Nasib Sekolah dan Pesantren Pascabencana
OpiniMelihat kerusakan yang masif ini, kita tidak boleh memandangnya hanya sebagai musibah alam biasa
Ada aspek tanggung jawab yang harus digugat
____________________
Penulis Fatimah Al Fihri
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Bencana alam yang silih berganti terjadi di tanah air bukan sekadar ujian kesabaran, melainkan alarm keras bagi ketahanan negara kita. Ketika banjir bandang surut, yang tersisa bukan hanya genangan air, melainkan tumpukan lumpur yang turut serta mengubur masa depan generasi muda. Kondisi tersebut membawa kita pada sebuah renungan mendalam mengenai sejauh mana negara hadir dalam memulihkan masyarakat yang terdampak bencana.
Lumpur di Sekolah dan Luka di Pesantren
Meski upaya pemulihan telah dilakukan secara bertahap, realita di lapangan menunjukkan bahwa pemulihan belum menyentuh seluruh lapisan. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat menyatakan bahwa sekitar 90 persen sekolah yang terdampak bencana di Sumatra telah mulai aktif kembali [Kemendikdasmen, 14-01-26]. Namun, angka persentase tersebut tidak boleh membuat kita menutup mata terhadap sisa 10 persen yang masih bergelut dengan lumpur dan keterbatasan.
Di Aceh Utara, kondisinya sangat memprihatinkan. Masih ada ratusan sekolah yang hingga kini tertutup lumpur pekat pascabanjir. Para siswa dan guru membutuhkan ribuan paket perlengkapan sekolah untuk bisa memulai proses belajar mengajar secara normal kembali [Kompas, 12-01-26]. Ketertinggalan hari-hari sekolah ini bukan perkara sepele karena setiap hari yang terbuang adalah hilangnya momentum transfer ilmu bagi anak bangsa.
Kondisi yang tak kalah menyedihkan menimpa lembaga pendidikan non-formal dan keagamaan. Sebanyak 120 pesantren dan balai pengajian di Aceh Timur dilaporkan rusak parah akibat terjangan banjir bandang [CNN, 15-01-26]. Pesantren yang selama ini menjadi benteng moral dan pusat pembelajaran agama bagi masyarakat, kini lumpuh. Bangunan fisik yang hancur berarti terhentinya lantunan ayat suci dan kajian kitab yang selama ini menghidupkan spiritualitas warga.
Lebih dari Sekadar Memperbaiki Gedung
Melihat kerusakan yang masif ini, kita tidak boleh memandangnya hanya sebagai musibah alam biasa. Ada aspek tanggung jawab yang harus digugat. Pemulihan fasilitas pendidikan, baik sekolah umum maupun pesantren adalah tanggung jawab mutlak negara. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah saw. mengenai amanah kepemimpinan: "Seorang imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus." (HR. Bukhari)
Beban ini sama sekali tidak boleh digeser ke pundak masyarakat yang sendirinya sudah menjadi korban bencana. Negara harus menjamin keberlangsungan pendidikan anak-anak terdampak secara komprehensif mencakup dua aspek besar:
1. Recovery Fisik dan Fasilitas: Memastikan gedung sekolah dan pesantren kokoh kembali.
2. Recovery Mental dan Spiritual: Membangun kembali kepribadian Islam yang kokoh. Anak-anak perlu dipahamkan bahwa musibah adalah bagian dari ketetapan Allah yang harus dihadapi dengan tawakal sekaligus ikhtiar untuk bangkit.
Di sinilah peran pesantren menjadi sangat krusial untuk menanamkan akidah. Pendidikan harus mampu menyadarkan setiap individu mengenai peran hakiki manusia sebagai khalifah di muka bumi agar mereka tidak kehilangan arah saat menghadapi badai kehidupan.
Pendidikan dalam Bingkai Kepemimpinan Islam
Dalam perspektif Islam, pendidikan adalah kebutuhan dasar publik yang wajib disediakan oleh negara secara berkualitas.
1. Pendidikan sebagai Kewajiban Negara
Negara wajib mengalokasikan anggaran untuk menjamin akses pendidikan tanpa terkecuali. Pemulihan sekolah dan pesantren tidak boleh menunggu birokrasi yang berbelit atau bergantung pada donasi masyarakat semata. Pemenuhan sarana belajar adalah bentuk nyata pelayanan terhadap rakyat.
2. Membentuk Kepribadian Islam (Syakhshiyah Islamiyah)
Sistem pendidikan Islam bertujuan membentuk siswa yang memiliki pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) berdasarkan Islam. Sekolah dan pesantren yang pulih harus segera menjalankan fungsi ini: membentuk generasi yang tangguh.
Allah Swt. berfirman: "Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya..." (QS. An-Nisa: 9)
Ayat ini mengingatkan negara dan orang tua agar tidak membiarkan generasi mendatang tumbuh dalam kelemahan, baik lemah secara fisik, ilmu, maupun iman akibat sarana pendidikan yang terbengkalai.
Pendidikan Islam menekankan bahwa peran utama manusia adalah mengelola bumi. Kurikulum pendidikan harus mampu menanamkan kesadaran bahwa manusia bertugas mengelola sumber daya alam demi kesejahteraan, bukan merusaknya.
Allah Swt. mengingatkan dalam Al-Qur'an: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum: 41)
Melalui pendidikan yang benar di sekolah dan pesantren, kita mencetak generasi yang mampu mencegah bencana di masa depan melalui manajemen alam yang benar sesuai syariat.
4. Melahirkan Generasi Khairu Ummah
Tujuan besar kita adalah melahirkan kembali generasi khairu ummah (umat terbaik). Generasi ini hanya bisa lahir dari sekolah dan pesantren yang menerapkan kurikulum berbasis syariat Islam. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan sistem pemerintahan Islam, bukan sistem demokrasi sekuler. Oleh sebab itu, sudah sepatutnya setiap muslim berusaha semaksimal mungkin untuk menegakkan Khilafah agar syariat Islam dapat tegak di muka bumi. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]


