Alt Title

Rafah Berduka, Ke Manakah Pemimpin Dunia?

Rafah Berduka, Ke Manakah Pemimpin Dunia?

 


Berpihak pada Palestina adalah sebuah keharusan dan tuntutan akidah

Walaupun seruan kemanusiaan, boikot produk pendukung Zionis, berdonasi dan doa tetap digencarkan, itu tetap tidak cukup untuk kemerdekaan Palestina

______________________________


Penulis Widya Ummu El

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - “All Eyes on Rafah” menjadi sorotan dunia maya beberapa hari terakhir ini. Seruan ini digaungkan setelah terjadinya serangan udara yang dilancarkan Zionis Yahudi terhadap warga Palestina di Rafah pada hari Ahad (26/05/2024).


Akibat dari serangan ini, puluhan warga Palestina mati syahid dan ratusan orang luka-luka. Seruan “All Eyes on Rafah” ini adalah bentuk kecaman dari dunia terhadap genosida Israel terhadap Palestina dan dibagikan lebih dari 47 juta kali di media sosial. 


Meski seluruh dunia mengecam, mencaci maki dan mengutuk tindakan Zionis ini, tetap tidak membuat mereka menghentikan serangannya. Zionis Yahudi ini malah melancarkan kembali serangan ke kamp pengungsian di Rafah dua hari setelahnya (28/05/2024) dan juga pada tanggal 30 Mei 2024. Padahal Rafah adalah jalur Gaza paling selatan dan menjadi tempat persinggahan terakhir bagi warga Gaza. (detik.com, 31/05/2024)


Seperti inilah wajah asli Zionis yang sesungguhnya. Mereka berdalih hanya ingin menghancurkan Hamas, nyatanya adalah untuk membumihanguskan seluruh Gaza agar mudah menguasainya. Bahkan sampai menargetkan warga sipil, wanita, dan anak-anak.


Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan kebengisan Zionis terhadap saudara kita di Palestina sejak serangan 7 Oktober 2023, yang sudah menewaskan 36 ribu orang lebih dan sekitar 81 ribu orang luka-luka.


Lebih mirisnya pemimpin negeri-negeri Arab tetap diam tanpa penyelesaian. Walaupun Palestina mengalami penjajahan dan genosida melebihi batas kemanusiaan, negara tetangga tetap tidak bisa berbuat banyak karena adanya sekat nasionalisme dan adanya kepentingan pada elite global.


Bagi seorang muslim, berpihak pada Palestina adalah sebuah keharusan dan tuntutan akidah. Walaupun seruan kemanusiaan, boikot produk pendukung Zionis, berdonasi dan doa tetap digencarkan, itu tetap tidak cukup untuk kemerdekaan Palestina.


Meskipun usaha tersebut tetap diperlukan dan bernilai pahala di sisi Allah. Akan tetapi, hanya dengan bersatunya umat muslim di seluruh dunia di bawah naungan Khilafah Islamiyah dan dengan satu komando yaitu jihad fii sabilillah yang bisa membebaskan Palestina.


Maka dari itu, sebagai seorang muslim kita wajib berdakwah untuk menyadarkan umat, bahwa menegakkan Khilafah adalah urgensi kita saat ini. Cara pertama untuk mencapainya, yaitu dengan pembinaan intensif individu maupun jamaah untuk mengkaji pemikiran Islam dan menjadikan Islam sebagai jalan hidup.


Islam bukan agama ritual semata, tetapi juga sistem yang mengatur hidup bermasyarakat dan bernegara. Kita tidak boleh hanya mengambil sebagian hukum, dan membuang sebagian hukum lainnya. Berislam harus menyeluruh meliputi segala aspek.


Cara kedua, yaitu membongkar agenda propaganda penjajah dan musuh Islam. Bisa dengan meluaskan opini Islam melalui tulisan, media sosial, atau terjun langsung ke masyarakat. Dengan begini, umat akan memiliki kewaspadaan dan tidak mudah terpengaruh narasi yang mereka kampanyekan.


Yang terakhir adalah dengan tidak lelah berdakwah amar makruf nahi mungkar. Kita harus menyadarkan umat akan bahayanya sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan). Akidah Islam harus mengkristal dalam diri setiap individu muslim. Dengan begitu, penyelesaian seluruh problem kehidupan bisa diselesaikan secara tuntas dengan aturan Islam.


Dengan langkah-langkah ini, umat akan tersadarkan bahwa solusi untuk pembebasan Palestina bukan hanya bantuan kemanusiaan dan sosial semata. Namun dengan persatuan umat dalam satu kepemimpinan yaitu Khilafah Islamiyah.


Dengan bersatunya pemikiran, perasaan dan sistem, negara akan mampu melindungi siapa pun dari penjajahan, termasuk Palestina. Wallahualam bissawab. [SJ]