Alt Title

Membongkar Keterlibatan Asing di Balik Konflik Sudan

Membongkar Keterlibatan Asing di Balik Konflik Sudan




Krisis yang terjadi di Sudan sudah berlangsung lama dan bukan murni konflik etnis

tetapi ada keterlibatan negara-negara asing di dalamnya


_______________________


Penulis Evi Sukaesih

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Krisis Sudan semakin membukakan mata dunia. Dalam 3 hari terakhir saja lebih dari 1.500 tewas dan 12 ribu penduduknya mengungsi. Belum lagi pasukan bersenjata melakukan pemerkosaan terhadap anak-anak. Pembersihan etnis (pembunuhan) genosida pun terjadi. Menurut PBB, sudah terjadi krisis yang mengerikan di Sudan.


Sudan negara terbesar ketiga di Afrika, yang dilewati sungai Nil terpanjang dan piramida yang lebih banyak dari Mesir. Mayoritas penduduknya muslim. Produsen emas arab terbesar dengan cadangan emasnya mencapai 1.550 ton. Cadangan minyaknya lebih dari 3 miliar barel.


Memproduksi getah arab yang digunakan dalam industri makanan dan kimia. Pegunungan Nuba di Sudan kaya akan kandungan uranium. Namun, di tengah kekayaan sumber daya alam yang melimpah, nyatanya mengalami krisis kemanusiaan yang sangat panjang. (Republika.ci.id, 30-10-2025)


Krisis yang terjadi di Sudan sudah berlangsung lama dan bukan murni konflik etnis, tetapi ada keterlibatan negara-negara asing di dalamnya. Sudan yang direbut Inggris dari tangan Daulah pada tahun 1898. Selain melumpuhkan kekuatan Kekhilafahan Utsmaniyyah, Inggris bertekad untuk mengamankan kendali atas Mesir dan sungai Nil yang merupakan salah satu dari dua jalur perdagangan dengan koloni-koloninya di India dan Afrika Selatan.


Dalam mempertahankan kekuasaannya, Inggris melakukan taktik klasik, yakni devide et impera (adu domba dan kuasai) baik secara etnis maupun agama. Pemerintahan Inggris membagi dua wilayah Sudan Utara dan Selatan. Seiring dominasi Inggris melemah, Amerika Serikat melalui PBB mendesak negara-negara Eropa membebaskan negara jajahannya.


Usai deklarasi kemerdekaan Sudan tahun 1956, AS mulai mengokohkan hubungan diplomatik dan pengaruh politiknya di Sudan. Konflik yang terjadi di Sudan adalah siasat jahat Amerika Serikat dengan sejumlah tujuan. Pertama, membersihkan pengaruh Inggris baik secara politik maupun militer. Menyokong pasukan RSF (Rapid Support Forces) untuk melakukan pembersihan kelompok-kelompok pro Inggris terutama di Darfur.


Kedua, membentuk kuartet kekutan politik bersama Saudi (UEA) dan Mesir untuk mencegah masuknya negara asing lain dalam menangani konflik Sudan. Dan ini mengokohkan dominasi AS di Sudan.


Ketiga, memecah belah Sudan hingga melemah dan mudah dikuasai. AS melalui RSF berusaha menguasai Darfur dan menjadikan kawasan terpisah. Nyatanya, Darfur merupakan jalur yg menghubungkan Sudan menuju Chad, Libya, dan Republik Afrika Tengah. Wilayah Darfur kaya akan cadangan mineral termasuk logam mulia seperti emas, logam dasar seperti tembaga serta mineral industri seperti batu kapur dan tanah liat. Hal tersebut menjadi objek permainan dan perebutan negara adidaya.


Keempat, AS dan Inggris mempunyai kepentingan politik yang sama tidak lain menghentikan kebangkitan Islam. AS memainkan isu terorisme dan radikalisme juga memecah belah wilayah Sudan. Mengadu domba berbagai kelompok militer, suku dan agama dengan tujuan melemahkan kekutan kaum muslim Sudan.


Pentingnya Umat Bersatu


Saat ini, berbagai konflik dan permasalahan yang melanda saudara-saudara muslim di berbagai belahan dunia setelah Myanmar, Uighur, India, dan G4za kini Sudan menyusul menjadi kawasan penderitaan umat. Pasukan sokongan kafir Barat AS menari-nari di atas darah kaum muslim bahkan merusak kehormatan muslimah di sana. Padahal darah  muslim sangat berharga.


Nabi bersabda: "Hancurnya dunia ini lebih ringan bagi Allah dari pada pembunuhan seorang muslim tanpa haq." (HR. Ibnu Majah)


Ironinya, para pemimpin muslim ini justru bersekongkol dengan negara-negara Barat penjajah menyembelih kaum muslim. Mereka menyokong tindakan jahat AS di Sudan sama seperti apa yang dilakukan terhadap G4za. Sejatinya menyalahi sunah Rasulullah saw..


Sesuai sabda Rasulullah saw.: "Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, iya tidak mendzalimi dan tidak membiarkan saudaranya itu (disakiti)." (HR. Al-Bukhari)



Semestinya, kita menyadari saat ini kaum muslim tanpa perisai dan pelindung. Kita sangat membutuhkan perisai itu. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw.: "Sesungguhnya imam (Khalifah) adalah perisai orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepada dirinya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Saatnya umat bersatu dalam ukhuwah Islamiah di bawah institusi Daulah Islamiah yang mengikuti metode kenabian sehingga berbagai problematika krisis baik ekonomi, politik dan lainnya dapat menyelesaikan permasalahan dengan penerapan Islam. Persatuan negeri-negeri muslim di bawah kesatuan sistem Islam adalah sebuah keniscayaan untuk melawan hegemoni penguasaan kafir Barat yang telah membuat umat Islam terjajah, terpecah dan menderita. 


Saatnya kaum muslim seluruh penjuru dunia menyadari hakikat persatuan ini dan yakin akan janji Allah Swt. bagi kaum muslim.


Sebagai mana dalam firman-Nya: "Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; Dia sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai dan Dia sungguh akan mengubah (keadaan) mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Siapa yang kufur setelah (janji) tersebut, mereka itulah orang-orang fasik. (QS. An-Nur [24]: 55)


Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]