Alt Title

Tawuran Pelajar Marak Lagi, Kenapa?

Tawuran Pelajar Marak Lagi, Kenapa?

 

Islam memandang bahwa negara bertanggung jawab membentuk kepribadian Islam generasi, dengan demikian negara harus menciptakan support system yang bertujuan untuk mewujudkan hal tersebut, yaitu sistem yang terbaik berasal dari Pencipta, Allah Swt.

______________________________


Penulis Widdiya Permata Sari 

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Komunitas Muslimah Perindu Syurga


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Tawuran remaja semakin banyak terjadi di negeri ini, dan yang makin miris tawuran terjadi ketika awal ajaran tahun baru.


Sebanyak 69 pelajar diamankan oleh Polresta Tangerang, mereka berencana tawuran pada hari pertama masuk sekolah di Kawasan Balaraja, Kabupaten Tangerang, Banten. Mereka berasal dari sekolah yang berbeda. Mereka menangis di depan orang tua masing-masing yang dihadirkan oleh Polresta Tangerang, tidak hanya itu pihak Polresta pun memberikan sanksi berupa pembinaan. (beritasatu[dot]com, 18/07/2023)


Dari fenomena tawuran remaja tersebut sejatinya menggambarkan lemahnya kepribadian generasi saat ini, tidak bisa dimungkiri bahwa usia remaja sangat urgen dengan pencarian jati diri mereka, dikarenakan manusia pada umumnya apalagi remaja sejatinya telah diberikan oleh Allah sebuah naluri eksistensi diri bahkan sering disebut mempertahankan diri.


Dari naluri tersebutlah yang mendorong seseorang untuk melakukan berbagai hal dalam mempertahankan diri termasuk mengejar eksistensi diri. Oleh karena itu masa remaja adalah masa di mana naluri eksistensi berada di level tertinggi. Bahkan rasa ingin tahu dan merasa jagoan membuat mereka melakukan berbagai cara untuk membuktikannya.


Ketika negeri ini berada di tengah gempuran pemikiran liberal dan sekuler yang menyerang kehidupan remaja, menjadikan naluri eksistensi diri tersalurkan dengan mudah pada hal yang buruk bahkan merusak diri mereka.


Sekularisme, yang memisahkan agama dari kehidupan, menjunjung tinggi nilai kebebasan. Dari paham inilah yang memengaruhi pola pikir remaja saat ini. Mereka merasa bebas untuk melakukan apa saja untuk menunjukkan eksistensinya. Sehingga kebahagiaan mereka disandarkan pada kesenangan duniawi semata.


Sangat miris ketika generasi sekuler liberal semakin meluas dan membawa pengaruh buruk terhadap remaja muslim. Inilah dampak dari abainya penguasa terhadap kepribadian Islam para generasi, bahkan semakin miris ketika negara menjamin kebebasan berperilaku.


Meskipun negara memberikan upaya untuk memberantas tawuran, tetapi upaya tersebut sangat disayangkan karena hanya sebatas sanksi kepada para pelaku. Tidak ada upaya pencegahan untuk membentuk  profil generasi muslim pada diri remaja. 


Bahkan pendidikan yang diberlakukan saat ini sudah terbukti bahwa sistem pendidikan masih berasa sekuler, padahal tawuran pelajar hanya bisa diselesaikan secara komprehensif yaitu mengubah paradigma negara dengan paradigma yang sahih yakni Islam.


Islam memandang bahwa negara bertanggung jawab membentuk kepribadian Islam generasi, dengan demikian negara harus menciptakan support system yang bertujuan untuk mewujudkan hal tersebut, yaitu sistem yang terbaik berasal dari Pencipta, Allah Swt..


Pada negara Islam yaitu Khilafah sangat menyadari bahwa generasi adalah sebuah aset bangsa yang harus dijaga, dikarenakan ketika generasi rusak maka akan berefek pada rusaknya sebuah peradaban. Dengan begitu Khilafah akan memberikan pendidikan terbaik bagi generasinya yaitu berupa sistem pendidikan Islam, sebagaimana dalam kitab Usus Al ta'liim Al Manhaji dijelaskan bahwa tujuan pendidikan Islam, yaitu: 

Pertama, membentuk kepribadian islam. Kedua, membekali dengan ilmu keislaman. Ketiga, membekali dengan ilmu yang diperlukan dalam kehidupan.


Sehingga ketika tujuan pendidikan Islam diterapkan maka akan terbentuk generasi yang beriman, bertakwa serta berkontribusi positif untuk kemaslahatan umat. Tidak hanya itu, khilafah juga menjaga media dari konten-konten yang mengandung unsur kekerasan serta ide-ide yang bertentangan dengan Islam.


Ketika ada sebuah media yang terlanjur menyebar, maka khilafah akan dengan cepat bertindak menghilangkannya. Konten-konten yang diperbolehkan tayang di media hanya konten yang mengedukasi dan menguatkan ketakwaan generasi.


Wallahualam bissawab. [SJ]