Alt Title

PERGAULAN REMAJA MUSLIM SEMAKIN MIRIS DALAM SISTEM SEKULER

PERGAULAN REMAJA MUSLIM SEMAKIN MIRIS DALAM SISTEM SEKULER



Kasus demi kasus yang terjadi di negeri ini telah menunjukan betapa bobroknya sistem kehidupan yang sedang berlangsung saat ini, yakni sistem sekuler Kapitalisme. Dimana, telah menjauhkan agama dari kehidupan. Sehingga sistem ini mengabaikan peran agama dalam mengatur kehidupan


Oleh karena itu, buah dari sistem tersebut menghasilkan masyarakat hidup dalam kebebasan berperilaku, bahkan cenderung menggunakan hawa nafsu dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan, tak terkecuali para pemuda dan remajanya


Penulis Widdiya Permata Sari

Kontributor Kuntum Cahaya dan Komunitas Muslimah Perindu Syurga


KUNTUMCAHAYA.com-Di bulan yang penuh berkah ini seharusnya kaum Muslim berlomba-lomba mencari pahala dan keberkahan dari Allah  Swt.. Namun, berbanding terbalik dengan keadaan remaja Muslim saat ini, mereka malah berlomba-lomba mengadakan perang antargeng. 


Seperti di kota Purworejo banyak pemuda yang meresahkan warganya atas perilaku perang sarung antargeng yang dilakukan pada dini hari. Imbas dari perilaku mereka, maka polisi berhasil mengamankan sebanyak 13 remaja. (Kompas[dot]com, 24/03/2023)


Tidak hanya itu, kejadian yang lebih mengenaskan bahkan memakan korban jiwa terjadi seperti di daerah Sukabumi telah terjadi pembunuhan. Polisi sudah menangkap tiga orang ABG yang diduga membacok siswa SMP yang berinisial ARSS yang masih berumur 14 tahun hingga tewas di Sukabumi. (news[dot]detik[dot]com, 24/03/2023)


Kasus demi kasus yang terjadi di negeri ini telah menunjukan bahwa bobroknya sistem kehidupan yang sedang berlangsung saat ini, yakni sistem sekuler Kapitalisme. Dimana, telah menjauhkan agama dari kehidupan. Sehingga sistem ini mengabaikan peran agama dalam mengatur kehidupan.


Oleh karena itu, buah dari sistem tersebut menghasilkan masyarakat hidup dalam kebebasan berperilaku, bahkan cenderung menggunakan hawa nafsu dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan, tak terkecuali para pemuda dan remajanya.


Tidak hanya itu, dalam sistem kehidupan sekuler jua telah menghilangkan jati diri pemuda Muslim sebagai hamba yang bertakwa dan berilmu bahkan sebagai pembangun peradaban. Sehingga pemuda menjadi jauh dari sosok berkepribadian Islam.


Ketika pemuda Muslim jauh dari sosok kepribadian Islam, maka semua itu tidak lepas dari pendidikan keluarga dan sekolah. Seharusnya orangtua memberikan bekal tentang pemahaman Islam kepada anak agar mereka terbiasa beramal dan berperilaku sesuai syariat Islam.


Bukan hanya orangtua saja, tapi sekolah sebagai tempat mereka untuk menuntut ilmu, seharusnya juga membekali tsaqafah Islam yang akan mempengaruhi perilaku generasi. Namun, sangat disayangkan dari kedua aspek tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya.


Semua itu terjadi akibat dari arus kehidupan sekuler yang menghiasi pendidikan generasi saat ini. Bahkan siklus pertemanan dapat memberikan dampak lebih besar terhadap perilaku generasi. Dan sangat disayangkan saat ini negara tidak mengambil peran sentralnya sebagai penjaga dan pelindung generasi dari pengaruh budaya serta pemikiran asing yang dapat merusak moral generasi.


Maka, untuk mewujudkan generasi yang memiliki kepribadian Islam dan jauh dari aksi tawuran harus dengan cara menerapkan sistem kehidupan Islam secara kafah. Yaitu dengan cara memadukan tiga peran pokok dalam  pendidikan Islam. Hal ini ditujukan untuk membentuk kepribadian generasi yaitu keluarga, masyarakat, dan negara.


Untuk mencapai semua itu maka butuh dukungan dari keluarga yaitu orangtua berperan sangat penting dalam mendidik anak dengan panduan Islam. Berupa materi Jalan Menuju Iman dan Syariat Islam tentu harus mudah dipahami oleh anak. Dengan begitu anak akan paham tentang hakikat kehidupan dan tujuan hidupnya di dunia.


Hasil dari penerapan Islam secara kafah dalam kehidupan akan mampu membentuk masyarakat Islami. Yakni masyarakat yang mampu memelihara budaya amar makruf nahi mungkar. Sehingga ketika ada kemaksiatan sekecil apapun akan  mampu dinasehati atau dilaporkan kepada pihak yang berwenang.


Dalam Islam sebuah media sosial tidak boleh menayangkan sebuah kekerasan fisik atau nonfisik yang tentunya sangat mudah dicontoh oleh anak. Seperti bullying, perkelahian dan lain-lain. Karena syariat Islam telah menentukan batasan baik atau buruk bahkan halal atau haram dalam berperilaku. Inilah semuanya yang akan menjadi pegangan masyarakat dalam melaksanakan amar makruf nahi munkar. Wallahualam bissawab.