Alt Title

Sumpah Pemuda Momentum Kebangkitan Pejuang

Sumpah Pemuda Momentum Kebangkitan Pejuang

 


Pemuda itu adalah agen perubahan, pemuda itu agen kontroling dan yang sangat melekat yaitu agen sosial

Begitu banyaknya peran yang diemban oleh pemuda ini, menunjukkan betapa spesialnya keberadaan mereka bagi bangsa negara

______________________________


Penulis Siti Nurtinda Tasrif

Kontributor Tetap Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Dakwah Kampus


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Ketika menyebut kata pemuda akan terlintas begitu banyak sekali karakteristik. Misalkan saja, pemuda itu adalah agen perubahan, pemuda itu agen kontroling dan yang sangat melekat yaitu agen sosial. Begitu banyaknya peran yang diemban oleh pemuda ini, menunjukkan betapa spesialnya keberadaan mereka bagi bangsa negara.


Sebagai pemuda tentu penuh dengan perancangan dan perencanaan yang matang, terutama jika berbicara mengenai masalah negara pun juga solusi yang terbaik untuk menyelesaikan masalah-masalah yang masih dirasakan umat. Maka pemuda melihat bahwa perlu adanya komunitas bahkan organisasi untuk mewadahi penyatuan pemikiran dan rencana pembangunan bangsa.


Maka dari sini kerap kali diketahui bahwa pemuda itu sangat identik dengan yang namanya aktivis dari berbagai macam organisasi. Bahkan satu pemuda itu bisa sampai masuk banyak organisasi. Semua ini dikarenakan jiwa yang menggelora untuk bisa bersatu dalam menyelesaikan seluruh masalah yang kerap kali menghinggapi umat. 


Maka keikutsertaan para pemuda yang sekarang dalam berbagai organisasi juga dikatakan mencontohi perjuangan dari para pejuang di beberapa puluh tahun yang lalu. Sebagaimana yang penulis kutip dari Media jabar[dot]nu[dot]or[dot]id (28/10/2023) bahwasanya sudah 95 tahun, terhitung sejak 28 Oktober 1928, para pemuda Indonesia dan Bangsa Indonesia memperingati Sumpah Pemuda. 


Di mana pada masa itulah pemuda-pemuda memperjuangkan keyakinan yang satu atas nama Bangsa Indonesia. Mereka yang berasal dari berbagai organisasi dan latar belakang, seperti Jong Java, Jong Batak, Jong Ambon, Jong Islamiten Bond, Jong Celebes, Jong Sumatera, Jong Borneo dan lain-lain, merasa terpanggil untuk melakukan konsolidasi dan rekonsiliasi untuk bersatu melawan penjajah.


Maka bisa dilihat peran yang luar biasa dari para pemuda, bahkan beberapa tahun lalu banyak sekali aksi-aksi yang dilakukan para aktivis. Misalkan saja, mengenai omnibus law, kemudian RKUHP dan yang lainnya. Semua aktivitas ini dikarenakan jiwa yang menggebu-gebu untuk segera mengeluarkan masyarakat dari penderitaan. Namun hal ini tidak terjadi seperti masa lampau.


Karena generasi tengah dilanda berbagai masalah yang mempengaruhi bahkan merasuk ke dalam jiwa pemuda. Seperti mental illnes, shopping kebablasan, hedonis, liberal, individualis yang meniscayakan hidup yang apatis, serba instan, gamers, tawuran, narkoba, minum-minum dan lebih banyak lagi. Sehingga yang tertarik untuk menyelesaikan masalah negara hanya segelintir orang saja, yakni yang sadar akan situasi yang terjadi.


Semua persoalan yang terjadi tentu tidak terlepas dari asas berdirinya sesuatu. Termasuk asas sebuah kebangkitan pejuang yakni pemuda pun juga negara. Di mana pada saat ini, negara-negara di dunia menggunakan asas sekularisme kemudian meniscayakan ideologi kapitalisme yang berarti berorientasi kepada materi dan keuntungan pribadi untuk menggapai duniawi.


Sehingga kapitalisme akan membentuk para pemuda yang fokus untuk membangkitkan ekonomi atau jaminan kehidupan dirinya saja. Sedangkan urusan umat menjadi sesuatu yang tidak perlu dipikirkan. Bahkan dengan mudah mengatakan, biarkan itu menjadi urusan negara. Para pemuda juga tidak akan sadar akan masalah yang mereka hadapi, karena merasa hidup mereka baik-baik saja.


Di samping itu, mereka tidak memiliki jiwa kepemimpinan, yang pada akhirnya menjadikan mereka budak-budak perusahaan asing. Dan bukan menjadi pemilik perusahaan itu. Kapitalisme menjadi pemuda hanya hidup untuk materi dan bukan untuk mendedikasikan hidupnya untuk kebangkitan masyarakat. Padahal masyarakat menaruh harapan besar pada pemuda yang diyakini dapat dengan lugas mengkritisi kebijakan negara. Jika itu jelas-jelas merugikan masyarakat.


Di satu sisi, para pemuda juga minim akan pemahaman agama (Islam). Para pemuda sekarang hanya mengetahui bahwa Islam itu hanya berbicara mengenai rukun Islam saja. Sehingga membuat mereka tidak merasa bahwa Islam itu penting untuk membangun kehidupan yang baik. Terjadinya pandangan seperti ini, dikarenakan asas dari kapitalisme yaitu sekularisme. Sekularisme adalah pemisahan agama dari kehidupan.


Sehingga pemuda tidak memahami bagaimana cara untuk mengarungi masalah dan menjalani hidup dengan baik. Yang pemuda sekarang ketahui hanyalah lakukan segala sesuatu yang diinginkan (kebahagiaan dunia) sebelum meninggal. Sungguh ironis keadaan para pemuda saat ini. Mereka bersuka cita pada kebahagiaan dunia tanpa berduka cita pada masalah negara. Adakah bisa terjadi kebangkitan pejuang pada diri pemuda yang sekarang?


Tentu saja bisa, tetapi apa dengan sistem yang sekarang? Tentu tidak. Lalu dengan sistem yang seperti apa baru bisa terbentuk pemuda pejuang? Yaitu dengan sistem Islam kafah. Islam meniscayakan seluruh peraturannya sesuai dengan kemaslahatan umat yaitu sesuai kebutuhan umat. Termasuk cara membentuk pemuda menjadi pejuang dan bukan pecundang.


Dalam hal ini, Islam memberikan tanggung jawab besar dipundak seorang ibu, di mana ia menjadi garda terdepan untuk membentuk kepribadian Islam anaknya dan membentuk jika pejuang sekaligus kepemimpinan. Tentu peran tersebut tidak hanya dibentuk oleh ibu saja, tetapi seluruh keluarga, masyarakat bahkan sampai pada negara harus bekerja sama untuk menempa anak.


Tidak bisa hanya satu yang berperan tetapi semuanya, bahkan yang paling penting bisa dimulai dari negara pun juga sistem yang menjadi fondasi negaranya. Jika menginginkan masyarakat yang baik maka negara harus menggunakan sistem yang baik pula yaitu Islam kafah.


Karena hanya Islam yang terbukti selama 13 abad silam berhasil membentuk para pejuang yang luar biasa bahkan seorang pemimpin negara. Maka jika ingin para pemudanya bangkit maka haruslah dengan Islam kafah bukan sistem yang lain. 


Wallahualam bissawab. [SJ]