Alt Title

Guru dalam Sistem Kapitalisme Dilarang Materialistis

Guru dalam Sistem Kapitalisme Dilarang Materialistis



Realita guru materialistis tidak bisa dimungkiri 

karena ini lahir dari paradigma berpikir kapitalis materialistis


_________________________


Penulis Ekke Ummu Khoirunnisa

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Seminar Nasional “How To Be a Great Teacher” yang digelar Bupati Kabupaten Bandung mengapresiasi pelaksanaan pada Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung yang bekerjasama juga dengan KNPI.


Beliau memberikan pandangannya dalam seminar tersebut bahwa guru harus memiliki kemampuan lebih daripada siswanya.


Sebagai seorang guru harus mencintai profesinya sehingga tidak akan mudah merasa lelah dan stres karena setiap hari mengurus anak-anak orang lain. Apalagi sampai putus asa dan frustasi. Hal yang memilukan bahwa guru dan kepala sekolah tidak boleh berpikir materialistis karena sudah menerima gaji. Harus lebih fokus dalam mengajar dan mengurus sekolah. (mediakasi)


Dari semua yang disampaikan, dapat kita pahami bahwa pandangan beliau terhadap guru benar adanya. Guru harus mencintai profesinya, memiliki kemampuan lebih dibandingkan siswanya, bahkan menjadi teladan atas sikapnya di tengah siswa. Namun, ada pernyataan beliau yang sangat memprihatinkan tentang guru dan kepala sekolah, yaitu tidak boleh materialistis setelah menerima gaji, fokus saja mengajar dan mengurus sekolah.


Dalam kapitalisme sekuler saat ini, realita guru materialistis tidak bisa dimungkiri karena lahir dari paradigma berpikir kapitalis materialistis sebab memisahkan agama (Islam) dari kehidupan. Sistem rusak inilah yang melahirkan sikap guru dalam mengajar hanya menjalankan dan menggugurkan kewajiban saja.


Tanpa ada rasa tanggung jawab atas hasil pendidikan bagi anak-anak didiknya ditambah sulit dan himpitan ekonomi yang menjerat para guru menjadikan prioritas potensi pendidik menjadi terbatas dan cenderung mengabaikan amanah mulia yang kelak akan diminta pertanggunjawabannya di hadapan Allah Swt..


Sebagaimana firman Allah Swt dalam surat Al-Anfal ayat 27: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui."


Materialistis jelas bertentangan dalam Islam. Bahkan pola pikir ini dipandang berbahaya karena berpengaruh pada pola sikap. Ketika Islam berkuasa maka kurikulum sekolah wajib bersumber dari aqidah Islam. Dalam sistem Islam yang berbingkai Khil4fah akan menjamin kehidupan para guru sehingga guru dan kepala sekolah akan fokus mengajar dan mengelola sekolah.


Tentunya, dengan peran negara yang menopang maksimal income sepadan untuk tenaga pendidik, yakni kebutuhan sandang, pangan, dan papan bagi kepala sekolah serta guru sudah dijamin oleh Negara. Pendapatan yang layak akan diperoleh kepala sekolah dan guru dari pos Baitulmal.


Ini bukan sesuatu yang terkategori materialistis namun semata-mata sebagai penghargaan atas dedikasi para guru dan kepala sekolah. Di mana, mereka berhak mendapatkan penghidupan yang layak. 


Dalam Islam, kurikulum pendidikan dilandaskan pada akidah Islam. Secara otomatis guru wajib memiliki pemahaman yang bersumber dan terikat dengan akidah Islam. Sejatinya dalam Islam, guru bekerja dengan segenap kemampuannya agar visi misi negara berjalan, yaitu membentuk generasi dengan kepribadian yang mulia. Siap di garda terdepan menjadi pembela Islam dengan dakwah dan jihad.


Hanya dengan penerapan Islam secara kafah dalam bingkai Daulah Islamiah, kesejahteraan finansial guru terjamin. Jasa mulia seorang guru akan mendapatkan penghargaan setinggi-tingginya karena guru dalam sistem Islam memiliki kedudukan yang mulia.


Penghormatan yang agung sebab guru memilki motivasi utama yaitu untuk mencari rida Allah dan kebaikan umat bukan semata-mata untuk keuntungan duniawi. Meskipun kesejahteraan finansial mereka terjamin oleh sistem Islam. 


Semoga impian guru-guru dan umat Islam untuk hidup sejahtera dapat segera terwujud dalam waktu dekat. Aamiin Allahumma Aamiin. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]