Alt Title

Siapkah Anak-Anak PascaBencana untuk Aktivitas Belajar?

Siapkah Anak-Anak PascaBencana untuk Aktivitas Belajar?



Pemulihan psikologi siswa atau murid mampu dipulihkan 

hanya ketika kita berpedoman pada kitabullah dan Sunah Rasulullah saw.


___________________


Penulis Damawan Megawati, S.Pd

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pendidik


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Aktivitas belajar mengajar siswa di Aceh resmi di mulai 5 Januari 2025 (kompas.com, 29 Desember 2025). Senin, 5 Januari 2026 semester genap tahun ajaran 2025/2026 akan dimulai di Sumatra Utara khususnya di Aceh.


Anak-anak pasti bahagia dan ceria kembali sekolah setelah lebih kurang dua pekan menikmati liburan semester bersama keluarga tercinta seperti pergi jalan-jalan ke kolam renang, ke pantai, ke taman, berkunjung ke rumah family (saudara, keluarga) atau ke rumah orang tua (kakek dan nenek) dan lain-lain.

 

Berbeda dengan para siswa atau murid dan mahasiswa di Aceh. Mereka menjalani liburan sekolah dengan keadaan yang memprihatinkan yaitu air merendam rumah, harta benda bahkan ada juga keluarga mereka yang tertimbun tanah serta terbawa air, mengalir jauh yang tidak tahu ke mana arahnya.


Alat perlengkapan belajar pun tidak ada lagi. Menurut M Nasir Sekda (sekretaris daerah) Aceh di Banda Aceh dikutip dari Antara Senin, 19 Desember 2026. Meteorologi tidak boleh menjadi alasan terhentinya hak pendidikan anak-anak Aceh.

 

Berdasarkan data terbaru dari posko penanganan bencana meteorologi pemerintah Aceh, tercatat 555 unit SMA di seluruh Aceh sebanyak 215 unit di antaranya terdampak banjir dan tanah longsor. Pemerintah Aceh menyatakan bahwa semester genap tahun ajaran 2025/2026 akan dimulai pada 05 Januari 2026 untuk seluruh siswa yang termasuk di daerah terdampak longsor dan bencana banjir.


Adapun wilayah yang terdampak Kabupaten Pidie Jaya, Aceh Utara, Kota Langsa dan Aceh Tamiang. Ada 78 unit sekolah yang masuk kategori rusak berat M Nasir menyatakan bahwa aktivitas sekolah bukan sekadar transfer ilmu saja, tetapi juga proses pemulihan psikologi siswa yang menjadi korban bencana. Dalam pembelajaran di sekolah guru dan murid saling mendukung dan melengkapi antara yang satu dengan yang lainnya.


Keduanya tidak bisa dipisahkan agar kuat dan kokoh karena saling membutuhkan. Pertanyaannya, apakah dengan tetap dimulainya pendidikan di sekolah-sekolah yang terdampak bencana dapat memulihkan psikologis anak-anak?


Pendidikan dalam Islam


Allah akan mengangkat derajat orang yang belajar dan berilmu. Hal ini tertuang dalam Al-Qur'an surah Al- Mujadalah ayat 11. Belajar ilmu itu tidak hanya membuat kita bisa memulihkan psikologi psikis saja, tetapi dapat menormalisasikan kehidupan kita di dunia baik dari segi pemikiran, perasaan, pemahaman yang mendalam tentang alam, manusia, dan kehidupan. 


Faktanya, anak-anak di Aceh kondisi sekolahnya masih menggunakan alat atau fasilitas darurat yang sangat sederhana seperti tempat belajar mereka masih di tenda. Ada yang harus menyeberang sungai dengan prasarana yang sangat sederhana untuk melewati satu tempat ke tempat lain. Ada yang harus berjalan kaki untuk berangkat ke sekolah dengan jarak tempuh yang jauh, dan lain sebagainya.


Islam merupakan aturan yang paripurna dan sempurna. Islam memandang ilmu pengetahuan bukan hanya tentang duniawi, tetapi juga tentang pemahaman agama yang memungkinkan seseorang beribadah dan beramal lebih baik. Karena ilmu membantu seorang memahami kebenaran, menghindari kesesatan, dan menyebarkan kebaikan hingga derajatnya di sisi Allah menjadi lebih tinggi. 


Aktivitas belajar mengajar adalah sebuah proses pembelajaran dari yang tidak tahu menjadi tahu dan paham yang terjadi di sebuah komunitas atau lingkungan formal/informal yang melibatkan hubungan timbal balik antara guru dan murid. Di mana terjadi komunikasi dan saling memengaruhi satu sama lain dalam hal yang positif. Apakah dengan pendidikan berlangsung psikologis para siswa membaik dan pulih kembali?


Faktanya, para guru sendiri mempunyai beban mental sendiri. Misalnya, untuk tiba di tempat mengajar harus berjuang terlebih dahulu melewati perjalanan yang tidak aman seperti menyeberangi sungai dengan tali atau penyeberangan darurat dan lain-lain. Pemulihan psikologis siswa atau murid mampu dipulihkan hanya ketika kita berpedoman pada kitabullah dan Sunah Rasulullah saw..


Sebagaimana Rasulullah saw. mewariskan dua perkara, yakni jika umatku ingin hidup bahagia dunia dan akhirat maka pegang dan genggamlah Al-Qur'an dan Sunah. Islam mengajarkan kita bahwa Allah Swt. satu-satunya pemberi pertolongan dan keselamatan dunia akhirat.


Dalam sistem Islam, negara yakni Khil4fah Islamiah yang dipimpin seorang khalifah akan memfasilitasi dan menyediakan sarana dan prasarana yang lengkap dan sempurna seperti tempat untuk membangun gedung sekolah, juga gedung yang di lengkapi meja dan kursi, perlengkapan untuk proses belajar mengajar, termasuk gurunya, dan lain sebagainya. Semua itu akan disediakan oleh khalifah. Baik dalam keadaan aman terlebih lagi dalam kondisi bencana. Semua masyarakat akan dipenuhi kebutuhannya dan dijamin keamanannya.


Sesuai sabda Rasulullah saw.: "Seorang khalifah merupakan pemimpin yang bertanggung jawab atas rakyatnya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang mereka urus."(HR. Bukhari dan Muslim).

 

Semua ini hanya dapat terwujud dengan adanya penerapan syariat secara kafah dalam sebuah institusi Daulah Khil4fah. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]