BBM Langka Panic Buying Melanda Berbagai Negara
OpiniKini saatnya penjajahan kapitalisme global yang mengeruk kekayaan negeri-negeri muslim dihentikan
dengan menegakkan kembali syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan
_______________________________
Penulis Aksarana Citra
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Sudah hampir dua pekan konflik Amerika Serikat-Isra*l vs Iran memanas. AS-Isra*l melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran. Iran membalas dengan rentetan rudal yang menyasar Isra*l dan sejumlah negara teluk sehingga memicu eskalasi militer luas di Timur Tengah.
Konflik makin memanas saat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatulloh Ali Khamenei tewas pada serangan tersebut. Akibat dari konflik tersebut Selat Hormuz diancam ditutup oleh Iran padahal selat tersebut menjadi jalur penting di dunia karena pendistribusian minyak dunia, sekitar 20%-30% minyak dunia dikirim lewat selat ini. Selain itu, negara seperti Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, dan UEA, pengekspor minyak dan gas lewat jalur ini.
Lalu lintas kapal sangat terganggu. Banyak kapal tanker minyak yang tidak berani lewat karena ancaman serangan di kawasan tersebut. Dubes Boroujerdin menyatakan Iran tidak menutup jalur pelayaran, tetapi hanya menerapkan protokol keamanan khusus yang berlaku dalam situasi perang. (MetroTVnews.com, 06-03-2026)
Karena ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan makin memanjang serta memanasnya konflik tersebut terjadi panic buying BBM yang melanda sejumlah negara dan memicu lonjakan harga minyak dunia.
Di Korea Selatan harga minyak tumbuh di level tertinggi dalam 29 bulan terakhir. Karena peningkatan antrean kendaraan sejak konflik pecah. Di Sri Lanka terjadi kepanikan dan antrean panjang pengisian BBM. Di Inggris antrean hingga 90 mobil terjadi di sejumlah SPBU di London, Manchester, dan Liverpool.
Adanya kenaikan harga minyak hingga 13% karena dipicu kekhawatiran gangguan pada Selat Hormuz. Panic buying pun terjadi di Jerman seiring kenaikan harga minyak. Harga Super E10 tercatat naik dari €1,780 perliter pada Jumat menjadi €1,830 pada Senin dan harga minyak diperkirakan masih berpotensi naik.
Di Indonesia Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meminta masyarakat tetap tenang dan menegaskan stok BBM nasional dalam kondisi aman. Stok BBM dalam negeri saat ini cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 20 hari ke depan. (CNNINDONESIA, 05-03-2026)
Fenomena panic buying di sejumlah daerah seperti Jember, Medan, dan Aceh. BPKN (Badan Perlindungan Konsumen Nasional) mengimbau agar masyarakat tidak panik dan tetap tenang dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan. Karena kepanikan justru memicu kelangkaan semu di lapangan karena distribusi yang tidak seimbang. (ANTARA, 07-03-2026)
Perang antara Amerika Serikat–Isra*l melawan Iran berpotensi menimbulkan berbagai persoalan besar, baik di bidang militer, ekonomi, maupun politik global. Salah satu dampak terbesar akan terasa pada perekonomian dunia. Konflik di kawasan Timur Tengah dapat mengancam pasokan minyak bumi (BBM) ke banyak negara, mengingat wilayah tersebut merupakan salah satu pusat produksi minyak terbesar di dunia.
Apabila Selat Hormuz ditutup atau terganggu akibat perang, maka harga minyak dunia berpotensi melonjak tajam dan pasokan energi global dapat terganggu. Kondisi ini tentu akan berdampak pada melemahnya ekonomi dunia serta memicu penurunan pasar keuangan global akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Ketidakpastian tersebut juga dapat memicu kepanikan di berbagai negara, termasuk Indonesia sehingga berpotensi menimbulkan fenomena panic buying terhadap BBM. Seperti yang kita ketahui, BBM merupakan komoditas strategis karena ketersediaannya sangat berpengaruh terhadap stabilitas ekonomi, sosial, dan politik suatu negara.
Oleh karena itu, konflik di kawasan Timur Tengah perlu menjadi perhatian serius masyarakat internasional sebab dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara yang terlibat langsung dalam perang, tetapi juga oleh negara-negara lain di seluruh dunia yang bergantung pada stabilitas pasokan energi.
Berkaca dari kondisi tersebut, sudah saatnya negara kita memiliki kedaulatan energi yang kuat sebagai salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas politik dan ekonomi nasional. Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam, termasuk minyak, gas, batubara, serta berbagai sumber energi lainnya.
Potensi besar ini seharusnya dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri dan menjamin kesejahteraan rakyat. Namun, sayangnya di negeri yang kaya akan SDA ini pengelolaan sumber daya alam yang semestinya berada di bawah kendali negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemaslahatan umat, malah justru dijual murah atau dikuasai oleh pihak asing.
Seharusnya pengelolaan SDA dilakukan secara mandiri, transparan, dan berorientasi pada kepentingan rakyat. Indonesia dapat memperkuat kedaulatan energi serta mengurangi ketergantungan pada pasokan energi dari luar negeri. Hal ini penting agar Indonesia tetap kokoh menghadapi berbagai gejolak global, termasuk konflik internasional yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dunia.
Hal ini tidak lepas dari pengaruh sistem kapitalisme global yang mendorong eksploitasi sumber daya energi dari negara-negara lemah untuk meraup keuntungan ekonomi yang sebesar-besarnya dan menciptakan ketergantungan energi sebagai alat penjajahan ekonomi.
Dalam banyak kasus, konflik dan intervensi sering terjadi di negara-negara yang memiliki sumber daya energi besar, terutama minyak dan gas. Penjajahan menjadi alat legitimasi demi meraup keuntungan dan menguasai suatu tempat.
AS dengan ideologi kapitalismenya sudah beberapa kali berhasil intervensi negara-negara penghasil minyak dan gas. Contohnya konflik dengan Iran tidak akan akan jauh dari tujuan mereka demi menguasai negara dan SDAnya. Sebut saja Irak awal invasi terjadi pada tahun 2003 karena alasannya Irak mempunyai senjata pemunah massal. Namun, hingga rezim Sadam Husain tumbang dan dilakukan investigasi senjata tersebut tidak ada, alasan tersebut hanya sebuah legitimasi politik untuk melakukan invansi.
Lalu konflik dengan Venezuela. Presiden Venezuela Nikolas Maduro ditangkap dengan tuduhan bahwa ia seorang kartel narkoba internasional. Alasan itu yang menjadikannya dasar untuk menekan bahkan melakukan operasi penangkapan terhadapnya. Tuduhan tersebut menjadi bagian dari tekanan politik dan ekonomi yang lebih luas terhadap Venezuela, negara yang juga memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.
Berbagai peristiwa tersebut menunjukkan bahwa konflik geopolitik sering kali tidak dapat dipisahkan dari kepentingan ekonomi global, khususnya dalam penguasaan sumber daya energi strategis. Dalam kerangka kapitalisme global, penguasaan energi bukan hanya soal kebutuhan ekonomi, tetapi juga menjadi alat untuk memperluas pengaruh politik, mengendalikan pasar dunia, serta memperkuat hegemoni negara-negara besar terhadap negara lain. Dengan menguasai sumber energi dan jalur distribusinya, mereka dapat menentukan arah ekonomi global sekaligus memperkuat dominasi sistem kapitalisme di berbagai belahan dunia.
Akibatnya, banyak negara berkembang terjebak dalam ketergantungan ekonomi dan energi yang berkepanjangan. Oleh karena itu, upaya untuk membangun kedaulatan energi dan kemandirian pengelolaan sumber daya alam menjadi sangat penting agar suatu negara tidak mudah didikte oleh kepentingan kekuatan global serta mampu menjaga kedaulatan ekonomi dan politiknya.
Urgensi kedaulatan energi dalam pandangan Islam sangat berkaitan dengan konsep kepemilikan umum. Merupakan kewajiban negara untuk mengelolanya demi kepentingan masyarakat.
Dalam Islam, SDA dengan jumlah yang besar dan menjadi kebutuhan vital bagi masyarakat seperti air, minyak, gas, energi itu termasuk pada kategori kepemilikan umum kewajiban negara untuk mengelolanya.
Kini saatnya penjajahan kapitalisme global yang mengeruk kekayaan negeri-negeri muslim dihentikan dengan menegakkan kembali syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Sistem kapitalisme telah terbukti melahirkan ketimpangan, eksploitasi sumber daya alam, serta ketergantungan ekonomi yang membuat banyak negeri kaya justru tidak mampu menyejahterakan rakyatnya.
Dengan diterapkannya syariat Islam secara menyeluruh, negara akan memiliki aturan yang jelas dalam melindungi dan mengelola kekayaan alam demi kemaslahatan umat. Syariat Islam menempatkan sumber daya alam sebagai milik umum yang harus dikelola oleh negara untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan segelintir elite atau korporasi.
Karena itu, hanya dengan penerapan syariat Islam dalam institusi pemerintahan yang adil, kesejahteraan masyarakat dapat terwujud secara nyata. Ketimpangan ekonomi, eksploitasi, dan berbagai bentuk ketidakadilan dapat dihapuskan sehingga kekayaan negeri benar-benar menjadi rahmat dan kemakmuran bagi seluruh rakyat, bukan hanya bagi segelintir pihak. Wallahualam bissawab.


