Alt Title

Kebebasan yang Kebablasan

Kebebasan yang Kebablasan

 


Sungguh, sosok-sosok pemuda membanggakan, pemuda pembawa perubahan, pemuda pengubah peradaban, pemilik kemenangan selalu lahir dari negeri yang memberi ruang keimanan, ketangkasan, dan kecerdasan dipupuk tiada tanding

Bukan diberi kebebasan yang bablas sampai menjadi biang kehancuran

______________________________


Penulis Candelaria Athaya  

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Apa kabar para pemuda hari ini? Apa kabar tonggak bangsa kini? Apakah baik-baik saja sebagaimana cita dan harap orang tua, masyarakat, negara dan agama?


Dewasa ini, kita banyak disuguhkan kenyataan pahit dari kalangan pemuda, yang digadang menjadi ujung tombak perjuangan, sebagai penerus peradaban, kini terpantau menjadi pelaku kerusakan dan penghancur peradaban.


Bukan apa-apa, tidak bermaksud menyatakan bahwa pemuda hari ini rusak semua, tidak! Sebab masih banyak pemuda produktif yang bergerak maju dengan ketangkasan, iman, dan berjuang untuk membangun peradaban terbaik. Hanya saja, jika berpacu pada data yang ada hari ini sungguh miris rasanya. Ketika badan survei mengungkapkan data yang didapat menunjukkan persenan yang tidak sedikit pada remaja yang telah mencicipi seks bebas. Naudzubillah.


Setelah berita maraknya permintaan gratifikasi nikah dini akhir-akhir ini di beberapa wilayah (bukan satu atau dua) yang disinyalir menikah by accident.


Kini, data-data dan kenyataan yang ada disekitar kita membuat kita sadar sebobrok apa penerus bangsa tercinta. Mengutip dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mencatat usia remaja di Indonesia sudah kerap kali berhubungan seksual di luar nikah. Paling muda direntang umur 14 hingga 15 tahun sudah tercatat sebanyak 20 persen. Lalu diikuti dengan rentang umur 16 hingga 17 tahun sebesar 60 persen. Sedangkan di umur 19 sampai 20 tahun sebanyak 20 persen. (Merdeka[dot]com, 5/8/2023)


Potret pergaulan bebas luar biasa marak. Kerusakan moral dan martabat sudah tak terelakkan bergejolak menyeruak.


Lantas bagaimana kita akan menaruh harap pada generasi hari ini? Menjadi penerus untuk membangkitkan dan memajukan negara? Boro-boro negara, diri sendiri bahkan lebih dulu rusak sebelum benar-benar berpartisipasi. 


Mari melihat bagaimana generasi hari ini akan mencetak sejarahnya, deretan berita mengerikan berlalu-lalang tiada henti, mulai pembunuhan kekasih oleh pasangannya sendiri karena tak ingin tanggung jawab setelah buah zina tumbuh dalam rahim. Mutilasi teman sendiri setelah lama dibully, aborsi marak di kota hingga desa. 


Budaya lem anak jalanan sampai narkoba yang tak lagi tabu dibicarakan dan digunakan oleh remaja, pacaran gaya barat dipraktikan tak kenal batas, fwb yang marak untuk sekadar coba-coba pada zina, fomo yang dijadikan candu, anak SMP yang diketahui open bo dan masih banyak lagi berita serupa buruknya.


Bagaimana bisa para penerus benar-benar menjadi penerus jika moral telah lama hangus?


Ini semua adalah buah dari kebebasan yang sayangnya diprakarsai negara sebagai solusi bagi rakyatnya yang justru terlihat menjadi sumber persoalan yang mengkhawatirkan. Bagaimana tidak, mereka para pelaku pergaulan bebas selalu menjadikan kebebasan yang telah ditetapkan negara sebagai dalih perbuatan amoral. Diaminkan pula dengan masyarakat yang apatis terhadap kondisi sekitar. Pun masih sama, dalih tak perlu mengurusi urusan orang, dalih bahwa ia tak melanggar aturan. Jelaslah keimanan bukan patokan perbuatan, moral dan nilai adab hilang tenggelam.


Ingin teriak agar mereka berhenti, mereka bertameng HAM yang kuat untuk saat ini. Ingin mengubrak-abrik isi kepala mereka agar kembali sadar juga tak mudah, sedang mereka dalam euforia nikmat dunia. Sulit sekali rasanya.


Benarlah, ini kebebasan yang kebablasan. Tersebab diberinya jalan luas oleh negara untuk mengapresiasi dan mengekspresikan diri sekalipun di luar kodrat dan menerabas nilai serta moral. Deretan persoalan umat mentereng di seberang, mampu terlihat dengan mata telanjang tetapi kita hanya bisa menyaksikan. Berkoar pun tak didengar, justru dibungkam undang undang.


Sungguh, tiadalah pemuda yang benar-benar akan dikenal sebagai agen of change untuk masa depan jika kini pemuda terjerumus dalam liang nista kehidupan yang mematikan. Perlahan tapi pasti.


Bagaimana mungkin kita akan melahirkan Al Fatih-Al Fatih pada peradaban kita yang mengobarkan kebebasan sebagai asas hidup saat ini?

Bagaimana mungkin kita akan melahirkan Salman-Salman Al Farisi untuk kehidupan negeri kita saat ini, jika mereka sibuk dengan mabuk, zina, dan judi slot.


Sungguh, sosok-sosok pemuda membanggakan, pemuda pembawa perubahan, pemuda pengubah peradaban, pemilik kemenangan selalu lahir dari negeri yang memberi ruang keimanan, ketangkasan dan kecerdasan dipupuk tiada tanding. Bukan diberi kebebasan yang bablas sampai menjadi biang kehancuran.


Mereka para pemuda tangguh sebagaimana Al-Fatih, Mush'ab bin Umair, Sulaiman Al-Qanuni, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Imam besar pemuka Mazhab dan pemuda lainnya lahir dari rahim peradaban hebat, yang melahirkan peradaban yang lebih hebat.


Lahir dari ketangkasan negeri berasas manusiawi, memanusiakan manusia, memberi batasan pada yang seharusnya dan memberi kebebasan pada yang sewajarnya.


Maka, lihatlah bagaimana sejarah dunia mencatat, seberapa berperan, seberapa berpengaruh dan seberapa cemerlang peradaban ketika pemudanya taat pada aturan yang tepat. Dan itu ada pada Islam. 


Wallahualam bissawab. [SJ]