Alt Title

Karakter Khas Buah Penerapan Sistem

Karakter Khas Buah Penerapan Sistem

 


Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk sosial. Hanya saja, penerapan sistem yang mengubah cara pandang hidup dan berpikir masyarakat sehingga tak sesuai fitrahnya

Dari sana, kemudian terbentuk  pola sikap yang ditampilkan sehingga memiliki karakteristik yang khas. Penerapan sistem sekuler kapitalis, membuat masyarakat menjadi individualisme


______________________


Penulis Nur Indah Sari

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Hari Kamis lalu (7/9/2023), CNN Indonesia mengabarkan seorang ibu berusia 64 tahun dan anaknya 38 tahun ditemukan sudah tak bernyawa dalam kondisi tinggal kerangka di Kamar mandi rumahnya yang berdomisili daerah perumahan elit Cinere Depok. 


Penemuan terjadi ketika warga sekitar merasa curiga tidak pernah melihat keduanya dalam waktu satu bulan terakhir. Suasana rumah itu dalam keadaan gelap. Kecurigaan tersebut di buktikan oleh warga yang berinisiatif mengecek keadaan rumah. Akhirnya, warga menemukan tuan rumah itu sudah tak bernyawa. Dalam kasus tersebut polisi mengatakan tidak ada unsur pidana yang terjadi.


Hal ini mengingatkan kembali akan peristiwa serupa yang terjadi di Kalideres, Jakarta Barat. Yakni kasus ditemukannya satu keluarga tewas tak bernyawa yang jasadnya telah rusak pada November 2022. Mengapa kasus kelam tersebut kini makin sering terjadi?


Dikutip dari Tempo[dot]co, kriminolog Andrianus Elasta Semiring Meliala mengatakan bahwa kasus yang terjadi selama ini mengalami kesamaan, yakni Keluarga tersebut bersikap tertutup dan tidak berinteraksi dengan tetangga. Hal ini mencerminkan karakter masyarakat yang kurang peduli dengan lingkungan dan hubungan dengan tetangga.


Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk sosial. Hanya saja, penerapan sistem yang mengubah cara pandang hidup dan berpikir masyarakat sehingga tak sesuai fitrahnya. Dari sana, kemudian terbentuk  pola sikap yang ditampilkan sehingga memiliki karakteristik yang khas. Penerapan sistem sekuler kapitalis, membuat masyarakat menjadi individualisme.


Kepedulian terhadap orang lain dianggap sebagai mencampuri urusan orang lain. Sistem ini telah mengubah cara pandang kehidupan dalam berinteraksi sosial. Sayangnya, Negara abai dalam kerusakan yang ditimbulkan dan mempertahankan sistem rusak ini. 


Sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan menetapkan standar liberalisme (kebebasan) sebagai standar berperilaku masyarakat, sehingga tiap orang bebas menentukan sikap dan perbuatan yang diinginkan termasuk antisosial. Negara tidak akan mempermasalahkan hal tersebut, bahkan melindungi sebagai bagian dari realisasi hak asasi manusia. Jika sudah begini bukan tidak mungkin kita akan menemukan kasus serupa lagi.


Standar kebahagiaan dalam sistem sekuler ini yang dikejar adalah kepemilikan materi. Inilah yang terjadi di masyarakat berlomba untuk mengejar kepuasan materi. Yang tidak memiliki materi dianggap tidak selevel atau dalam kata lain ada tingkatan strata dalam penerapan sistem sekuler ini. 


Asas hubungan antar manusia dalam sistem sekuler adalah manfaat, jika tidak ada manfaatnya tidak akan terjadi hubungan antar manusia. Maka, dalam kasus yang terjadi tidak ada hubungan tolong menolong antar sesama dan saling berempati.


Islam sesuai fitrah manusia


Islam menjadikan kepedulian terhadap tetangga adalah kewajiban yang merupakan cerminan dari akhlak yang baik bahkan kepada tetangga yang nonmuslim. Asas yang dibangun dalam perbuatan adalah rida Allah. Kedudukan semua manusia sama tidak ada tingkatan strata sosial dalam Islam. Yang membedakan manusia satu dengan lainnya adalah ketakwaan-Nya. 


Akidah menjadi landasan untuk berpikir dan berbuat. Standar kebahagiaan dalam Islam adalah mendapatkan rida Allah. Jadi, tiap orang akan berlomba-lomba untuk berbuat baik, beribadah maupun berbuat baik pada tetangga. Dengan begitu tingkat kepedulian dan saling tolong menolong antar sesama akan tinggi.


Teringat kisah sahabat nabi yang bernama Thalhah Bin Ubaidillah yang tidak bisa tidur ketika ada harta yang tersimpan di rumahnya. Pada pagi harinya sahabat nabi tersebut membagikan kepada orang yang membutuhkan. Karena tujuan hidup dalam Islam bukan untuk mencari materi atau mengumpulkan materi dan dalam sebagian harta yang kita punya ada hak orang lain di dalamnya. 


Dalam sebuah hadis dikatakan pula tidak beriman orang yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya dalam keadaan lapar. Maka, empati, simpati, dan kepedulian akan tinggi. Negara juga memiliki peran untuk membentuk masyarakat yang ideal sesuai fitrahnya. Pemimpin Negara Islam selalu memikirkan rakyatnya, dan mengerti bagaimana untuk melayani rakyat.


Kisah khilafah Umar Bin Khattab yang senantiasa berpatroli untuk mengawasi rakyat jangan sampai ada yang merasa lapar apalagi sampai mati kelaparan menjadi tinta sejarah yang tidak akan pudar serta panutan bagi pemimpin dalam Islam. Masyarakat dalam Islam adalah kesatuan, memiliki satu perasaan, pemikiran, dan satu aturan. Apabila aturan Islam diterapkan secara sempurna maka akan terbentuk masyarakat dengan karakter yang khas, berbeda dari sistem sekuler yang diterapkan pada hari ini. 


Wallahualam bissawab. [Dara]