Angka Bunuh Diri Meningkat Kegagalan Sistem Pendidikan Sekuler
Opini
Semua ini tidak terjadi begitu saja, ini adalah buah dari penerapan sistem sekuler kapitalis
Sistem ini yang melahirkan faktor-faktor bunuh diri yang terus meningkat
_______________________
Penulis Diana
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Pada bulan Oktober kemarin, kita di kejutkan dengan berita bunuh diri dua orang siswa dari kabupaten Cianjur dan kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Dua siswa yang masih SMP ini, di temukan bunuh diri di sekolah pada Oktober kemarin. Padahal, tidak ada dugaan kasus bullying yang mendorong mereka untuk bunuh diri.
Siswa yang bernama Arif, di temukan tergantung di ruang OSIS pada 06-10-2025, sedangkan Bagindo di temukan tergantung di ruang kelas pada 28-10-2025. Pada bulan Oktober kemarin, wakil menteri kesehatan, yaitu Dante mengungkapkan fakta data dari program pemeriksaan kesehatan jiwa gratis, menunjukkan angka yang menghawatirkan yaitu lebih dari dua juta anak mengalami gangguan mental dari 20 juta anak yang diperiksa.
Angka bunuh diri yang kian meningkat di kalangan pelajar setiap tahun perlu diperhatikan lebih dalam. Karena bunuh diri bukan hanya korban bullying, tetapi ada beberapa faktor yang perlu di perhatikan juga.
Fenomena bunuh diri ini menunjukkan betapa rapuhnya kondisi mental generasi muda. Hal ini di sebabkan oleh berbagai faktor baik dari keluarga, lingkungan, pertemanan, dan tekanan hidup dan tak luput pendidikan yang kurang tepat. Rapuhnya mental generasi saat ini di sebabkan lemahnya aqidah yang di tanamkan pada mereka. Sistem pendidikan saat ini, mendorong generasi muda untuk bekerja atau pencetak uang, sehingga mereka lupa akan tujuan penciptaannya.
Lemahnya mental generasi muda juga di sebabkan oleh paradigma usia yang menyatakan anak di katakan dewasa ketika menginjak usia 18 tahun. Hal ini menyebabkan anak yang sebenarnya sudah balig, masih saja di perlakukan seperti anak kecil sehingga sikap dewasa mereka menjadi tidak terbentuk sejak dini. Seharusnya, anak-anak di didik menyempurnakan akal sejak kecil. Ketika ia memasuki usia balig cukup untuk berperilaku atau bersikap sesuai umurnya.
Bunuh diri adalah puncak tertinggi dari gangguan mental yang terjadi pada generasi muda. Karena masalah ekonomi, konflik dalam keluarga, tuntutan gaya hidup, dan lemahnya aqidah yang mendasari hidup setiap manusia dan lain-lain. Sehingga generasi muda kehilangan jati diri dan lupa tujuan hidupnya serta bunuh diri menjadi jalan akhir.
Semua ini tidak terjadi begitu saja, ini adalah buah dari penerapan sistem sekuler kapitalis. Sistem ini yang melahirkan faktor-faktor bunuh diri yang terus meningkat. Sistem ini bukan hanya melahirkan generasi yang bermental rapuh tapi juga generasi yang semakin terpuruk dari berbagai bidang.
Berbeda halnya dengan sistem Islam. Dalam Islam, semuanya di atur dengan sangat teliti dan terperinci, seperti halnya dalam dunia pendidikan dan pembentukan karakter pada generasi muda. Islam menjadi dasar pendidikan dalam berbagai bidang, seperti keluarga, sekolah dan berbagai jenjang pendidkan.
Dengan menjadikan aqidah Islam yang menjadi dasar pendidikan, generasi muda akan memiliki kekuatan untuk menghadapi kesulitan hidup. Pendidikan sistem Islam, bertujuan membentuk pola pikir dan pola sikap yang islami sehingga pada diri generasi muda terbentuk kepribadian yang islami pula.
Dalam Islam, anak yang sudah balig akan di ajarkan untuk berfikir dan di berikan pendidkan yang mendewasakan juga mematangkan kepribadian anak muda. Islam bukan hanya memberikan solusi berupa pendidikan yang islami, tetapi mewujudkan solusi pada aspek nonklinis, seperti pemenuhan kebutuhan pokok, keluarga yang baik dan petunjuk arah hidup sesuai tujuan penciptaannya.
Kurikulum atau sistem pendidikan yang diterapkan Islam, memadukan antara penguatan dan pembentukan karakter islami dan penguasaan kompetensi ilmu sehingga generasi muda mampu menyikapi setiap persoalan dalam hidup dengan cara yang sesuai syariat. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]


