Alt Title

Board of Peace Bukti Pengkhianatan terhadap Palestina

Board of Peace Bukti Pengkhianatan terhadap Palestina


Sejatinya, bukan bantuan seperti ini yang diinginkan saudara muslim di P4lestina

Sedikit pun rakyat P4lestina tak pernah takut, getir, atau menyesal untuk menghadap kematian di tanah suci tersebut

_________________________

 

Penulis Rahmi Lubis

Kontributor Media Kuntum Cahaya

 

KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Presiden Indonesia resmi menandatangani piagam keanggotaan Board of Peace atau Dewan Keamanan yang dipelopori oleh Donald Trump pada 22 Januari 2026 di Davos, Swiss. (Tribun Video, 28/01/26)


Keikutsertaan Indonesia menjadi anggota parlemen internasional tersebut mencuat banyak perhatian. Alasan pemerintah untuk ikut bergabung dengan berlandaskan kebijakan politik luar negeri yang bebas aktif serta menjaga perdamaian dunia. Pemerintah mengakui aksi nyata Indonesia mendukung P4lestina, yaitu membangun kembali G4za di bawah pengawasan BoP dan menjamin keamanan Isra*l untuk dunia.


Anehnya, keputusan ini terkesan merugikan rakyat. Hal ini dikarenakan syarat untuk menjadi anggota dewan BoP harus membayar sebesar 1 miliar US dollar atau setara dengan Rp16,9 triliun. Bukan hanya itu, kepesertaan dewan ini juga dinilai tidak efektif untuk membantu saudara muslim di G4za. Menurut peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS) Pieter Pandie menyatakan tidak ikutnya P4lestina sebagai anggota dewan BoP menjadi bukti nyata bahwa dewan keamanan yang dibentuk oleh Donald Trump belum mempunyai resolusi penyelesaian yang jelas bagi P4lestina. 


Dikutip dari KOMPAS.com (03-02-26). Pakar sekaligus pengamat hubungan internasional kawasan Timur Tengah Abdullah, S.Sos., M.Hub.Int mengatakan bahwa Indonesia perlu bersikap hati-hati atas keputusannya masuk Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian buatan Amerika Serikat. Bahkan, banyak negara-negara di Eropa termasuk Spanyol, Prancis, Denmark, Swedia, dan yang lainnya juga ikut menolak untuk bergabung dalam dewan keamanan internasional ini dengan alasan tidak mau kalau nantinya BoP akan menggantikan PBB.

 

Wajar saja PBB yang merupakan Perserikatan Bangsa-Bangsa masih mengakui hak veto pada semua anggota negaranya. Sedangkan Dewan Keamanan atau Board of Peace mempunyai aturan tersendiri, yaitu mengakui Donald Trump sebagai pemimpin seumur hidup dan menjalankan semua keputusan berdasarkan keputusan satu yaitu keputusan pemimpin tanpa memandang pendapat tiap anggota dewan. Jelas ini membuktikan Trump bukan membangun Dewan Keamanan Internasional tetapi membangun kekaisaran atas dirinya dengan menggabungkan negara-negara yang mau ikut bergabung. 


Board of Peace Adalah Bentuk Pengkhianatan terhadap P4lestina


Penjajahan kaum kafir Barat kerap hadir untuk menghantam negeri-negeri muslim sampai saat ini. Bentuk kolonialisme yang memecah-belah dan memainkan isu perasaan yang berlandaskan moralitas sering dijadikan tameng untuk menipu daya umat. Rendahnya pemikiran umat terkhusus kaum muslimin menjadi persoalan yang tak pernah tuntas.

 

Jika dipikirkan secara jernih dan mendalam, atas nama perdamaian dunia dan membantu menyelesaikan konflik internasional Board of Peace harusnya tidak memungut biaya apa pun untuk menjadi anggota dewan. Apalagi tidak mengikutsertakan P4lestina sebagai anggota dewan jelas, merupakan kesalahan fatal bagi BoP itu sendiri. Faktanya P4lestina yang dijajah Isra*l, tetapi tidak sedikitpun isi poin-poin yang terdapat pada piagam tersebut memihak P4lestina.


Jelas inilah yang dinamakan “Penjajahan Baru” terhadap P4lestina dengan merekonstruksi ulang bangunan di G4za, tetapi kekuasaan bukan kembali kepada rakyat tetapi kepada BoP yang dikepalai oleh Trump. Ini berarti memberikan P4lestina kepada penjajah selain Isra*l dengan bentuk pelegalan secara resmi yang ditandatangani oleh seluruh anggota dewan yang ikut dalam BoP.

 

Sungguh miris, Indonesia yang merupakan negeri mayoritas Islam malah ikut dalam dewan keamanan ini. Sejatinya, bukan bantuan seperti ini yang diinginkan saudara muslim di P4lestina. Sedikit pun rakyat P4lestina tak pernah takut, getir, atau menyesal untuk menghadap kematian di tanah suci tersebut. Atas dasar keyakinan ideologis yang tertancap pada akidah mereka membuat kaum Zion*s Yahudi kehabisan akal bahkan lelah dan putus asa untuk mengusir warga G4za dari tanah kelahirannya. 


Lantas, bagaimana dengan kita sebagai saudara sesama muslim yang ikut membantu penderitaan mereka dengan cara menyerahkan tanah suci ini untuk kaum kafir penjajah? Di sinilah sebagai muslim kita harus benar-benar menolak secara tegas atas keputusan yang diambil oleh sang penguasa negeri ini. Board of Peace tidak akan pernah sedikit pun mengantarkan P4lestina kepada kedamaian hakiki karena landasan yang dipijak masih bersandar atas sistem sekuler.

 

Tidak memandang agama sebagai peraturan dalam hidup. Penentuan kebijakan hanya akan diambil bagi negara yang kuat, sedangkan yang lemah akan terus tertindas. Butuh solusi yang tepat untuk menuntaskan konflik di P4lestina. Solusi ini jelas tidak akan hadir dalam sistem saat ini. Sistem yang membuat aturan dari manusia yang serba kurang, terbatas, dan lemah serta menjadikan hawa nafsu sebagai penentu kebijakan. 


Daulah Islam Solusi Tuntas bagi P4lestina

 

Board of Peace hanyalah dewan keamanan berbayar yang mendahulukan untung-rugi atas setiap kebijakan. Karakter penguasa dalam sistem sekuler ini pastinya tidak akan bisa menyelesaikan problematika umat. Secara harfiahnya, manusia adalah ciptaan Tuhan yang tak akan mungkin bisa mengatur dirinya sendiri.

 

Kerangka berpikir seperti inilah yang harusnya disadari oleh umat saat ini khususnya kaum muslim. Sebagai makhluk ciptaan Allah yang diberikan akal harusnya kita bisa melihat fakta mengapa dan untuk apa Allah menciptakan kita sebagai hambaNya? Islam tidak hadir hanya sebagai agama yang mengatur urusan ibadah namun sejatinya  diturunkan sebagai sebuah ideologi yang paripurna. 


Sejarah dunia sudah membuktikan bagaimana penerapan Islam diterapkan dalam sebuah negara yang bernama Daulah Islamiah. Sistem ekonomi, sosial, politik, pendidikan, kebudayaan, keamanan, dan segalanya semua diatur berlandaskan Al-Qur'an dan As-sunnah. Kejayaan yang berlangsung selama 14 abad. Islam sebagai benteng yang kokoh membela seluruh keamanan baik muslim maupun non muslim yang berada dalam naungan Daulah.

 

Oleh sebab itu, P4lestina tak akan bisa mengusir Yahudi tanpa kekuatan negara. Kekuatan negara muslim yang terpecah-belah saat ini terbenteng atas garis batas wilayah yang seharusnya kita adalah umat yang satu. Maka penjajahan P4lestina yang bertahun-tahun lamanya tak kunjung usai harusnya menjadi cambukan keras bagi kita kaum muslim.

 

Hanya Daulah yang mampu melegitimasi jihad dan ini butuh kita sebagai umat Islam sadar solusi tuntas untuk P4lestina hanya Daulah Khil4fah Islamiah. Hal ini jelas tercakup pada hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh HR Ahmad yang berbunyi, “Kelak akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan, ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada kemudian akan ada kembali Khil4fah yang mengikuti minhaj kenabian" setelah itu beliau kemudian diam.

 

Walllahualam bissawab. [GSM/MKC]