Alt Title

Kembali Berulang Penistaan Agama, Negara Tidak Tegas

Kembali Berulang Penistaan Agama, Negara Tidak Tegas

Penistaan agama kembali terjadi bukti bahwa negara tidak mampu memberi efek jera terhadap kasus sebelumnya.  Ini merupakan  keniscayaan dalam sistem sekuler karena agama dipandang hanya urusan individu dan diterapkan hanya dalam ruang privat rakyat. Terlebih kebebasan sangat dijunjung tinggi dalam sistem sekulerime, kebebasan berpendapat dan berperilaku yang dilindungi undang-undang

________________________


Penulis Rika Ummu Arfa

Kontributor Kuntum Cahaya dan Pendidik Generasi



KUNTUMCAHAYA.com,  OPINI - Beberapa waktu lalu rasanya baru saja kaum muslimin merasakan suka cita merayakan lebaran, tapi kembali kebahagiaan itu ternodai karena adanya video yang beredar tentang penistaan agama Islam.


Sebagaimana dilansir dari CNN Indomesia (29 April 2023), seorang Tiktoker Lina Mukherjee resmi ditetapkan sebagai tersangka penistaan agama. Ia dilaporkan ke Polda SumSel, karena Lina yang beragama Islam mengunggah video membaca basmallah sebelum makan babi. 


Di Bandung juga terjadi kasus penistaan dengan diunggahnya sebuah video warga negara asing (WNA) yang meludahi Imam Mesjid di Buah Batu Bandung, karena menyetel murotal. Kebetulan WNA tersebut menginap di sebuah hotel yang berdekatan dengan mesjid.  (CNN Indonesia, 29 April 2023)


Kasus-kasus ini bukan pertama kali terjadi. Lantas kenapa selalu berulang penistaan terhadap agama Islam?


Penistaan agama kembali terjadi bukti bahwa negara tidak mampu memberi efek jera terhadap kasus sebelumnya.  Ini merupakan  keniscayaan dalam sistem sekuler karena agama dipandang hanya urusan individu dan diterapkan hanya dalam ruang privat rakyat. Terlebih kebebasan sangat dijunjung tinggi dalam sistem sekulerime, kebebasan berpendapat dan berperilaku yang dilindungi undang-undang.


Kasus Lina Mukherjee berawal agar kontennya yang viral. Demi materi berani melabrak ajaran agama. Atas nama kebebasan berpendapat dan bertingkah laku, sistem demokrasi akan menjaga beragam kebebasan tersebut, meski hal demikian diharamkan agama (Islam).


Dalam Islam saat mempertontonkan kemungkaran, yaitu makan babi yang jelas diharamkan Allah Swt. dengan sengaja, apalagi ditambahkan dengan menyebut nama Allah dalam kemungkaran tersebut, ini bentuk penghinaan terhadap ajaran Islam.


Walaupun pelakunya sudah minta maaf, hal tersebut tidak cukup bagi penista agama. Itu karena perilaku penghinaan, pelecehan, serta penistaan terhadap ajaran agama adalah haram. Begitu pun ketika ada yang berani melakukan penghinaan terhadap Rasul Muhammad saw. juga umatnya. Pelakunya harus mendapatkan sanksi yang tegas agar ada efek jera bagi masyarakat, sehingga tidak akan ada lagi yang berani untuk  melakukan penistaan agama.


Inilah salah satu potret buram hidup di negara sekuler, penistaan agama akan terjadi lagi pada masa mendatang. Umat Islam terus tersakiti hatinya, agamanya terus dihina. Sementara itu, di sisi lain umat Islam disuruh menjadi umat yang ramah, toleransi dan moderat. Yang tidak boleh marah ketika Allah Swt. dan Rasulullah saw. dihina, dan diam seribu bahasa saat agamanya dinista. Sungguh miris.


Apa yang terjadi di alam sekuler dimana tak sanggup memberi pembelaan terhadap Islam, tidaklah demikian halnya dalam system Islam. Khalifah sebagai penguasa tertinggi dalam sistem Islam benar-benar tidak akan membiarkan perilaku nista tersebut. Salah satu buktinya adalah tindakan tegas Kekhilafahan Utsmaniyah ketika mendapati adanya rencana bahwa di Inggris akan dipentaskan karya drama Voltaire, dimana di dalamnya memuat unsur menista Rasulullah Muhammad saw..


Ketika Khalifah Abdul Hamid II berkuasa,  ia langsung memberi peringatan  Kerajaan Inggris agar menghentikan pementasan drama tersebut. Khalifah kala itu mengatakan dengan penuh ketegasan dan mengandung aura wibawa yang kuat bahwa Inggris dalam hal ini tengah menyerang dan melecehkan Rasulullah, sosok mulia yang sangat dicintai umat. Maka jika drama tersebut tetap ditayangkan, Khalifah akan langsung mengobarkan jihad atas Inggris. Inggris pun membatalkan pementasan drama tersebut.


Inilah yang terjadi saat Aturan Islam  tegak dalam bingkai Khilafah, para penista agama akan kapok karena mendapatkan sanksi yang tegas. Niscaya kemuliaan ajaran Islam pun tak akan mudah dinista oleh lisan dan perilaku keji mereka. Wallahualam bissawab. []