Fatherless Kian Populer, Buah Kehidupan Kapitalis Sekuler
OpiniFatherless bukanlah akibat semata-mata dari kegagalan pribadi para ayah
Namun hal ini terjadi karena penerapan sistem kehidupan yang rusak
______________________
Penulis Eva Rahma
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - "Aku hanya memanggilmu Ayah, disaat ku kehilangan Arah", sepenggal lirik lagu yang sudah tidak asing didengar khususnya oleh kaum Gen Z membuktikan pentingnya kehadiran sosok ayah.
Fenomena “fatherless” atau ketiadaan sosok ayah dalam kehidupan anak, baik secara fisik, emosional, maupun peran pendidikan semakin hari kian mencemaskan. Bukan hanya terjadi di negara-negara Barat sebagai pengusung ideologi sekuler, tetapi juga merambah negeri-negeri muslim seperti Indonesia. Bahkan Indonesia berada di peringkat ketiga dengan kasus fatherless tertinggi di dunia. (VOI.id, 11-10-2025)
Data harian Kompas merilis, sebanyak 15,9 juta anak di Indonesia memiliki potensi tumbuh tanpa peran aktif seorang ayah. Artinya 20,1 persen dari total 79,4 juta anak yang berusia kurang dari 18 tahun kehilangan sosok ayah dalam kehidupan mereka.
Di media sosial, dukungan terus mengalir kepada mereka yang mengalami fatherless. Dalam akun instagram @ruthhelga banyak yang menceritakan pengalaman menjadi anak yang hidup tanpa peran ayah.
Ada yang ayahnya benar-benar tidak hadir karena perceraian, perpisahan, atau kematian. Namun, yang lebih banyak lagi adalah mereka yang memiliki ayah secara biologis, tetapi secara psikologis dan sosial tidak pernah benar-benar hadir sebagai figur ayah yang mendidik, membimbing, melindungi, dan menjadi teladan.
Namun, banyak pihak yang masih melihat masalah ini hanya dari sisi personal, seperti kurangnya kesiapan menjadi orang tua, lemahnya pendidikan keluarga, atau kurangnya kemampuan emosional pria dalam mendidik anak. Padahal fenomena fatherless bukan sekadar masalah individu atau keluarga, melainkan buah dari sistem kehidupan kapitalis-sekuler yang kini menguasai masyarakat secara sistemik.
Kapitalisme Sekuler: Akar Masalah Fatherless
Dalam sistem kapitalisme, kesuksesan dan kebahagiaan diukur dari materi. Para pria didorong untuk bekerja sekeras mungkin, bahkan mengorbankan waktu, tenaga, dan hubungan keluarga demi mengejar materi semata. Banyak ayah yang keluar rumah sejak subuh dan kembali setelah anak-anak tertidur. Bahkan, tak sedikit yang harus merantau ke luar kota atau luar negeri demi mengejar penghasilan.
Sistem kapitalis sekuler telah menjadikan ayah sebagai mesin penghasil uang, bukan sebagai pendidik atau pelindung keluarga. Padahal, Islam memandang peran ayah juga sama pentingnya dengan seorang ibu dalam mendidik anak.
Lebih parah lagi, sistem sekuler telah membebaskan pergaulan dan merusak institusi keluarga. Seks bebas, pergaulan bebas, aborsi, perceraian, dan pernikahan yang rapuh menjadi hal biasa. Tak heran, jika jutaan anak lahir dan tumbuh dalam kondisi tanpa kejelasan figur ayah, baik karena perceraian, kelahiran di luar nikah, atau karena hubungan tidak sah.
Inilah realita pahit dari sistem sekuler. Ia menciptakan kerusakan yang sistemik, namun menyalahkan individu saat dampaknya muncul. Padahal, fatherless bukanlah akibat semata-mata dari kegagalan pribadi para ayah, namun hal ini terjadi karena penerapan sistem kehidupan yang rusak.
Akibat Fatherless: Generasi Tanpa Arah
Dampak dari fatherless bukan hal sepele. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah lebih rentan mengalami masalah psikologis, kesulitan dalam membangun identitas diri, rendahnya rasa percaya diri, bahkan memiliki kecenderungan kriminalitas dan penyimpangan moral.
Dalam Islam, peran ayah sangat vital dalam membangun jati diri anak, menanamkan aqidah, membentuk akhlak, dan mengarahkan masa depan mereka. Hilangnya peran ini berarti hilangnya pondasi utama dalam pembentukan karakter generasi.
Tidak mengherankan jika kita hari ini melihat generasi muda yang mudah frustrasi, putus asa, mengalami krisis identitas, bahkan tergoda dengan ideologi asing yang merusak seperti hedonisme, feminisme , hingga LGBTQ+. Semua itu adalah akibat dari hilangnya figur pembimbing dan pelindung dalam keluarga.
Islam: Solusi Menyeluruh bagi Krisis Fatherless
Dalam Islam, mendidik anak tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu sebagai ummu warabbatul bait, tetapi ayah juga bertanggung jawab dalam mendidik anak. Ayah adalah pendidik utama yang bertanggung jawab atas akidah, ibadah, dan akhlak anak-anaknya. Negara juga berkewajiban menyediakan peraturan yang memungkinkan peran itu dijalankan secara optimal.
Dalam Islam, seorang ayah adalah qawwam, pemimpin dan pelindung keluarga, sebagaimana firman Allah : "Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri)." (QS. An-Nisa: 34)
Seorang ayah harus mampu menjadi teladan dan memiliki akhlak yang baik bagi keluarga terkhusus anak-anaknya, sebagaimana yang dicontohkan Luqman kepada anaknya yang termaktub dalam QS. Luqman. Ayah memang memiliki tugas sebagai pencari dan pemberi nafkah. Namun, harus tetap menjaga keseimbangan antara tugas dunia dan akhirat.
Dalam menjalankan kewajiban sebagai ayah, Islam tidak membebankan peran ini secara individual tanpa dukungan dari Negara. Dalam sistem Islam, negara akan menciptakan sistem ekonomi yang adil. Setiap kepala keluarga dijamin akses terhadap pekerjaan yang layak dengan penghasilan mencukupi, sehingga tidak harus mengorbankan waktu dan keluarganya demi bekerja.
Negara menjamin kebutuhan dasar rakyat, seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan, sehingga tidak semua harus ditanggung langsung oleh individu. Dengan demikian, ayah bisa fokus membina keluarganya tanpa tekanan ekonomi yang berlebihan.
Sistem perwalian (wilayah) akan memastikan bahwa setiap anak, terutama yatim atau anak yang kehilangan ayah tetap mendapatkan figur laki-laki yang bertanggung jawab atas pendidikan dan perlindungan mereka. Hukum Islam menjaga institusi keluarga, melarang seks bebas, menjunjung tinggi pernikahan, dan memberikan ketegasan terhadap perceraian serta kezaliman dalam rumah tangga.
Saatnya Kembali ke Sistem Islam
Fenomena fatherless adalah gambaran nyata kegagalan sistem kapitalisme-sekuler dalam membentuk keluarga yang utuh dan generasi yang berkualitas. Selama sistem ini tetap dipertahankan, krisis ini akan terus memburuk dan mewariskan generasi yang rapuh.
Sudah saatnya umat Islam menyadari bahwa solusi bukan terletak pada seminar parenting semata, atau terapi psikologi yang mahal. Akan tetapi, kembali kepada sistem hidup Islam yang menyeluruh yang bukan hanya mengatur ibadah, tetapi juga keluarga, ekonomi, pendidikan, hingga negara.
Hanya dengan penerapan syariah Islam secara kafah, peran ayah akan dihormati dan difasilitasi. Hanya dengan sistem Islam, keluarga akan menjadi tempat paling aman dan menenangkan bagi anak-anak. Hanya dengan Islam, kita akan mampu melahirkan generasi yang kuat akidahnya, tangguh jiwanya, dan mulia akhlaknya. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]


