Alt Title

Tolak Nge-Bully Tolak Di-Bully

Tolak Nge-Bully Tolak Di-Bully



Visi generasi dalam Islam, yaitu generasi penerap

penjaga dan penyebar (pengemban dakwah) Islam sebagai risalah universal


____________________________


Penulis Siska Juliana

Tim Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, REPORTASE - Kabar duka kembali menyelimuti dunia pendidikan negeri ini. Kasus perundungan sering kali terjadi dan memakan korban jiwa. Lantas, bagaimana cara remaja menghadapi kasus perundungan ini? 


Untuk menjawab rasa penasaran itu, Komunitas Smart With Islam mengadakan kajian yang bertajuk "Tolak Nge-Bully Tolak Di-Bully" pada Ahad, 16 November 2025. Kegiatan ini dihadiri oleh puluhan mahasiswa dan pelajar area Kota Bandung, Jawa Barat. 


Para peserta antusias mengikuti acara ini dari awal hingga akhir. Adanya sesi tanya jawab dan silah ukhuwah bersama peserta menambah pemahaman remaja muslimah yang menghadiri acara ini. 


Pemateri menyebutkan fakta adanya dugaan perundungan di perguruan tinggi setelah seorang mahasiswa, Timothy Anugerah Saputra, ditemukan terkapar di halaman gedung FISIP karena melompat dari lantai empat gedung fakultas itu pada Rabu (15-10). Timothy dinyatakan meninggal setelah sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit.


Fakta tersebut membuktikan bahwa sepertinya ada yang salah dengan sistem pendidikan di negara kita. Di mana pelaku pembullyan adalah seorang mahasiswa yang notebenenya bergelar “manusia berpendidikan”. Sungguh kontradiktif dengan gelar yang disematkannya dengan perilakunya membully temannya sendiri.


Hal ini terjadi akibat sekularisasi masif, menyusupnya agenda penjajahan bahkan dalam kurikulum, kapitalisasi dan komersialisasi pendidikan, pintu masuk penjajahan akademis dan propaganda sekuler, sistem pendidikan tidak ditujukan untuk menciptakan generasi emas dan peradaban emas, tetapi mencetak tenaga buruh terampil murah, tidak ideologis/melek politik untuk industri mereka.


Pemateri menjelaskan bahwa sistem pendidikan Khilafah merupakan penyelamat generasi. Dalam Islam, Negara-lah yang berkewajiban mengatur segala aspek yang berkenaan dengan sistem pendidikan yang diterapkan. 


Rasulullah saw. bersabda: 


الْإِمَامُ رَاعٍ، وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.


“Seorang imam (khalifah/kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akandimintai pertanggungjawabanatas urusanrakyatnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)


Berarti pendidikan di dalam negara adalah gratis tanpa pungutan biaya apa pun. 


Generasi dalam Islam adalah generasi penerap, penjaga, dan penyebar (pengemban dakwah) Islam sebagai risalah universal. Khalifah di bumi, pemimpin bertakwa, pelaku amar makruf nahi mungkar.


Kriteria profil lulusan dalam Islam yaitu kepribadian Islam, menguasai pemikiran Islam, menguasai ilmu terapan/IPTEK, memiliki keterampilan tepat guna. 


Pemateri menyebutkan generasi emas Islam yang cemerlang, salah satunya Ibnu Sina atau Avicenna. Beliau merupakan ilmuwan "Bapak Kedokteran Modern”, pengarang dengan 450 buku, al Qonun fi at Tibb, penghafal Al-Qur’an sejak usia 5 tahun, belajar ilmu kedokteran sejak usia 16 tahun, seorang fisikawan pada usia 18 tahun.


Lantas apa yang harus kita lakukan? 


- Membangun pola pikir kritis

- Membangun tanggung jawab generasi untuk Islam, umat dan manusia

- Membongkar iming-iming jalan hidup sekuler liberal

- Membentuk keyakinan akan keberadaan Allah dan kebenaran Al Qur’an/syariat

- Memelihara kerinduan terhadap surga

- Memahami Islam sebagai agama sekaligus ideologi yang sempurna, memahami pentingnya peradaban Islam dan sejarahnya


Dengan menerapkan aturan Islam secara kafah, maka perundungan dapat diakhiri dan terbentuk generasi emas yang melanjutkan peradaban gemilang. Wallahualam bissawab.