Alt Title

Ekonomi di Tahun 2024, akankah Lebih Baik dari Tahun Sebelumnya?

Ekonomi di Tahun 2024, akankah Lebih Baik dari Tahun Sebelumnya?

Bagaimana ekonomi saat ini mau maju jika sumber daya manusianya tidak ada, skill dan pendapatan yang diterimanya tidak sesuai harapan?

Kebijakan yang diterapkan negara yang terus berganti seiring pergantian pemimpin, nyatanya tidak mampu membuat masyarakat sejahtera

____________________________________



KUNTUMCAHAYA.com, Reportase - Ahad, 07 Januari 2024 channel YouTube Media Umat mengadakan diskusi bersama beberapa pakar yang ahli di bidangnya. Hadir Profesor Suteki (pakar Hukum & Filsafat Pancasila), Dr. Fika Komara (Direktur IMuNe), M. Rizal Taufiqurrahman (INDEF), Ustaz M. Ismail Yusanto (Cendikiawan Muslim) dan K.H. Muhyidin Junaidi (Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI). Dengan tema Quo Vadis Umat 2024, akankah di Tahun 2024 Umat Lebih Baik atau Sebaliknya? Agenda menyoroti terutama dalam bidang ekonomi.


Berbagai permasalahan ekonomi baik internasional maupun dalam negeri semakin hari semakin tidak terkendalikan. Menurut narasumber, M. Rizal Taufiqurrahman (INDEF) pertumbuhan ekonomi di tahun 2024 tidak jauh lebih baik dari 2023. Hal ini dibuktikan dengan berbagai data serta survei dari beberapa lembaga. Selain itu, adanya gejolak yang terjadi seperti perang fisik antara Ukraina dan Rusia, perang perdagangan Amerika-Cina, perang Israel-Gazza ternyata sangat memengaruhi ekonomi secara global. Dan Gazza menjadi contoh nyata bagaimana kondisi umat Islam saat ini ketika sumber daya alamnya dikuasai, imbuhnya.


Adapun di dalam negeri angka kemiskinan menjadi paling tinggi. Ini dibuktikan dengan data BPS, kurang lebih 25 juta orang mengalami kemiskinan atau sekitar 87% dari masyarakat Indonesia. Mayoritas yang mengalaminya adalah warga yang tinggal di desa. Tentu, ini menjadi tantangan berat bagi pemerintah untuk menyejahterakan masyarakat Indonesia yang memang tidak berpihak pada mereka sama sekali, ujar Rizal. 


Bicara soal kesejahteraan, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh negara, tambahnya. Yaitu, pemerataan, skill tenaga kerja, pendapatan per kapita dan lain sebagainya. Karena, hal itu sangat memengaruhi pertumbuhan ekonomi. Bagaimana ekonomi saat ini mau maju jika sumber daya manusianya tidak ada, skill dan pendapatan yang diterimanya tidak sesuai harapan? Kebijakan yang diterapkan negara yang terus berganti seiring pergantian pemimpin, nyatanya tidak mampu membuat masyarakat sejahtera.


"Di tahun 2024 ternyata jauh lebih berat terutama di rezim saat ini karena pertumbuhan ekonominya tidak tercapai. Hal ini menunjukkan efektivitas dari suatu kebijakan baik di periode pertama maupun di periode kedua. Ditambah, kala itu terjadi pandemi Covid-19 membuat pertumbuhan ekonomi semakin menurun," bebernya. 


Menurut pernyataan Rizal, kebijakan-kebijakan yang diambil seperti kawasan ekonomi khusus, kawasan industri, dan lain sebagainya ternyata tidak akan membawa dampak yang lebih baik bagi ekonomi Indonesia saat ini. Itu karena hal demikian tidak akan pernah membuat masyarakat sejahtera. Wallahualam bissawab. [Dara Millati Hanifah]