Abraham Accord Melanggengkan Penjajahan Atas P4lestina
OpiniHanya dengan kepemimpinan Islam yang berlandaskan wahyu Allah Swt.,
umat dapat bersatu mandiri berdiri tegas menghadapi hegemoni negara-negara kufur
____________________________________
Penulis Aksarana Citra
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Ketegangan kini melingkupi Turki dan Israel. Turki dengan tegas menyatakan surat penangkapan terhadap Perdana Menteri Isra*l dan sederet penjabat Isra*l atas dugaan genosida terhadap warga P4lestina.
Sekitar 37 tersangka yang menjadi target di antaranya menteri pertahanan, menteri keamanan nasional, kepala staf angkatan bersenjata Isra*l dengan tuduhan yang sama, yakni melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap warga P4lestina.
Pernyataan tersebut mendapat respons dari Isra*l. Isra*l menolak dengan keras dan menyebut tindakan tersebut sebagai propaganda politik Turki. Apa yang dilakukan Turki merupakan upaya memanfaatkan diplomasi regional dalam memainkan peram pascaperang di G4za melalui rencana pembentukan pasukan stabilisasi internasional yang diusulkan dalam rencana perdamaian regional presiden AS.
Akan tetapi, Isra*l menganggap apa yang dilakukan Turki sebagai bentuk campur tangan politik untuk memengaruhi sikap pro Isra*l dengan tegas menolak keterlibatan Turki dalam pasukan stabilitas internasional di G4za. H4mas menyambut baik sikap Turki dan menyatakan sebagai tindakan terpuji menegaskan ketulusan sikap rakyat dan pemimpin Turki. (tvonenews.com)
Di sisi lain, H4mas mengecam Kazakstan yang lebih memilih berhubungan dengan Isra*l dengan bergabung dalam perjanjian Abraham Accord. Abraham Accord sendiri adalah serangkaian perjanjian normalisasi hubungan diplomasi antara Isra*l dan beberapa negara Arab yang di mediasi oleh AS.
Tujuannya untuk menormalisasikan hubungan antarnegara dalam bidang ekonomi, keamanan, teknologi, pendidikan, perdamaian, serta stabilitas Timur Tengah. Pemerintah Kazakstan mengungkapkan pernyataan dan mengatakan bahwa ini adalah kelanjutan yang wajar dan logis dari kebijakan Kazakstan untuk stabilisasi regional.
P4lestina mengecam perjanjian ini dan menyatakan sebagai bentuk pembenaran genosida yang menewaskan 68.800 lebih warga P4lestina. H4mas menyatakan deklarasi ini sebagai hal yang tidak bisa diterima dan memalukan. Selain Kazakstan, ada 4 negara yang telah bergabung, yakni Bahrain Maroko, Sudan, dan UEA. (antaranews.com)
Turki memang menyuarakan pernyataan keras secara terbuka mengecam agresi Isra*l terhadap G4za. Namun kenyataannya, Turki belum sepenuhnya melepas hubungan strategisnya dengan Isra*l maupun Amerika Serikat. Di balik retorika politiknya kerja sama ekonomi militer dan diplomatik antara Turki dan kedua negara tersebut masih berjalan. Ini menunjukkan sikap Turki lebih bersifat politis dari pada benar-benar berpihak pada perjuangan rakyat P4lestina.
Keputusan yang dilakukan Kazakstan yang menjalin kerja sama dengan Amerika Serikat dan Isra*l melalui perjanjian Abraham Accord secara terang-terangan,telah menunjukkan bentuk pengkhianatan terhadap perjuangan rakyat P4lestina. Normalisasi hubungan dengan Isra*l merupakan perangkap AS dan sekutunya untuk melegalkan penjajahan Zion*s dan G4za.
Langkah ini mencerminkan bagaimana sebagian negara muslim lebih mementingkan kepentingan politik dan ekonomi daripada solidaritas terhadap sesama saudara seiman yang tertindas. Bukti nyata wajah dari pemimpin Islam yang tidak bisa lepas dari pengaruh Barat. P4lestina tidak akan merdeka selama para pemimpin Islam masih tunduk pada kebijakan Amerika Serikat dan kroninya.
Terkungkung dalam memecah belah umat dalam batas imajiner bernama negara bangsa. Terkungkung oleh paham nasionalisme yang telah memecah belah umat menjadi blok-blok negara yang terpisah sehingga menghambat persatuan dan solidaritas antarnegara termasuk persatuan umat dalam satu kepemimpinan Khil4fah.
Adapun negara-negara yang membela terkesan pasif dalam memperjuangkan kemerdekaan P4alestina. Hanya bisa mengecam seraya berdoa, mengirim bantuan kemanusiaan, dan mengadakan pertemuan diplomatik yang berakhir tanpa hasil nyata
Tidak ada solusi nyata dan strategis untuk mengatasi penderitaan rakyat P4lestina yang terus berlangsung. Segala upaya telah dilakukan demo besar-besaran, boikot barang yang berafiliasi langsung dengan Isra*l, tetapi sampai hari ini rakyat P4lestina masih menderita. Para pemimpin itu hidup di bawah bayang-bayang sistem nasionalisme sekuler dan kapitalisme global.
Di mana mereka terikat dengan kepentingan politik ekonomi. Mereka takut kehilangan kekuasaan dan bantuan internasional apabila bersikap. Memisahkan agama dan politik sehingga perjuangan dalam membebaskan P4lestina dianggap bagian dari sosial kemanusiaan dan kewajiban iman karena persamaan agama.
Narasi damai lewat perjanjian Abraham Accord tersimpan banyak kritik tajam karena Isra*l belum menghentikan penjajahan dan penindasan kepada warga P4lestina. Negara-negara yang menormalisasikan hubungan diplomatik dianggap bentuk pengkhianatan terhadap perjuangan rakyat P4lestina.
Mengabaikan umat Islam di P4lestina dengan membuka hubungan resmi dengan Israel. Mengorbankan solidaritas Islam demi kepentingan politik dan ekonomi. Alasan apa pun juga tidak bisa dibenarkan apalagi beralasan untuk kemajuan ekonomi, berarti lebih memilih keuntungan dunia dibanding prinsip keadilan dan ukhuwah islamiah.
Melemahkan kekuatan politik Islam global. Menyuburkan politik pragmatis dan oportunis Isra*l, negara muslim kini cenderung pragmatis bukan berdasarkan pada prinsip keislaman, tetapi berdasarkan siapa yang memberikan manfaat lebih cepat. Ini menunjukkan hilangnya ruh kepemimpinan Islam.
Beginilah bentuk sistem sistem kufur yang dijalankan di semua negara di dunia. Mereka mengedepankan keuntungan materi dibanding nyawa saudaranya sendiri, lebih memilih aman daripada ikut berjuang demi kebebasan saudaranya sendiri. Lebih memilih diam daripada menyuarakan dan berjuang sampai titik darah penghabisan.
Sistem sekuler kapitalis nasionalis ini nyatanya berhasil mengekang negara-negara agar tunduk pada kebijakan mereka. Dengan sedikit bantuan utang piutang bantuan kemanusiaan dan kerja sama diplomatik. Padahal semua itu menunjukkan bahwa penjajahan di era modern sekarang, bukan dengan fisik, tetapi lebih halus lagi dan sejatinya itu semua menjerat dan melemahkan kedaulatan umat Islam secara keseluruhan.
Oleh karena itu, solusi yang hakiki agar umat terbebas dari segala bentuk penjajahan dan dominasi asing adalah jihad dan kembali. Sistem Islam secara menyeluruh kafah, yakni penerapan syariat Islam di bawah naungan Khil4fah ala minhaj nubuwwah.
Hanya dengan kepemimpinan Islam yang berlandaskan wahyu Allah Swt., umat dapat bersatu mandiri berdiri tegas menghadapi hegemoni negara-negara kufur yang selama ini menindas negeri-negeri muslim dan Khil4fah sebagai junnah akan mencabut penjajahan hingga akar-akarnya dari bumi P4lestina.
Alloh berfirman: "Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin." (QS. An-Nisa: 141)
Umat Islam tidak membiarkan kekuatan kafir menguasai menjajah atau menekan secara politik militer ekonomi. Umat Islam harus terbebas dari segala jeratan kafir. Karena itu, kita harus terus menyuarakan dakwah Islam keseluruhan penjuru dunia demi membebaskan segala ketidakadilan yang dirasakan saudara-saudara kita di P4lestina, Sudan, Suriah. Umat harus disadarkan tentang pentingnya perjuangan mengembalikan kehidupan Islam sesuai metode dakwah Rasulullah saw..
Khil4fah adalah perisai sebagai pelindung umat dan siap berperang demi kebebasan umat. Kepemimpinan Islam yang satu sehingga umat dapat terlindungi dari segala ancaman luar baik dalam bentuk penjajahan fisik maupun sistem. Mengembalikan lagi kejayaan Islam dan menyatukan kembali negeri-negeri Islam dalam satu naungan Daulah Islamiah. Wallahualam bissawab.


