Alt Title

BUDAYA KEKERASAN PADA GENERASI, CERMINAN BOBROKNYA SISTEM KEHIDUPAN

BUDAYA KEKERASAN PADA GENERASI, CERMINAN BOBROKNYA SISTEM KEHIDUPAN



Pemuda yang seharusnya menjadi generasi harapan bangsa, malah minus moralitas dan berubah menjadi para pelaku kejahatan. Mereka tak segan menghilangkan nyawa orang lain, sekalipun usia masih terbilang muda


Mereka melakukannya seolah tak takut adanya ancaman dan hukuman menanti, demi memuaskan hawa nafsu, dan menggapai limpahan materi


Penulis Yunita M.

Anggota Komunitas Sahabat Hijrah Balut-Sulteng


KUNTUMCAHAYA.com-Kasus penganiayaan anak pejabat pajak, Mario Dandy Satriyo, terhadap putra petinggi GP Ansor, Jonathan Latumahina David, baru-baru ini menggegerkan publik. Penganiayaan secara brutal oleh Mario ini terjadi di sebuah perumahan Pesanggarahan. (cnnindonesia[dot]com, 25/02/2023)


Di daerah lain, kasus kekerasan juga terjadi. Polres Purwakarta mengamankan lima orang pemuda yang melakukan percobaan pencurian dengan kekerasan dan  penganiayaan. Diketahui, para pemuda tersebut masih berstatus pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kabupaten Purwakarta. (jurnalpolri[dot]com, 22/02/2023)


Tak hanya penganiayaan, miris kasus kekerasan seksual juga terjadi dan melibatkan para pemuda. Bahkan yang usianya masih belia. Seorang siswi SMP di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan meninggal usai menjadi korban pemerkosaan beberapa rekannya. Korban mengaku diperkosa secara beramai-ramai oleh empat rekan sekolahnya. (kompas[dot]com, 24/02/2023)


Sederet kasus kekerasan  di atas yang dilakukan para pemuda realitasnya hanyalah beberapa contoh kasus di antara ribuan kasus yang terjadi di negeri kita. Entah itu penganiayaan, pembacokan, kekerasan seksual dan masih banyak lagi. Kita tak mampu untuk menutup mata dari kerusakan generasi hari ini yang amat miris terjadi.


Pemuda yang seharusnya menjadi generasi harapan bangsa, malah minus moralitas dan berubah menjadi para pelaku kejahatan. Bahkan tak segan menghilangkan nyawa orang lain, sekalipun terbilang usia yang masih muda. Seolah tak takut adanya ancaman dan hukuman yang akan menanti, hanya demi memuaskan hawa nafsu dan menggapai materi, mereka tega melakukan kekerasan bak hewan yang tak berakal.


Apa yang terjadi dengan kondisi pemuda hari ini? Mengapa kian hari perilaku para pemuda kian bobrok dan tak bermoral? Karakter yang jauh dari cerminan pemuda harapan bangsa. Mungkinkah ke depannya negeri ini akan lebih baik, sementara cerminan kehidupan para pemuda dominan hanya kekerasan dan kerusakan. Mungkinkah setumpuk harapan bagi baiknya para pemuda masih ada? Ataukah mungkin hanya kepasrahan yang tersisa? 


Pemuda yang Jauh dari Nilai Syariat


Kekerasan yang terjadi di tengah kehidupan saat ini yang dilakukan oleh para pemuda jelas adalah permasalahan serius yang wajib diselesaikan hingga ke akarnya. Bobroknya moral para pemuda meniscayakan terjadinya berbagai tindak kekerasan, dengan alasan sepele tak jarang kekerasan menjadi jalan pintas penyelesaian masalah. 


Tumbuhnya benih-benih kekerasan bagi para pemuda terjadi pada dasarnya  bukan sekadar individu pemuda yang tak bermoral, akhlak ataupun kurang  adab. Melainkan disebabkan sebagian besar dari pergaulan rusak, pola pengasuhan dan pendidikan yang salah. 


Pola pengasuhan dari keluarga yang rusak, dimana banyak pemuda yang diasuh dalam keluarga yang tak paham nilai-nilai Islam dan syariat. Hal ini melahirkan pemuda yang tak menjadikan perbuatannya berstandar pada halal dan haram.


Dalam sistem pendidikan, kurikulum yang dirancang tak mampu membentuk generasi yang paham akan nilai-nilai agama. Sebab, akidah tak menjadi landasan kurikulum. Pendidikan hanya dirancang seperti tempat untuk menghasilkan para intelektual maupun generasi yang berorientasi pada asas materi semata. 


Sehingga melupakan bagaimana seharusnya bersikap sesuai tuntunan syariat. Mirisnya, jika ada pengajian Islam yang melibatkan para pemuda, tuduhan keji selalu dilontarkan kepada mereka. Semisal radikal maupun terorisme.


Belum lagi beredar bebasnya konten-konten yang merusak pemikiran para pemuda juga menjadi salah satu faktor yang menstimulus terjadi budaya kekerasan. Dimana kita dapati hari ini berbagai konten yang tak difilter bebas dikonsumsi publik, seperti pornografi dan kekerasan. Tak jarang banyak para pemuda yang terobsesi melakukan hal demikian.


Negara dalam Balutan Sekularisme


Berbagai faktor di atas memang meniscayakan terjadinya budaya kekerasan pemuda. Budaya tersebut sejatinya adalah runtutan permasalahan negeri ini yang disebabkan oleh diadopsinya sekularisme. Yakni paham yang memisahkan agama dalam mengatur kehidupan dari berbagai aspek. Semisal sistem pendidikan yang dijauhkan dari syariat, pergaulan yang bebas, keluarga yang  jauh dari visi misi agama, lingkungan individualis yang jauh dari budaya amar makruf nahi mungkar.


Semua itu adalah cerminan kehidupan saat ini, disebabkan oleh bobroknya sistem kehidupan yang ada dan dibangga-banggakan. Sadar maupun tidak, sistem ini lambat laun yang akan menghancurkan para pemuda secara perlahan.  Maka, sungguh tak layak negeri ini dan para penguasanya berbangga atas sistem rusak yang banyak melahirkan budaya keburukan.


Kembali pada Solusi Islam


Bobroknya sistem hari ini meniscayakan budaya kekerasan pemuda hari ini. Maka perlu dipahami yang dibutuhkan negeri ini untuk memberantas persoalan pemuda adalah memperbaiki akar permasalahan yang ada. Islam sebagai agama sekaligus sistem kehidupan adalah sebaik-baik solusi yang diturunkan dari Allah Swt. sebagai Pencipta manusia dan kehidupan yang tentunya Maha Tahu yang terbaik bagi manusia.


Islam dalam memberantas perilaku atau budaya kekerasan adalah dengan malakukan langkah pencegahan sedari dini. Islam membina individu agar senantiasa terikat dengan syariat kafah dalam berbuat atau bertindak. Melalui sistem pendidikan berbasis akidah, para pemuda akan sadar mengapa kekerasan dan berbagai tindak kemaksiatan tak boleh mereka lakukan semata-mata karena takut kepada Allah Swt.. 


Di samping itu, pengasuhan keluarga atau orangtua dalam Islam akan senantiasa terikat dengan tuntunan syarak. Sebab, individu-individu yang terbentuk dalam keluarga telah sebelumnya dididik dengan pemahaman Islam. Alhasil, kemungkinan besar tidak akan ada keluarga yang abai dalam pengasuhan anak-anaknya.


Budaya amar makruf nahi mungkar juga akan dilakukan masyarakat  dalam Islam. Sehingga akan mencegah terjadinya kekerasan di tengah-tengah kehidupan. Sementara negara juga akan memberikan sanksi ataupun hukuman tegas sesuai syariat Islam yang bersifat jawabir (penebus) dan zawajir (pencegah) kepada para pelaku kekerasan.


Demikian solusi Islam dalam memberantas budaya kekerasan, maka sungguh hanya dengan kembali kepada Islam dan syariat kafah sebaik-baik solusi bagi kehidupan. Wallahualam bissawab.