Alt Title

Sistem Kapitalisme Penyebab Anak Bunuh Diri

Sistem Kapitalisme Penyebab Anak Bunuh Diri



Abainya kehadiran negara dalam kapitalisme, kalaupun ada dana bantuan

prosedur administrasi yang berbelit menyusahkan masyarakat

__________________


Penulis Ekke Ummu Khoirunnisa

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Indonesia saat ini selalu ramai dengan berita-berita yang menyayat hati, baru-baru ini terjadi pada anak sekolah dasar kelas IV di kecamatan Jerebuu, Ngada, NTT yang nekat yang menghabisi nyawanya sendiri karena orang tuanya tidak mampu membelikan buku tulis, pulpen serta harus membayar uang sekolah sebesar Rp1,2 juta per tahun.


Dilansir dari detikBali.com, (5-2-2026) diberitakan bahwa orang tua anak tersebut sudah membayar sebesar Rp500 ribu pada semester 1 yang tersisa Rp750 ribu yang segera dilunasi pada semester II. Mirisnya, korban adalah penerima kartu beasiswa Indonesia pintar atau PIP. Sayang, bantuan itu tidak bisa dicairkan karena terkendala administrasi.


Ketua DPR Puan Maharani menyoroti kasus ini untuk mengoreksi sistem pendidikan. Beliau mengatakan bahwa peristiwa ini harus menjadi titik balik sistem pendidikan yang ramah anak dan mampu menjaga kesehatan anak didik secara menyeluruh fisik, mental, dan spiritual.


Abainya Kehadiran Negara Kapitalisme 


Memang sudah seharusnya peristiwa bunuh diri anak sekolah dasar ini menjadi koreksi sistem pendidikan. Sungguh sangat diharapkan pernyataan tersebut tidak hanya pernyataan formalitas belaka, seperti yang kita ketahui kasus bunuh diri anak hingga remaja dengan berbagai latar belakang penyebabnya bukan kali ini saja.


Berdasarkan data Pusiknas Bareskrim Polri ada sebanyak 1.270 kasus bunuh diri yang ditangani Polri sejak januari hingga November 2025, rata-rata ada 100 kasus dalam setiap bulannya. Sekitar 7,66 persen di antaranya berusia di bawah 17 tahun, artinya setiap kasusnya melibatkan anak yang belum dewasa.


Dengan demikian, peristiwa ini bukanlah sekadar peristiwa pilu individual, melainkan cermin nyata sebuah kegagalan sistemik yang menempatkan pendidikan sebagai beban, bukan sebagai hak dasar yang dijamin oleh negara kebutuhannya.


Ketika hal sederhana kebutuhan alat tulis memicu anak untuk bunuh diri, artinya adanya kekeliruan dalam tata kelola pendidikan yang saat berjalan, pendidikan yang harusnya menjadi hak dasar masyarakat berubah menjadi barang mewah yang sulit didapatkan. 


Dalam sistem kapitalisme yang saat ini diemban oleh negara tidak hadir dalam pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Bahkan cenderung abai dengan alasan tidak tersedia anggaran. Kalaupun ada dana bantuan, prosedur administrasi yang berbelit menyusahkan masyarakat. Alih-alih terjamin, pendidikan saat ini makin tidak terjangkau oleh rakyat kecil.


Negara hadir ketika sudah terjadi kasus-kasus seperti ini. Itu pun memberikan solusi tanpa menyentuh akar permasalahan. Alhasil, banyak problem pendidikan terus berulang dalam bentuk dan kasus yang berbeda, seperti putus sekolah, tekanan mental anak hingga tragedi bunuh diri yang harusnya tidak boleh terjadi.


Kondisi seperti ini tidak akan pernah terjadi ketika Islam dijadikan panduan hidup dan pendidikan berdasarkan akidah Islam. Karena dalam Islam pendidikan adalah hal utama bagi manusia untuk mendapatkan ilmu. Hanya dengan ilmu manusia akan keluar dari kebodohan, dan menuntunnya untuk keluar dari kekufuran, mampu memahami hakikat penciptaannya, dapat membedakan antara yang hak dan yang batil, serta dapat menjalankan aktivitas kehidupannya dengan syariat Islam.


Solusi Pendidikan dalam Islam 


Islam memandang pendidikan bukanlah sekadar aktivitas teknis pengajaran melainkan integral dari penjagaaan akal. Karena pendidikan adalah hak mendasar bagi rakyat bukan barang komersil.


Sebagaimana hadis Rasulullah saw. bersabda:


كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

 

"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Imam (kepala negara) adalah pemimpin yang akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya."


Sebagaimana hadis tersebut sudah seharusnya negara berfungsi sebagai pengurus rakyat sebagainya negara Khil4fah menyediakan pendidikan secara gratis untuk seluruh rakyatnya baik miskin maupun kaya dengan kualitas yang sama dan dengan sarana terbaik baik di desa atau pun di kota. Karena negara Khil4fah memiliki pos keuangan yang kokoh yaitu Baitulmal. Dana pos ini berasal dari pengelolaan syar’i sumber daya alam yang mengharamkan kapitalisasi dan liberalisasi swasta sehingga hasilnya bisa dinikmati oleh rakyat, dan dengan administrasi yang jelas tidak berbeli-belit.


Sistem Islam juga mewajibkan setiap keluarga menanamkan pendidikan akidah dan syariah sejak dini pada anggota keluarga oleh orang tuanya. Anak juga wajib mendapatkan kasih sayang ibu karena ibu dalam Islam akan hadir sepenuhnya menjaga anaknya dalam menjalankan fungsinya sebagai al-umm wa rabbatul bait.


Karena pemenuhan ekonomi terjamin oleh negara, dan sang ayah disiapkan lapangan pekerjaan yang baik hingga kedua orang tua bisa menjalankan perannya masing-masing yang menjadikan anak-anak generasi sehat, baik secara fisik, mental dan spiritual.


Pentingnya penerapan syariat Islam secara kafah dalam naungan Daulah Khil4fah Islamiah agar terpenuhi seluruh kebutuhan rakyat, dan tragedi bunuh diri pada anak usia SD insyaAllah tidak akan pernah terjadi. Sebagai muslim yang baik sudah seharusnya kita mengambil peran agar segera terwujudnya Daulah Khil4fah Islamiah untuk menerapkan syariat Islam kafah di bumi ini. Wallahualam bissawab. [SM/MKC]