Alt Title

Paradoks Sikap Muslim pada Pergantian Tahun

Paradoks Sikap Muslim pada Pergantian Tahun

 


Semangat boikot terhadap produk semakin menurun

Selain itu, umat muslim terpecah dalam menyikapi pengungsi Rohingya. Menunjukkan makin berkurangnya kepedulian di antara sesama muslim

______________________________


Penulis Unie Khansa

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Praktisi Pendidikan


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Malam tahun baru adalah momen yang sangat dinanti-nantikan oleh sebagian besar orang. Bahkan tidak jarang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. 


Berbagai kegiatan dilakukan untuk mengisi malam pergantian tahun dari mulai kegiatan yang bermanfaat, kegiatan yang netral, sampai kegiatan yang mendatangkan  mudarat/kemaksiatan.


Salah satu kegiatan menyambut malam pergantian tahun adalah dengan pesta kembang api. CNN Indonesia tertanggal 31 Desember 2023 menyampaikan bahwa untuk menyambut malam tahun baru dengan pesta kembang api di Jakarta, terdapat sembilan titik lokasi berlangsungnya pesta kembang api tersebut. 


Selain pesta kembang api di beberapa lokasi juga dilengkapi dengan acara-acara lain, seperti: konser musik, berbagai kuliner, dan pameran.


Tak kalah dengan Jakarta, Jogja pun menggelar pesta malam pergantian tahun yang terpusat di dua kawasan yakni Malioboro dan kawasan Tugu Pal Putih. Sejak pukul 16.00 para pengunjung sudah mendatangi kedua kawasan tersebut dan di dua kawasan itu diberlakukan car free night. Demikian yang disampaikan oleh Republika[dot]co[dot]id[dot]yogyakarta, 31 Desember 2023.


Berbeda dengan dua kota tadi, seorang aktivis perempuan di Mataram, Nur Janah, menyoroti sisi gelap dari malam pergantian akhir tahun yakni pesta, hura-hura, dan seks bebas yang sulit dihindari. 


Hal terakhir ini yang disoroti. Beliau mengatakan bahwa salah satu modus seks bebas para remaja pada pergantian tahun adalah sebagai wujud pembuktian cinta. Masih menurut beliau, kunci untuk membentengi diri dari modus seks bebas ada di ketahanan keluarga. (Lombok Pos, 28 Desember 2023)


Demikianlah pesta dan kemeriahan menyambut pergantian tahun yang menunjukkan gaya hidup hedonisme. Namun, di sisi lain pada saat yang bersamaan saudara-saudara muslim kita sedang menghadapi situasi yang menegangkan dan menakutkan bahkan mempertaruhkan nyawa. 


Seperti yang terjadi di Gaza, Palestina. Menurut CNBC Indonesia tertanggal 31 Desember 2023, entitas Israel semakin sadis menyerang warga Palestina di Jalur Gaza. Mereka menyerang menggunakan altileri berat. Serangan terbaru difokuskan di al-Bureij, Nuseirat, Maghazi, dan Khan Younis. Pesawat tempur Israel secara intens menyasar beberapa rumah sakit di Gaza dan melukai pasien Palestina.


Laporan Reuters dari informasi otoritas Hamas mengatakan bombardir entitas Israel menewaskan 165 orang di Gaza selama 24 jam terakhir, dikutip 31 Desember 2023. Selain itu, ada 250 orang yang mengalami luka parah. 


Tidak jauh berbeda dengan di Gaza, saudara muslim kita di Aceh yakni para pengungsi Rohingya mengalami peristiwa yang menyisakan trauma yang mendalam menjelang pergantian tahun. Pasalnya, para pengungsi itu mendapat perlakuan yang kasar dan tidak manusiawi dari para mahasiswa dalam insiden pemindahan paksa para pengungsi Rohingya oleh ratusan mahasiswa. 


Para mahasiswa melakukan tindakan kekerasan dan intimidasi. Bahkan salah seorang pengungsi mengatakan tidak menyangka akan mendapat perlakuan tidak manusiawi dari saudara seiman.


Padahal, mereka menaruh harapan yang besar di Aceh ini untuk mendapat penghidupan dan perlakuan yang lebih baik. Karena merasa sebagai saudara seiman, daripada apa yang mereka alami di Bangladesh, tempat awal pengungsian mereka. 


Di Bangladesh mereka selalu menerima ancaman bertubi-tubi. Setiap hari terjadi tembak-menembak, penculikan, dan tidak ada kehidupan yang luas. (BBC News Indonesia, 29 Desember 2023)


Itulah gambaran dua kondisi yang sangat kontradiksi yang dialami muslim saat ini. Padahal, muslim itu bersaudara bahkan diibaratkan sebagai satu tubuh. Sudah semestinya penderitaan yang dialami sekelompok muslim dirasakan juga oleh muslim lain. Bukan malah berpesta di saat muslim lain menderita. 


Hal ini menunjukkan satu bentuk abainya kaum muslim terhadap urusan umat. Sebagian besar orang, termasuk muslim, beranggapan penderitaan yang dialami oleh bangsa lain bukan urusannya sehingga tak perlulah pusing-pusing dan susah-susah memikirkannya. Inilah buah dari nasionalisme yang memutus ukhuwah, membuat muslim terpecah-pecah/terkotak-kotak.


Bukti lain berkurangnya kepedulian dan rasa persaudaraan terhadap sesama muslim juga ditunjukkan dengan semakin melemahnya semangat perjuangan menyuarakan pembelaan terhadap Gaza, Palestina. 


Semangat boikot terhadap produk semakin menurun. Selain itu, umat muslim terpecah dalam menyikapi pengungsi Rohingya. Menunjukkan makin berkurangnya kepedulian di antara sesama muslim. 


Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya karena umat Islam bertindak sendiri-sendiri tidak ada satu kesatuan. Muslim butuh satu komando yang terbebas dari sekat nasionalisme untuk membantu dan menyelamatkan umat muslim yang tertindas. 


Umat butuh diterapkannya sistem Islam yang terbukti selama belasan abad mampu menciptakan kesejahteraan umat bagi seluruh dunia sebagai rahmatan lil alamin


Dalam sistem Islam, penguasa sebagai junnah yang akan melindungi seluruh rakyat. Penguasa sebagai ra'in yang akan melayani rakyat untuk meraih kesejahteraan. Wallahualam bissawab. [SJ]