Alt Title

BABAK BELUR PEKERJA MIGRAN BUAH CENGKERAMAN EKONOMI KAPITALISME

BABAK BELUR PEKERJA MIGRAN BUAH CENGKERAMAN EKONOMI KAPITALISME



Sistem kapitalisme telah menyeret rakyatnya menuju jurang kemiskinan


Sistem ekonomi Islam menyejahterakan rakyat dengan mengelola sumber daya alam oleh negara. Sehingga mustahil akan ada rakyat yang rela menjadi pekerja migran dengan risiko membahayakan diri


Penulis Rati Suharjo

Kontributor Media Kuntum Cahaya & Pegiat Literasi AMK


KUNTUMCAHAYA.com-Duta Besar Indonesia untuk Malaysia Hermono menyatakan kasus penganiayaan pekerja migran bagaikan gunung es. Beliau juga menyampaikan, “Tak tahu hal ini kapan akan berakhir. Pasalnya, korban terus berjatuhan." Mulai penyiksaan, gaji tidak dibayar, terus saja terjadi. Menurut beliau data pekerja migran tentang gaji yang tidak dibayar terdapat 2.300 kasus. Mulai dari lamanya kerja setahun hingga 10 tahun. (newsindonesia, 3/3/2023)


Dari sekian banyaknya kasus, terdapat satu kasus yang memprihatinkan. Diceritakan dari seorang tenaga migran atau pembantu rumah tangga asal Nusa Tenggara Timur, Mariance Kabu. Dia menceritakan selama delapan tahun kerja dijalani dengan penuh penyiksaan dari seorang majikan. Semua ini hanya karena faktor sepele, salah satunya adalah menaruh daging ke dalam kulkas, maka majikan tersebut langsung melempar ikan beku ke kepala Mariance. Sontak saja, kepalanya bercucuran darah.


Hal ini terjadi setelah Mariance bekerja selama dua pekan di rumah majikan yang bernama Sirene. Penyiksaan dan hantaman terus saja terjadi. Bahkan puting susu dijepit dengan tang, tubuh ditempeli setrika panas hingga lidah pecah dan telinga tidak berbentuk telinga. (newsindonesia, 1/3/2023)


Melihat fakta ini, sungguh memprihatinkan. Pasalnya negeri ini dikenal dengan gelar gemah ripah loh jinawi. Dimana negara dikelilingi sumber daya alam yang melimpah, baik dari daratan maupun dari lautan. Nyatanya banyak rakyatnya yang hidup sengsara. Tak sedikit dijumpai rakyat menjadi tenaga migran. Baik ke Arab, Malaysia, Cina, Amerika, dan negeri-negeri yang lain.


Alasan menjadi pekerja migran adalah demi mencukupi kebutuhan keluarga, baik sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan. Sedangkan biaya hidup semakin tinggi dan tak terjangkau. Selain itu jangankan banyak lapangan pekerjaan, yang ada justru banyak rakyat yang terkena PHK. Dengan kesulitan ini, mau tidak mau mereka harus meninggalkan keluarganya, walaupun puluhan tahun tidak bertemu keluarga.


Mereka tidak memedulikan risiko menjadi pekerja migran. Walaupun berita-berita yang menayangkan penyiksaan bahkan nyawa melayang di tangan majikan. Mereka juga tidak memedulikan ijazah dan keterampilan. Tujuan utama adalah mencari uang, walaupun harus menjadi supir, tukang kebun, kuli bangunan, atau pembantu rumah tangga.


Berbekal ijazah SD atau SMP jelas membuat pekerja migran kurang dihargai dalam bekerja karena minimnya skill yang dipunya. Belum lagi, komunikasi antara pekerja dan majikan tidak lancar. Hal ini berpotensi membuat majikan tersebut marah bahkan berbuat zalim dengan tidak memenuhi gajinya.


Permasalahan ini sesungguhnya adalah buah dari penerapan ekonomi kapitalisme. Sistem ini telah menyeret rakyatnya menuju jurang kemiskinan. Bagaimana tidak, segala sumber daya alam yang seharusnya milik rakyat telah diswastanisasi. Melalui undang-undang mereka mengeruk hingga puluhan tahun di negeri ini. Melalui pendidikan sekularisme pula lahir generasi pelayan kapitalis, bukan generasi  yang produktif, terampil sehingga bisa mengembangkan potensinya.


Segala sumber daya alam yang seharusnya milik rakyat, sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 33 Ayat 3  UUD 1945, hanya ilusi. Faktanya melalui ekonomi kapitalis, sumber daya alam seperti nikel, batu bara, laut, hutan, emas, dan yang lain mayoritas dinikmati kapitalis, baik kapitalis asing maupun  domestik. Sementara negara yang seharusnya menyejahterakan rakyat justru sibuk mencari dana demi kebutuhan negara. Rakyat dibiarkan sendirian dalam mencukupi kebutuhannya.


Akibat penerapan ekonomi kapitalis ini, kesengsaraan dan kebodohan terus terjadi pada rakyatnya. Jangankan memikirkan untuk bersekolah tinggi, untuk memenuhi kebutuhan pangan setiap harinya saja susah.


Hal ini berbeda ketika Islam diterapkan dalam sebuah konstitusi negara. Penguasa dalam Islam akan menjalankan ekonomi Islam. Sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saw. bahwa segala sumber daya alam tersebut adalah milik rakyat. Melalui negara sumber daya alam tersebut dikelola dan hasilnya dikembalikan lagi untuk melayani rakyat.


Sebagaimana hadis Rasulullah saw.: "Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air, dan api." (HR. Abu Dawud dan Ahmad)


Haram hukumnya segala kekayaan alam dikuasai individu. Dalam hal ini Rasulullah saw. juga telah memberikan contoh yaitu penambang garam. Dari Abyad bin Hambal, ia mendatangi Rasulullah saw. dan meminta Rasulullah saw. agar memberikan tambang garam kepadanya. Rasulullah saw. pun memberikan tambang garam itu kepadanya. Ketika Abyad telah pergi, ada seorang laki-laki di menjelis tersebut berkata, "Tahukah Rasulullah yang Rasulullah saw. berikan kepadanya sesungguhnya seperti air mengalir.” Ibnu al-Mutawakkil berkata, maka Rasulullah saw. mencabut kembali pemberian tambang garam itu dari Abyad bin Hambal. (HR. Abu Dawud dan At-Timidzi)


Inilah sebagian contoh penerapan sistem ekonomi Islam dalam menyejahterakan rakyatnya. Sehingga dengan pengelolaan sumber daya alam oleh negara, maka mustahil akan ada rakyat yang rela menjadi pekerja migran dengan risiko membahayakan diri seperti saat ini. Wallahualam bissawab.