Alt Title

Demokrasi Menyihir Tokoh Umat

Demokrasi Menyihir Tokoh Umat


  

Dalam tanda petik hebat juga ya sihir demokrasi ini bisa menyatukan dua mazhab berbeda yang saling bersitegang. 

Ironinya, kenapa kalau disatukan dengan pemikiran lslam para tokoh umat ini kok sangat sulit bahkan boleh dibilang mustahil. 

________________________________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Akhir-akhir ini kita sering menyaksikan orang-orang yang disebut tokoh intelektual, tokoh umat, atau tokoh jamaah tertentu. Sekarang banyak dari mereka yang menceburkan diri ke dalam arus pusaran ingar-bingarnya pesta demokrasi. 


Wallahualam apa yang menjadi niatnya. Yang jelas kita tidak bisa menghukumi wilayatul ghoibah (karena itu hak Allah Swt.). 


Namun apabila kita cermati, kenapa semakin dekat hari H pelaksanaan pesta demokrasi banyak tokoh intelektual terutama ajengan yang mendukung paslon capres tertentu. Hal ini bisa diprediksi karena beberapa sebab:


Pertama, bisa disebabkan desakan muhibin atau para fans agar ustaz idolanya punya sikap politik.


Kedua, bisa disebabkan karena sang tokoh ingin semakin meraih simpati jamaah yang kebetulan jamaahnya sangat mengidolakan paslon capres tertentu. Padahal tadinya tidak akan secara nyata mendukung paslon capres tertentu. Tapi karena opini di arus bawah, maka ini terpaksa dilakukan sekalian untuk memanfaatkan momentum.


Ketiga, ini butuh pembuktian kebenarannya, yakni bisa disebabkan adanya lobi-lobi rahasia antara individu tokoh atau tokoh jamaah dengan paslon capres tertentu. 


Satu hal juga, yang tidak boleh luput dari pengamatan kita yang bikin geli, bahwa pada pesta demokrasi banyak tokoh atau ustaz yang tadinya saling beradu dalil bahkan tak jarang mereka saling mencaci di dunia maya, di dunia nyata.


Mereka bisa duduk satu meja karena ternyata mereka mendukung paslon capres yang sama. Dalam tanda petik hebat juga ya sihir demokrasi ini bisa menyatukan dua mazhab berbeda yang saling bersitegang. Ironinya, kenapa kalau disatukan dengan pemikiran lslam para tokoh umat ini kok sangat sulit bahkan boleh dibilang mustahil. 


Tapi dengan pesta syirik demokrasi mereka bisa duduk sambil minum kopi bareng, seolah-olah demokrasi tidak usah diperdebatkan karena dalinya sudah mutawatir. Astaghfirullah, innalillahi wainnailaihi rojiun. Wallahualam bissawab. [SJ] 


Mang Aswan 

Seniman Sunda Pemerhati Politik lslam