Alt Title

MBG Mencegah Stunting atau Politik Balas Budi

MBG Mencegah Stunting atau Politik Balas Budi




MBG tidak lebih dari sebuah proyek bancakan

bagi-bagi keuntungan dalam kekuasaan oligarki


_________________________


Penulis Anastasia, S.Pd.

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan "janji manis"  yang disampaikan oleh pasangan Prabowo dan Gibran dalam kampanye Pemilihan Presiden 2024. Tentu hal demikian menjadi angin segar bagi masyarakat yang selama ini mendambakan anaknya dapat memenuhi status gizinya dan diharapkan mampu menekan angka stunting. 


MBG yang saat ini sudah memasuki satu tahun, diklaim oleh pemerintah sebagai usaha untuk memenuhi status gizi yang menyasar peserta didik, balita, ibu hamil dan lansia. Hal tersebut bertujuan untuk memenuhi kualitas sumber daya manusia serta menghasilkan masyarakat sehat. 


Untuk diketahui, stunting merupakan ancaman yang serius yang saat ini menjadi target perhatian pemerintah untuk segera diatasi. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2020, prevalensi stunting di Indonesia sebesar 27,7%. Artinya, lebih dari 9 juta anak mengalami stunting. Hal ini cukup memperihatinkan apabila kita bandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Tailan. 


Walaupun pada tahun 2024, mengalami  penurunan. Dari 21,5% pada 2023 menjadi 19,8% pada 2024. (www.kemkes.go.id, 26-05-2025)


Akan tetapi, jumlah balita stunting terutama di enam provinsi, masih terkategori terbesar, yaitu Jawa Barat (638.000 balita), Jawa Tengah (485.893 balita), Jawa Timur (430.780 balita), Sumatra Utara (316.456 balita), Nusa Tenggara Timur (214.143 balita), dan Banten (209.600 balita).


Mampukah MBG Mencegah Stunting?


Mendapatkan makan siang gratis di sekolah merupakan angin segar bagi keluarga yang memang ada dalam hidup keterbatasan. Terutama untuk kelompok keluarga yang berpenghasilan kecil. Namun perlu diingat, pemberian MBG hanya diberikan di siang hari saat anak masuk sekolah tidak mampu mencukupi gizi. Karena, pemenuhan kebutuhan gizi anak harus dipenuhi sesuai dengan kebutuhan makan sehari-hari yaitu 3 kali. 


Hal lain perlu diingat, akses kesehatan dan kebersihan di daerah-daerah terpencil masih terbatas. Tentu, faktor tersebut mempunyai pengaruh terhadap tingginya angka stunting, khususnya di daerah terpencil yang memiliki angka stunting tinggi. 


Permasalahan stunting memang tidak bisa diselesaikan dengan pemberian makan dalam seporsi makanan berat. Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat tidak terpenuhinya gizi. Adanya infeksi berulang menyebabkan panjang atau tinggi badannya berada di bawah batas yang seharusnya.


Penyebab utama stunting adalah malnutrisi dalam waktu yang panjang, atau kurangnya pemenuhan gizi. Hal ini terjadi sejak bayi masih di dalam kandungan. Karena, ibu tidak mengkonsumsi gizi dan nutrisi yang memadai pada masa kehamilan. Adanya program MBG diharapkan mampu mencegah stunting dan tidak menyentuh akar permasalahan perlu dikritisi secara mendalam. 


Karut Marut MBG 


Semenjak progam MBG direalisasikan kita mendapati fakta-fakta permasalahan dilapangan. Dikelola oleh orang-orang yang terlibat hanya sebatas transaksi bisnis, dan hanya berputar di antara oligarki. 


Penyaluran yang tidak tepat sasaran, tidak menyentuh daerah yang terpencil, tidak melibatkan orang-orang yang kapabel di dalamnya. Sehingga muncul kasus keracunan yang diduga MBG tidak dikelolah oleh ahlinya. 


Tentu, hal ini mendapatkan sorotan di tengah-tengah masyarakat, dan memancing berbagai kritikan dari berbagai pihak salah satunya Anggota Komisi IX DPR RI dari Irma Chaniago, yang memberikan pandangan terhadap adanya dugaan elite politik partai yang ikut "berkuasa" proyek Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). 


Menurut penuturanya, kabar ini bukan menjadi rahasia umum lagi. Komisi IX DPR RI mengakui telah mendengar adanya isu politikus yang menguasai kuota dapur MBG. Mendapati banyaknya dapur fiktif di lapangan.(www.idntimes.com, 29-09/-2025)


MBG Politik Balas Budi 


Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah salah satu proyek unggulan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. MBG, adalah "janji manis" saat Pemilihan Presiden 2024, dan merupakan  program unggulan. Selama program tersebut berlangsung, masyarakat sudah bisa memahami bahwa pelaksanaan MBG sarat akan kendala. 


Hal ini disampaikan oleh temuan ICW, menunjukan bahwa program MBG dikritisi sebagai praktik politik kepentingan. Terlihat dari adanya hubungan yayasan pengelola SPPG dengan elite kekuasaan yang berada dalam lingkungan partai politik, yaitu tim sukses penyokong Prabowo maupun Joko Widodo, aparatur militer, dan aparat penegak hukum.


Hubungan ini dapat diartikan sebagai tindakan dugaan penyaluran sumber daya kepada banyak pihak untuk memperkuat dan memperluas dukungan politik. Yang merupakan bagian dari politik balas budi sebagai kompensasi dari kemenangan pemilihan umum. 


MBG tidak lebih dari sebuah proyek bancakan, bagi-bagi keuntungan dalam kekuasaan oligarki, sedangkan rakyat harus menanggung beban berat. Karena, anggaran negara yang dialihkan untuk MBG menyedot biaya-biaya yang sangat besar. Dengan manfaat yang tidak pernah bisa menyelesaikan masalah stunting apalagi menyelesaikan permasalahan gizi masyarakat. Jadi, dapat dipastikan MBG merupakan proyek yang menguntungkan bagi orang-orang yang mendukung elite kekuasaan. 


Islam Mewujudkan Masyarakat Bergizi Sehat


Islam adalah agama yang sangat memperhatikan kesehatan, termasuk di dalamnya makanan sebagaimana firman Allah Swt, Artinya: "Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata." (QS. Al Baqarah: 186).


Untuk itu, negara akan menjamin setiap masyarakat mendapatkan asupan gizi yang sehat. Karena itu, merupakan perintah Allah Swt sehingga seorang pemimpin akan menjalankan perannya sebagai pemimpin umat yang mengurus rakyatnya dengan penuh kesadaran. Sebab, setiap kepemimpinan akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah Swt..


Sumber pemasukan negara Islam mampu mewujudkan masyarakat sehat. Karena, pemasukan negara yang sangat beragam. Dari sumber daya alam, yang pengelolaannya diserahkan kepada negara, dan hasilnya dipergunakan untuk kesejahteraan umatnya termasuk urusan pangan. 


Sistem ekonomi Islam berorientasi kepada penyaluran, dan pendistribusian pangan yang mampu menjangkau seluruh elemen masyarakat. Sehingga tidak hanya diperuntukkan bagi sebagian masyarakat. Karena, pemenuhan gizi merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus dipenuhi oleh negara. Dengan begitu Islam mampu mewujudkan masyarakat sehat tanpa melakukan politik pencitraan. Wallahualam bissawab.[Dara/MKC]