Alt Title

NASIB BURUK PEKERJA MIGRAN, DAMPAK BURUK EKONOMI KAPITALIS

NASIB BURUK PEKERJA MIGRAN, DAMPAK BURUK EKONOMI KAPITALIS



Negara dalam Kapitalisme tak mampu memberikan kesejahteraan masyarakat bahkan untuk sekadar menjamin lapangan pekerjaan pun tak mampu


Islam mengatur perekonomian masyarakat agar menghasilkan kesejahteraan bagi tiap-tiap individu


Penulis Yunita M.

Anggota Komunitas Sahabat Hijrah Balut-Sulteng


KUNTUMCAHAYA.com-Miris! Ribuan kasus menimpa pekerja rumah tangga Indonesia di Malaysia. Ratusan di antaranya adalah kasus penyiksaan fisik. Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Hermono, mengungkapkan tak tahu kapan ini akan berakhir karena korban terus berjatuhan. Mulai dari penyiksaan hingga gaji tak dibayar, dan lain-lain. Kasus yang disebut Hermono, gaji yang tidak dibayar dari lama bekerja sekitar setahun sampai 10 tahun mencapai lebih dari 2.300 menurut data dalam lima tahun terakhir. (bbc[dot]newsindonesia[dot]com, 03/03/2023)


Diketahui seorang mantan pekerja migran Indonesia mengaku mengalami penyiksaan kejam lebih dari delapan tahun lalu di tangan majikannya di Malaysia. Ia mencoba bertahan hidup dan upayanya untuk menyelamatkan diri dari tempat yang ia sebut neraka.


Sungguh miris nasib para pekerja migran. Berharap mendapat kehidupan yang lebih layak di negeri orang, namun malah mendapat penyiksaan yang mengerikan. Kasus kekerasan dan penyiksaan terhadap pekerja migran bukan hanya sekali dua kali terjadi melainkan sudah berulang kali terjadi. Di berbagai negara nasib para pekerja migran cenderung tak mendapat nasib yang layak.


Di negeri sendiri para pekerja merasa tak sejahtera. Hal tersebut menjadi pendorong terbesar mereka untuk mengadu nasib di negeri orang. Pada faktanya banyak sekali para pekerja migran terkhususnya dari Indonesia terutama para wanita yang mendapat banyak penyiksaaan di negeri orang. Bahkan tak jarang meregang nyawa di tangan majikannya. Pulang ke tanah air hanya tinggal nama dengan jasad yang terbujur kaku.


Kejamnya Ekonomi Kapitalisme


Pada dasarnya tidak ada dari tiap individu yang tak ingin hidup sejahtera dan berkecukupan di negeri sendiri. Namun, apalah daya keadaan terkadang memaksa untuk bekerja keras memenuhi kebutuhan hidup bahkan hingga merantau ke negeri orang. Tak mudah memang, tetapi begitulah perjuangan dalam mencari penghidupan di tengah kondisi ekonomi yang serba sulit.


Di tengah kondisi perekonomian yang serba sulit saat ini, memaksa para perempuan khususnya untuk bekerja bahkan ke negeri orang. Sehingga menyebabkan mereka mendapat penyiksaan adalah tak terlepas dari jeratan sistem Kapitalisme sekuler yang saat ini dijadikan sebagai sistem kehidupan. Pasalnya, sistem kapitalisme saat ini melahirkan sistem perekonomian yang batil dan tak mampu menyejahterakan rakyat. 


Pajak menekan masyarakat, sumber daya alam dikelola swasta maupun asing. Sehingga keuntungannya tak dapat dinikmati masyarakat secara keseluruhan. Alhasil, hanya segelintir orang yang mendapat keuntungan, sementara rakyat kecil buntung dan makin menderita dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.


Tak heran negara dalam kapitalisme tak mampu memberikan kesejahteraan masyarakat bahkan untuk sekadar menjamin lapangan pekerjaan pun tak mampu. Akhirnya membuat masyarakat makin kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya. Sementara di sisi lain, kebutuhan hidup makin mahal, entah itu kesehatan, pendidikan, keamanan dan lain-lain.


Para wanita akhirnya terjun langsung hingga ke negeri orang. Mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya. Padahal para wanita sangat rentan mengalami kekerasan. Sungguh miris kehidupan dalam Kapitalisme sekuler. Tega merenggut kesejahteraaan dan memberikan penderitaan kepada rakyat.


Islam Sebaik-Baik Sumber Kesejahteraan


Islam sebagai agama sekaligus sistem kehidupan yang menyeluruh mengatur segala aspek kehidupan. Tak terkecuali dalam mengatur perekonomian masyarakat agar menghasilkan kesejahteraan bagi tiap-tiap individu. Dalam Islam tidak akan terjadi yang namanya penyiksaan terhadap pekerja migran apalagi terhadap para wanita.


Sebab, dalam Islam negara akan menyediakan lapangan pekerjaan untuk setiap warga negara. Terkhusus para laki-laki yang memang syariat mewajibkannya untuk bekerja sebagai penanggung nafkah bagi para wanita dan keluarganya. Gaji yang diberikan negara sangat lebih dari cukup untuk memenuhi tanggungan nafkahnya. Tanpa harus merantau ke negara orang untuk bekerja.


Para wanita yang dalam syariat memang tak wajib bekerja, akan kembali pada fitrahnya sebagai tulang rusuk yang wajib dinafkahi. Sebagai ibu pengurus rumah tangga yang fokus mendidik generasi. Tanpa harus dipusingkan masalah ekonomi, apalagi hingga bekerja ke negara orang sampai mendapat penyiksaaan.


Sungguh, hanya Islam yang akan menjamin kehidupan yang sejahtera bagi masyarakat. Sebab, ia adalah sebaik-baik sistem kehidupan  yang diturunkan Allah Swt. kepada seluruh alam dan manusia. Maka, sudah saatnya kita kembali pada Islam kafah dalam institusi sahih bernama Khilafah. Wallahualam bissawab.