka tak peduli melakukan pembelaan terhadap warga Palestina meski terjadi berulang kali. Tak terhitung lagi berapa darah kaum muslimin yang ditumpahkan oleh Zionis Yahudi sejak 75 tahun lalu.


Mengharapkan penyelesaian persoalan Palestina kepada PBB, sebagaimana yang disampaikan oleh Menlu Retno Marsudi merupakan bentuk kesia-siaan. Ibarat punuk yang merindukan bulan, artinya tak akan pernah  terwujud sampai kapanpun. Karena PBB yang mensponsori berdirinya negara Israel. Bersama Inggris, PBB memberi tempat bagi entitas Yahudi Israel untuk menjadi sebuah negara yang setara dengan negara-negara lain di dunia. Wajar, seakan mendapat dukungan, mereka terus melakukan pembantaian terhadap warga Palestina. Tujuannya untuk mengusir warga Palestina demi memperluas wilayah negaranya.


Satu-satunya cara untuk membebaskan saudara-saudara kita di Palestina adalah dengan jihad fi sabilillah. Mengusir penjajah Israel dari bumi Palestina. Sebagaimana Allah Swt. perintahkan di dalam Al-Qur'an. Allah Swt. berfirman: "Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS. Al-Baqarah (2): 190)


Sejatinya, serangan terhadap sebagian kaum muslimin pada dasarnya merupakan serangan terhadap kaum muslimin secara keseluruhan. Karena itu menolong warga Palestina merupakan sebuah kewajiban bagi kaum muslimin di seluruh dunia. Sebagaimana Rasulullah Saw menjelaskan keutamaan jihad dalam sabdanya: "Berjaga-jaga satu jam di medan jihad fii sabilillah adalah lebih baik daripada menghidupkan Lailatul Qodar di dekat Hajar Aswad." (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi)


Namun sayang, kesempatan untuk melakukan jihad bagi kaum muslimin saat ini sulit untuk direalisasikan. Upaya untuk membela warga Palestina pupus sudah. Terhalang oleh paham nasionalisme. Jihad fi sabilillah hanya bisa terwujud jika negara menerapkan sistem Islam secara kafah. Hanya negara dengan sistem Islam yang dipimpin oleh seorang Khalifah yang bisa mengayomi, menjaga kaum muslimin. Baik kehormatan, keamanan serta wilayah tempat tinggalnya. Khalifah dengan gagah berani memimpin pasukan untuk menolong dan membebaskan kaum muslimin yang tertindas. Sesuai Sabda Rasulullah saw.: "Imam( Khalifah) itu laksana perisai; kaum muslim berperang di belakang dia dan dilindungi oleh dirinya." (HR. Muslim)


Saatnya kita sebagai seorang muslim harus lebih semangat, lebih giat dalam berdakwah memperjuangkan tegaknya kembali negara dengan sistem Islam. Hanya dengan perjuangan dan kesungguhan kita, sistem tersebut akan kembali tegak. Wallahualam bisssawab. [Dara]