Alt Title

Potret Pendidikan di Dalam Sistem Demokrasi Liberal

Potret Pendidikan di Dalam Sistem Demokrasi Liberal

 


Para pemuda sebagai generasi penerus bangsa ditutup pemikirannya agar tidak lagi memahami tujuannya hidup di dunia

Mereka rela berkorban tetapi tak sadar sedang dijajah lewat pemikiran

_________________________


Penulis Daun Sore

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Tak dapat dibayangkan bagaimana buruknya kualitas kehidupan pada sistem peraturan yang mengandalkan hawa nafsu manusia. Berbondong-bondong para petinggi menyuarakan pendapat atas peraturan-peraturan dan membuat amandemen pada UUD. Semuanya berasal karena hasrat para penguasa yang ingin mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya meski harus dengan memakan uang-uang rakyat.


Baru-baru ini, tengah ramai di media sosial seorang santri di sebuah pondok pesantren tewas akibat dugaan penganiayaan oleh seniornya. Dikutip dari cnnindonesia.com pada Rabu, 28 Februari 2024 pukul 07.42 WIB, Santri Pondok Pesantren (Ponpes) PPTQ Al Hanifiyyah di Mojo, Kediri Jawa Timur bernama Bintang Balqis Maulana (14) meninggal dunia diduga akibat dianiaya seniornya.


Mulanya, pihak ponpes mengabarkan ke pihak keluarga bahwa Bintang meninggal karena terjatuh di kamar mandi. Namun, fakta berkata lain saat jenazah Bintang diantar ke kampung halamannya di Kampunganyar, Kendenglembu, Karangharjo, Glenmore, Banyuwangi, Sabtu (24/2). Saat jenazah yang dibungkus kain kafan itu dibuka, ternyata tubuh korban dipenuhi luka lebam dengan luka seperti jeratan leher dan hidung yang terlihat patah. Kejadian tersebut kemudian diselidiki oleh polisi yang menduga diakibatkan adanya kekerasan fisik. 


Terlepas dari bagaimana para polisi akan menyelesaikan kasus tersebut, terlihat jelas bagaimana lemahnya sistem dan tindakan yang dilakukan oleh pemimpin. Hal besar seperti itu tidak dijadikan prioritas untuk diselesaikan. Mungkin masalah itu hanya akan menjadi debu yang perlahan akan turun dari udara. Hilang ditelan hembusan angin.


Mirisnya, fokus para pemimpin bukan pada hal-hal yang sering terjadi seperti itu, melainkan pada penaklukan uang rakyat dengan berbagai cara. 


Padahal, kejadian ini sudah sering kali terjadi. Pondok pesantren yang katanya menjadi tempat para santri untuk menggali ilmu agama lebih dalam, kemudian mempraktekan dan menyebarkannya, kini malah banyak ditakuti para pemuda. Sudah banyak masyarakat yang tak berani menempatkan anak mereka di pondok pesantren akibat perundungan yang sering terjadi. Sampai-sampai, Ponpes lain ikut tercemar dan tergambar buruk akibat ulah santri yang tak memiliki adab.


Lantas, bagaimana dengan sekolah umum? Sekolah yang katanya lebih bebas terlebih saat siswa telah keluar dari area sekolah, tidak ada lagi peraturan yang mengontrol mereka. Sudah dipastikan akan lebih banyak masalah yang muncul.


Potret lembaga pendidikan dibawah naungan sistem demokrasi-liberal menghasilkan individu yang jauh dari pemikiran Islam bahkan mengusung kebebasan berperilaku. Baik dari murid maupun guru. Hukuman yang ditetapkan atas pelanggaran hukum tak pernah berlaku adil dan seimbang. Pasti hanya menguntungkan pihak bermodal tanpa pernah sedikitpun memikirkan mental yang menjadi korban dan resiko kedepannya.  


Tindakan tidak cekatan dari para aparat negara menjadikan rakyat sulit meminta perlindungan, solusi yang mereka berikan sama sekali tidak memuaskan. Terlebih lagi saat permasalahan tersebut sudah tidak lagi diperbincangkan masyarakat baik langsung maupun lewat media, ikut tenggelam digantikan topik-topik baru. Begitu saja seterusnya.


Solusi dan hukuman di negara liberal sungguh rusak, hancur, dan tidak memberi efek jera. Kebenaran dihapuskan dan kerusakan yang sudah sangat-sangat jelas malah ditegakkan. Layaknya menonton film yang terus diulang berkali-kali. Kita sudah tau endingnya akan seperti apa.


Sistem yang dianut negara ini layaknya nasi yang sudah seminggu tak disentuh. Basi. Anehnya, para penguasa yang sok pintar itu terus mengganti-ganti pemimpin, padahal yang seharusnya diganti ada pada sistemnya.


Bagaimana ingin mencetak generasi emas jika para pemuda disuguhkan pendidikan yang ala kadarnya? Tidak mencerdaskan dan tidak pula membuka wawasan. Terus saja para pemuda itu diberi asupan nasionalisme, sampai mereka kemudian menjunjung tinggi paham tersebut dan ikut andil dalam perpolitikan. Alhasil, masalah yang sama akan terjadi berulang kala negara dibalut paham-paham yang merusak.


Para pemuda sebagai generasi penerus bangsa ditutup pemikirannya agar tidak lagi memahami tujuannya hidup di dunia. Mereka rela berkorban tetapi tak sadar sedang dijajah lewat pemikiran. 


Berlandaskan kecerdasan demokrasi, membuat para pemuda dihipnotis untuk melanjutkan pendidikannya sampai ke dunia kerja, menghasilkan uang sebanyak-banyaknya sebagai aset negara. Tidakkah mereka sadar bahwa mereka hanya dijadikan alat mata uang semata? Alhasil, mereka ikut terperosok memasuki barisan para penguasa untuk menguasai dunia dengan tujuan materi, lagi dan lagi berasaskan kapitalisme dibalut liberal.


Asas liberal menjadi kunci bagi siapapun yang menganutnya untuk berkuasa, selagi uang masih digenggam, kesalahan akan tetap menjadi pemenang. 


Lantas, apa yang seharusnya kita lakukan dalam mengatasi dan membasmi virus-virus negara ini?


Tak lain dan tak bukan, hanyalah Islam yang mampu mengatasi segala persoalan hidup manusia, dari bangun tidur sampai bangun negara. 


Islam menjamin atas setiap umat dapat merasakan kesejahteraan, melindungi mereka dari kebebasan yang ujungnya sudah pasti menghancurkan mereka. Islam dengan ketelitiannya akan fokus memperbaiki seluruh kualitas hidup manusia, semisalnya pada dunia pendidikan.


Untuk mencetak generasi penerusnya, Islam memberikan pendidikan dengan orientasi masa depan yang cemerlang, memberikan ilmu pendidikan yang tidak hanya digunakan di dunia saja melainkan pada kehidupan selanjutnya.


Islam bahkan tidak akan membebankan kepada umat bayaran atas nilai pendidikan. Di bawah naungan negara Islam, umat diberikan kemudahan dan biaya gratis dalam dunia pendidikan. Islam bukan mencetak generasi yang dapat menghasilkan materi, melainkan mencetak generasi yang dapat memberikan manfaat bagi banyak orang, penemuan-penemuan yang unik, dan yang paling penting menjadikan jiwa umat muslim dipenuhi dengan rida Allah Swt..


Mari jadikan diri kita pengemban dakwah yang dapat mencetak generasi berakhlakul karimah dan mengembalikan kehidupan Islam seperti yang Rasulullah saw. beritakan. Wallahualam bissawab. [GSM]