Alt Title

Guru Dikeroyok Siswa Cermin Gagalnya Pendidikan Sekuler

Guru Dikeroyok Siswa Cermin Gagalnya Pendidikan Sekuler



Sekolah yang seharusnya menjadi tempat menanamkan nilai dan adab

justru berubah menjadi tempat konflik dan kekerasan

____________


Penulis Irmawati

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Guru adalah sosok teladan dalam pendidikan. Tugasnya bukan hanya mengajar pelajaran tetapi juga membentuk sikap, adab, dan karakter murid. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi guru untuk mendidik. Namun, kenyataannya hari ini justru banyak guru yang menjadi korban kekerasan oleh siswanya sendiri dan itu terjadi di sekolah.


Seperti yang diberitakan DetikNews (17-01-2026), seorang guru SMK Negeri 3 Jambung Timur menjadi korban pengeroyokan oleh muridnya sendiri. Kejadian ini bermula saat guru menegur siswa di kelas. Teguran tersebut dibalas dengan kata-kata kasar dan sikap tidak sopan di depan guru dan teman-temannya.


Sementara itu, dari pengakuan siswa, guru tersebut sering berkata kasar, menghina murid dan orang tua, serta menyebut siswa bodoh dan miskin. Diduga hinaan inilah yang memicu kemarahan hingga berujung pada kekerasan fisik.


Koordinator Nasional JPPI Ubaid Matraji menyatakan bahwa peristiwa ini melanggar hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang aman dan bebas dari kekerasan sebagaimana dijamin dalam undang-undang. Karena itu, segala bentuk kekerasan di dunia pendidikan—baik verbal maupun fisik—tidak bisa dibenarkan.


Buah Pendidikan dalam Sistem Sekuler


Kasus guru dikeroyok siswa bukanlah kejadian baru. Peristiwa serupa terus berulang dan menunjukkan bahwa pendidikan kita sedang bermasalah. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat menanamkan nilai dan adab justru berubah menjadi tempat konflik dan kekerasan.


Masalah ini bukan hanya soal emosi sesaat, tetapi menunjukkan rusaknya hubungan antara guru dan murid. Hubungan yang seharusnya dibangun atas dasar hormat dan keteladanan kini berubah menjadi penuh ketegangan.


Banyak murid kehilangan adab. Mereka berani melawan, berkata kasar, dan tidak menghormati guru. Di sisi lain, ada pula guru yang melukai perasaan murid dengan kata-kata yang menghina dan merendahkan. Akibatnya, wibawa guru hilang dan murid tidak lagi memuliakan gurunya.


Hal ini tidak lepas dari sistem pendidikan sekuler yang menjauhkan agama dari kehidupan. Dalam sistem ini, adab dan akhlak tidak menjadi dasar utama. Murid dipandang bebas mengekspresikan diri tanpa batas, sementara guru dianggap hanya sebagai penyedia jasa. Hubungan guru dan murid menjadi kering nilai dan rawan konflik.


Pendidikan lebih menekankan prestasi dan angka, sementara pembinaan akhlak hanya menjadi pelengkap. Guru dibebani banyak tugas administrasi, tetapi minim perlindungan. Bahkan guru sering kali terancam dikriminalisasi saat menjalankan tugasnya. Padahal guru adalah profesi mulia yang menentukan masa depan generasi bangsa.


Pendidikan dalam Islam


Islam memandang pendidikan sebagai sarana membentuk kepribadian Islam. Pendidikan bukan hanya soal ilmu, tetapi juga penanaman adab dan akhlak.


Rasulullah saw. bersabda: "Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kesalehan akhlak.” (HR. Ahmad)


Dalam hadis di atas Rasulullah saw. menegaskan bahwa tujuan utama beliau diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak. Ini menunjukkan bahwa akhlak adalah fondasi, bukan pelengkap. Ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan dan kekerasan.


Dalam Islam, guru bukan sekadar pengajar tetapi teladan bagi muridnya. Setiap ucapan dan sikap guru adalah contoh. Karena itu, guru tidak boleh berkata kasar atau merendahkan murid, sebagaimana murid juga tidak dibenarkan melawan atau menyakiti guru.


Akidah menjadi dasar pendidikan. Setiap ilmu diarahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Taala. Kesadaran ini membuat guru dan murid menjaga lisan dan sikap, karena mereka yakin semua perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban.


Islam mengajarkan murid untuk menghormati dan memuliakan guru agar ilmu yang dipelajari membawa keberkahan. Sebaliknya, guru wajib menjadi teladan yang baik dalam akhlak dan perilaku.


Negara dalam sistem Islam bertanggung jawab menyiapkan guru tidak hanya dari sisi ilmu, tetapi juga akhlak dan keimanan. Negara juga menjamin sekolah menjadi tempat yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan.


Selain itu, orang tua memiliki peran penting dalam mendidik anak di rumah. Orang tua harus mengajarkan adab, sopan santun, dan sikap hormat kepada guru. Masyarakat pun harus mendukung pembinaan akhlak anak, bukan membenarkan perilaku kasar dan tidak sopan.


Islam juga menempatkan negara sebagai penanggung jawab utama pendidikan. Negara tidak sekadar menyediakan gedung dan kurikulum, tetapi memastikan pendidikan berlandaskan akidah Islam. Setiap mata pelajaran diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam, bukan sekadar kompetensi pasar. Negara memastikan guru dibina secara ruhiah dan profesional, serta murid dididik dalam lingkungan yang aman, bermartabat, dan beradab.


Dalam sistem Islam, konflik guru dan murid tidak dibiarkan membusuk hingga meledak menjadi kekerasan. Negara hadir sebagai pengurus (raain), bukan penonton. Mekanisme pembinaan, koreksi, dan penyelesaian masalah dilakukan dengan adil dan beradab, menjaga kehormatan semua pihak, terutama anak-anak sebagai generasi masa depan.


Sudah saatnya pendidikan dikembalikan pada nilai-nilai Islam. Bukan dengan solusi setengah-setengah, tetapi dengan perubahan arah. Pendidikan Islam secara menyeluruh adalah jalan untuk melahirkan generasi yang berilmu, beradab, dan berakhlak mulia. Karena generasi masa depan tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga hati yang lurus dan adab yang kokoh. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]