Alt Title

Islamofobia, Masih Terus Ada

Islamofobia, Masih Terus Ada

Pembakaran kitab suci Al-Qur’an yang kembali terjadi lagi dan lagi ini semakin menunjukkan bahwasanya belum ada sikap tegas dari pemerintah setempat maupun negeri-negeri kaum muslimin beserta pemimpinnya

Hal ini terjadi tak lain karena sekularisme dalam sistem kapitalisme masih diberlakukan di muka bumi. Memisahkan agama dari kehidupan termasuk ruang publik menjadi hal yang biasa hari ini

_______________________________


Penulis Ledy Ummu Zaid

Kontributor Media Kuntum Cahaya 




KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Muslim mana yang tidak marah atau mendidih rasanya ketika agama yang ia cintai dilecehkan? Ya, perasaan itulah yang memang seharusnya dirasakan oleh umat Islam hari ini ketika agamanya seringkali dilecehkan di depan umum.


Islamophobia atau yang bisa kita artikan dengan suatu ketakutan, kebencian atau prasangka terhadap Islam atau muslim kini terjadi lagi. Seperti yang baru-baru ini terjadi di Swedia, salah satu negara bagian Eropa dengan minoritas muslim. Melansir laman BBC (30/06/2023), Salwan Momika, pria asal Irak yang pindah ke Swedia, telah melakukan pembakaran kitab suci Al-Qur’an. Aksi yang sangat melecehkan umat Islam ini dianggap sebagai bentuk provokasi dengan dalih kebebasan berpendapat dan berekspresi. 


Bagaimana tidak melecehkan, aksi yang dikecam oleh banyak kalangan termasuk warga setempat ini dilakukan di hari besar umat Islam. Ketika muslim setempat seharusnya merasakan suka cita hari Iduladha, tetapi adanya aksi pembakaran kitab suci Al-Qur’an di depan masjid terbesar di Stockholm, ibukota Swedia ini membuat hati miris sekaligus kecewa. Di sisi lain, Kepolisian Swedia ternyata telah memberikan izin kepada Salwan Momika untuk menggelar aksi protes tersebut, sesuai dengan undang-undang kebebasan berbicara. Namun, setelah insiden tersebut terjadi dan menuai kecaman dari seluruh dunia, polisi akhirnya menyelidiki aksi tersebut karena dianggap menghasut kebencian, dikutip dari laman BBC (30/06/2023).


Irak, negara asal Salwan Momika, sejauh ini hanya mengajukan ekstradisi atau memerintahkan kembalinya Salwan Momika yang dikatakan berasal dari Irak agar dapat diadili sesuai dengan hukum Irak, dikutip dari laman Sindonews (01/07/2023). Kemudian, Turki telah menolak menandatangani aplikasi Swedia untuk bergabung dengan aliansi trans-Atlantik. Adapun Maroko juga mengecam aksi pembakaran Al-Qur'an tersebut dengan memanggil pulang duta besarnya untuk Stockholm, dikutip dari laman VOA Indonesia (30/06/2023). Sebaliknya, di Indonesia, negara mayoritas muslim terbesar di dunia ada pendapat yang menunjukkan sikap biasa saja terhadap aksi penistaan agama ini. Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Profesor Komaruddin Hidayat, ikut merespons aksi pembakaran Al-Qur’an yang kesekian kalinya di Swedia. Menurutnya, Al-Qur'an tidak akan hilang dan tetap hidup dalam perjalanan sejarah manusia. “Tidak usah direspons dengan marah-marah. Mereka itu tidak tahu isinya. Jawab saja dengan prestasi keilmuan dan peradaban. Atau seni seperti yang ditunjukkan Putri Ariani,” imbuhnya, dilansir dari laman BBC (30/06/2023).


Pembakaran kitab suci Al-Qur’an yang kembali terjadi lagi dan lagi ini semakin menunjukkan bahwasanya belum ada sikap tegas dari pemerintah setempat maupun negeri-negeri kaum muslimin beserta pemimpinnya. Hal ini terjadi tak lain karena sekularisme dalam sistem kapitalisme masih diberlakukan di muka bumi. Memisahkan agama dari kehidupan termasuk ruang publik menjadi hal yang biasa hari ini. Dengan mengusung demokrasi dengan motto kebebasan berpendapatnya malah membuat kegaduhan dan perpecahan di mana-mana. 


Berbeda dengan sistem Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Aturannya lahir dari Sang Pencipta, Allah subhanahu wa ta’ala. Sudah pasti aksi penistaan agama semacam ini jarang dan sangat minim terjadi di tengah-tengah umat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (TQS. Al Hijr: 9)


Dalam ayat tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan bahwasanya benar Al-Qur’an akan terjaga sepanjang masa. Namun, sebagai muslim, ketika kitab sucinya dilecehkan, maka sikap tidak setuju bahkan marah itulah yang harus ditunjukkan, seperti yang telah baginda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam ajarkan untuk tawakal dan tetap berikhtiar atau berusaha, khususnya dalam hal menjaga kemurnian dan kesucian agama Islam. 


Islam akan menjadikan negara sebagai pihak yang paling bertanggungjawab menjaga agama, termasuk kitab suci Al-Qur’an. Penguasa tentu akan mengajarkan bahkan memerintahkan rakyatnya untuk menunjukkan pembelaannya terhadap Al-Qur’an. Karena negara hadir sebagai junnah atau perisai bagi rakyatnya, maka negara akan menjaga rakyatnya supaya senantiasa berada dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Mulai dari menjaga akidah kaum muslimin hingga urusan teknis dalam dan luar negeri tentu akan ditangani dengan baik dan benar sesuai syariat Islam. Penguasa bahkan tidak segan-segan mengerahkan seluruh bala tentaranya untuk memerangi para penista agama. Tidak terterapkannya syariat Islam secara kaffah atau menyeluruh seperti hari ini menjadi tamparan keras bagi kaum muslimin untuk segera sadar dan kembali hanya kepada hukum Allah subhanahu wa ta’ala. Karena hari ini tidak ada satu pemimpin pun yang menunjukkan pembelaan yang hakiki, dan hanya mencukupkan diri dengan mengecam tanpa tindakan yang nyata, maka tak heran aksi islamophobia semacam ini terjadi lagi. [MDEP]