Generasi Tanpa Nurani Buah Pahit Sekularisme
AnalisisHanya penerapan sistem Islam secara kafah,
generasi emas yang diimpikan Insya Allah akan terlaksana
______________________________
Penulis Aksarana Citra
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, ANALISIS - Di negeri ini yang terkenal dengan budaya ramah tamah, sopan santun, dan saling menghormati akhir-akhir ini dikejutkan dengan berita kurang menyenangkan dari generasi penerusnya. Ada yang terseret kasus pengeboman dan pembakaran.
Kini kita menyaksikan generasi penerus yang hilang arah. Seperti menelan pil pahit ketika rentetan kasus terjadi dilatarbelakangi oleh perundungan. Selain itu, bunuh diri akibat bullying juga merebak. Ada apa dengan generasi penerus kita? Akankan generasi emas yang digaungkan selama ini akan menjadi khayalan semata?
Anak-anak yang seharusnya menjadi harapan bangsa malah terjerumus ke dalam kekerasan dan kebencian. Karena hilangnya akhlak dan moral dari suatu kelas kecil tanpa penerapan nilai ketuhanan, maka lahirlah jiwa yang kosong, pintar berpikir, tetapi miskin nurani.
Jumat 7 November 2025, terjadi ledakan di SMA 72 Jakarta tepatnya di area masjid saat salat Jumat berlangsung. Tidak ada korban jiwa, tetapi tercatat 96 orang mengalami luka-luka dan sekarang dilarikan ke rumah sakit terdekat. Densus 88 akhirnya mengamankan terduga pelaku di mana masih berstatus pelajar di SMA 72.
Densus 88 pun menyebut ada sebanyak 7 bahan peledak 4 di antaranya sudah diledakan oleh pelaku dan 3 lainnya berhasil disita untuk proses penyelidikan. Pelaku yang masih berstatus pelajar itu diduga kerap mengunjungi situs-situs darknet sebelum ia melakukan aksinya. Polisi masih mendalami motif pelaku. Dugaan sementara pelaku merupakan korban perundungan atau pembullyan di sekolahnya. (cnnindonesia.com)
Selain itu, di Kuto Bro Aceh Besar terjadi pembakaran pesantren oleh santrinya karena sakit hati akibat menjadi korban perundungan dan sering diolok-olok idiot oleh teman-temannya. Motif pelaku dalam melancarkan aksinya dilatarbelakangi perundungan yang kerap dirasakannya. Akibatnya, pelaku tertekan secara mental hingga timbul niat untuk membakar, karena tujuan pembakaran itu adalah pelampiasan kemarahan dan dendam, dengan membakar barang teman temannya. (detikNews.com)
Kasus pengeboman yang terjadi di SMA 72 dan pembakaran pesantren di Aceh Besar merupakan implikasi bullying telah merebak di berbagai daerah. Bukti dari problem sistemik dalam pendidikan serta merupakan buah pahit dari kegagalan sistem pendidikan kapitalis sekuralisme.
Di sisi lain, pengeboman sering dihubungkan ke tindakan radikalisme dan terorisme yang malah menyudutkan Islam padahal tidak ada sangkut pautnya dan rasanya tidak bijak apabila menggiring opini seperti itu. Justru hal seperti ini terjadi karena moral peradaban anak-anak remaja saat ini rusak karena memisahkan Islam dari kehidupan. Sekolah tidak lagi menerapkan basis pendidikannya pada Islam.
Walaupun negeri ini mayoritas muslim, tidak menjadikan Islam sebagai ideologi atau pedoman hidup dan bernegara. Alhasil, kasus pengeboman di SMA 72 dan berita yang lain silih berganti memenuhi jagad pemberitaan dan beberapa berita menyatakan bahwa motivasi perilaku anak tersebut adalah didorong karena kasus perundungan.
Budaya pop global, termasuk film dan musik Korea, memiliki pengaruh besar pada remaja Indonesia. Media sosial juga berperan dalam menyebarkan nilai-nilai dan gaya hidup yang tidak selalu sesuai dengan norma-norma agama dan budaya lokal dan malah memperparah pelaku aksi bullying.
Bahkan bullying dijadikan konten-konten candaan. Hal ini menunjukkan telah terjadinya krisis adab dan hilangnya fungsi pendidikan yang seharusnya mendidik generasi penerus dengan penanaman nilai-nilai spiritual.
Tontonan dan game tentang kekerasan yang bisa memengaruhi mental dan psikis anak dan menjadi bahan rujukan korban bullying untuk melakukan aksinya yang bisa membahayakan nyawa orang lain sebagai pelampiasan kemarahan dan balas dendam. Aksi yang mereka lakukan seolah menyerupai adegan drama action atau game FF.
Ketimpangan sosial ekonomi dapat memicu perundungan dan perilaku negatif lainnya. Remaja dari keluarga miskin atau minoritas sering menjadi target perundungan karena dianggap berbeda. Kalau kita lihat perundungan kerap terjadi kepada anak-anak remaja disebabkan oleh gaya liberal, pemikiran tentang kebebasan dengan berorientasi kapitalis.
Culun dirundung, miskin dirundung, yang dianggap tidak mewakili bentuk kata keren dari sebuah peradaban dirundung, atau yang tidak mau mengikuti tren kebanyakan dirundung. Seperti kasusnya seorang mahasiswa di Denpasar Bali yang mengakhiri hidupnya sendiri dengan tragis akibat dari perundungan. Parahnya, setelah kematiannya tidak luput dari tindakan perundungan.
Ini adalah masalah serius bagi anak-anak remaja kita saat ini. Kasus kriminalitas kerap terjadi di ranah usia remaja. Peran keluarga sangat penting dalam memberikan pendidikan moral dan agama kepada anak-anak. Namun, banyak keluarga di Indonesia menghadapi tantangan ekonomi dan sosial yang dapat memengaruhi kemampuan mereka dalam mendidik anak-anak.
Kerusakan moral anak remaja saat ini bukan karena karakternya terlahir dengan karakter yang buruk, tetapi lingkungan dan sistem yang membuat mereka menjadi buruk. Anak yang terlahir baik pun apabila diberi kondisi sistem seperti saat ini bisa menjadikan anak itu memiliki perilaku yang buruk pula.
Karena apa yang disematkan ke kepala anak remaja pada saat ini tentang cara mendapatkan kebahagiaan itu harus dengan kekayaan, badan, dan wajah yang cantik sesuai dengan standar kecantikan. Memiliki kemampuan untuk bisa berkuasa dengan harta. Jadi, sudah jelas apa yang ada di pikiran anak-anak kini adalah materi
Inilah buah pahit kapitalis yang menilai segala sesuatu dengan materi. Akhirnya, membuat sebuah peradaban berjalan sesuai zaman, tetapi tidak jelas mau bagaimana. Cara hidup yang liberalis pun menjadi penyokong kasus-kasus tersebut. Segala yang mereka lakukan demi kata kebebasan. Mereka tidak akan mementingkan lagi norma atau budaya karena yang mereka mau hanya kebebasan.
Mereka hidup, berbicara, berbuat semaunya seolah tidak akan ada yaumil hisab atau kehidupan setelah kematian. Kebanyakan dari mereka hanya mempelajari tentang ibadah ritual saja, tidak sampai ke sendi-sendi pokok agama. Pelajaran yang mereka dapat hanya transfer ilmu dunia saja tanpa ada penerapan nilai-nilai spiritual dan norma agama.
Sementara itu, negeri kita mayoritas muslim, tetapi anak-anaknya hidup justru jauh daripada aturan-aturan dia sebagai seorang muslim. Karena sistem pendidikan yang sekuler kapitalistik yang berfokus pada materi telah gagal dalam membentuk kepribadian anak-anak dan menjadi akar permasalahan rusaknya peradaban pada saat ini. Maka sekolah sekarang ini banyak mencetak anak-anak yang pintar dan berpikir, tetapi bodoh dalam empati dan miskin nurani.
Belum lagi penjajahan neoimperialis yang berpusat pada penjajahan pemikiran. Di mana paham dan gaya hidup penjajah disebarkan melalui media pendidikan atau cara lain yang lebih diterima oleh masyarakat. Remaja jadi sasaran empuk untuk para agen Barat dalam melanggengkan pengaruhnya.
Di mana kedepannya cita-cita para elite tersebut adalah menguasai dunia dengan slogan New World Order. Istilah New World Order atau tatanan dunia baru bukan sekadar opini para agen konspirasi, tetapi real terjadi dalam setiap kebijakan yang ada di dunia ini.
Maka sekularisme kapitalisme liberalisme sangat erat hubungannya dan saling menopang karena merupakan ideologi utama dalam mendukung sistem global ini. Sistem global yang dikendalikan oleh segentir orang dan bersatu di bawah satu ideologi dan ekonomi serta budaya.
Semua kasus terjadi ini sistemik, maka harus dituntaskan dengan cara sistemik juga. Namun sayangnya, sistem Islam yang seharusnya diterapkan dan menjadi solusi malah ditinggalkan bahkan di cap sebagai pemikiran yang radikal.
Islam menawarkan solusi dalam penyelesaian segala permasalahan remaja. Tujuan pendidikan dalam Islam adalah dengan membangun kepribadian Islam pada diri anak-anak. Proses pendidikan dilakukan dengan cara pembinaan intensif, menamkan akidah Islam sebagai landasan berpikir (aqliyah) dan bersikap (nafsiyah) tidak hanya berfokus pada nilai materi.
Remaja harus dibina untuk menjadikan Allah Swt. sebagai pusat tujuan hidupnya dan memberi pemahaman bahwa kita hidup di dunia hanya sementara. Setiap amal perbuatan pasti akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Dengan menerapkan kesadaran ini, remaja tidak akan mudah terjerumus pada kejahatan karena dia akan malu dan takut pada Sang Pencipta.
Pendidikan Islam berpusat pada mendidik iman dan akhlak. Kurikulum harus berbasis akidah Islam, menjadikan adab sebagai dasar pendidikan. Islam menjadikan pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pembentukan kepribadian islami.
Guru dan lembaga pendidikan berperan sebagai murrabi (pendidik iman) bukan sekadar pengajar dan guru dibina agar akhlaknya menjadi role model bagi anak-anak. Pendidikan harus menanamkan kesadaran menjaga diri dari dosa dan maksiat, bukan mengejar nilai akademik saja.
Penerapan hukum syariat dan hudud yang merupakan aturan tegas dan adil agar kejahatan tidak akan berkembang. Selain itu, pencegahan sejak dini harus dilakukan agar lingkungan bersih dari maksiat dan kekerasan. Tujuannya bukan untuk menyiksa, tetapi menjaga masyarakat dari kehancuran moral.
Peran negara Khilafah wajib menjadi penjamin utama pendidikan, pembinaan moral, dan perlindungan generasi dari kezaliman sosial. Islam menuntaskan persoalan remaja bukan dengan seminar konseling, tetapi dengan sistem kehidupan Islam.
Khalifah akan menjamin pendidikan berbasis akidah, mengatur media agar tidak merusak akhlak, mengatur situs-situs atau aplikasi yang berbahaya bagi masyarakat terutama remaja, menyediakan lingkungan sosial yang mendorong kebaikan dan menghilangkan pembullyan, serta menegakkan syariat untuk mencegah kejahatan.
"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan." (QS. Al-Maidah: 49)
Selama sekularisme kapitalisme masih diterapkan, masalah remaja akan terus berulang dan akan mengupgrade diri dengan bentuk yang berbeda. Hanya penerapan sistem Islam secara kafah, generasi emas yang diimpikan Insya Allah akan terlaksana dan generasi muda kita akan tumbuh menjadi pribadi yang saleh salihah, berakhlak dan berilmu, serta tumbuh menjadi pemimpin Islam yang beriman dan beradab.
"Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?" (QS. Al-Maiddah: 50)
Wallahualam bissawab.


