Peran Negara dalam Stabilitas PascaBencana
OpiniAdapun untuk mengembalikan kondisi setelah bencana banjir
akan memakan waktu dan menguras energi serta butuh waktu yang tidak sebentar
______________________
Penulis Forsaken lily
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Beberapa bangunan dan fasilitas penunjang lainnya akibat banjir bandang di Sumatra khususnya di Aceh masih belum stabil untuk beroperasi.
Rumah, sekolah, rumah sakit, dan fasilitas umum lainnya juga belum berfungsi normal. Menyedihkan, banjir itu telah memporak-porandakan semua yang mereka miliki dan mereka harus hidup dengan fasilitas apa adanya.
Walaupun keadaan cuaca sedikit sudah membaik. Namun, dampak dari bencana kemarin belum seutuhnya normal kembali untuk beraktivitas. Meski telah banyak sekolah yang terdampak bencana sudah mulai aktif kembali, tetapi masih ada ratusan sekolah di Aceh Utara tergenang lumpur dan belum sampai tahap pembersihan secara total.
Termasuk 120 pesantren dan balai pengajian masih rusak akibat banjir bandang yang terjadi kemarin. Kegiatan para santri tidak bisa maksimal dalam belajarnya. Dengan fasilitas seadanya mereka tetap harus menjalani aktivitas itu. (Kompas.com, 22 Januari 2026)
Kondisi demikian tentu akan mengganggu. Adapun untuk mengembalikan kondisi setelah bencana banjir akan memakan waktu dan menguras energi serta butuh waktu yang tidak sebentar. Semua ini harus dianggarkan dan anggaran itu harus tepat sasaran. Jangan sampai menjadi proyek bagi kapitalis sehingga menumbuhkan benih korupsi di proyek penstabilan kondisi korban bencana ini.
Para relawan hanya membantu saat terjadi bencana saja dan sifatnya sementara, bukan menjadi solusi praktis dan paten. Sedangkan pemulihan pendidikan anak membutuhkan kebijakan yang segera terealisasi, berkelanjutan, dan sesuai dengan apa-apa yang dibutuhkan. Alhasil, solusi itu benar-benar ada bukan hanya instruksi saja.
Sekolah-sekolah yang rusak perlu segera mendapatkan perhatian agar mereka bisa kembali merajut ilmu dengan bahagia. Menyediakan tempat belajar darurat merupakan solusi sementara yang harus segera diadakan. Agar kegiatan belajar mereka cepat terealisasi yang setidaknya bisa menetralkan psikis mereka.
Selain itu, negara juga harus melakukan kontroling situasi keamanan dan kenyamanan masyarakat yang menjadi korban bencana di setiap lini kondisi. Negara juga membenahi dan membiayai hidup mereka sampai kondisinya benar-benar stabil. Agar kehidupan masyarakat bisa kembali normal dan mereka bisa beraktivitas tanpa ada tekanan ekonomi.
Nasib pendidikan anak-anak sekolah yang terdampak bencana juga harus dijamin negara. Tak hanya fasilitas fisik, tetapi juga recovery mental dan membangun kepribadian yang kokoh. Psikis yang lemah akibat trauma harus dibangun kembali sehingga mereka kembali kuat dan rasa percaya diri tumbuh kembali. Pada kondisi inilah mereka sangat mengharapkan uluran tangan dan belaian kasih dari negara sehingga merasa diperhatikan.
Jangan sampai negara mengabaikan hak-hak mereka sebagai warga negara yang semestinya harus diurus, bukan diabaikan. Mengurus rakyat lebih penting dibandingkan dengan mengurus kerja sama dengan negara lain yang ujungnya merugikan negara sendiri.
Kemudian menindak tegas bagi para pelaku kejahatan yang serakah akan materi. Yang mana dari kejahatannya itu menjadikan sumber bencana. Jangan membiarkan para kapitalis menjadi tuan di negara sendiri yang seharusnya negara itu sebagai pemegang power.
Banjir yang menerjang kepulauan Sumatra ini seharusnya menjadi evaluasi bagi kita semua. Betapa tidak relevannya sistem perlindungan di lokasi bencana alam ala kapitalis ini. Daerah yang terdampak itu biasanya berada dalam kondisi serba kurang memadai, sarana prasarana yang belum memenuhi standar kelayakan, fasilitas umum juga kurang memadai, masih bergantung pada sumber alam sepenuhnya, dan mudah sekali terdampak ketika ada bencana.
Keegoisan kapitalisme yang menumbuhkan rasa tidak peka terhadap sesama, membuat masyarakat tak berdaya, makin lemah, dan pesimis. Kapitalis selalu menguasai di berbagai hal karena segala sesuatunya juga akan dikendalikan oleh kapitalis.
Dari sini seharusnya kita sudah bisa menilai bagaimana susahnya hidup di era kapitalisme. Berbeda dengan Islam, Islam mewajibkan negara untuk menjamin pendidikan gratis bagi seluruh warga negara. Negara akan memberikan fasilitas dan sarana yang sesuai untuk penunjang dari keberhasilan pendidikan.
Negara juga akan menyediakan guru yang kompeten sesuai dengan keahliannya. Negara akan mendesain kurikulum pendidikan berbasis akidah Islam, yang tidak hanya mencetak manusia terampil secara akademis, tetapi juga membentuk kesadaran ruhiah, yaitu kesadaran akan hubungan dirinya dengan Allah. Selain itu, akan melahirkan generasi yang berkepribadian Islam, dengan berpola pikir dan pola sikap Islam yang terikat dengan aturan Allah.
Terciptanya mental yang tangguh disertai dengan keimanan yang kuat sehingga terbentuk pribadi yang kokoh sangat penting bagi anak-anak korban bencana. Tujuannya agar mereka benar-benar kembali bahagia dan trauma itu akan hilang. Dengan begitu, mereka juga akan memiliki ketangguhan dalam menghadapi berbagai tantangan dan ujian kehidupan.
Dalam setiap kondisi baik normal maupun bencana, negara tetap bertanggung jawab pada rakyat di berbagai bidang khususnya dalam bidang pendidikan. Karena dari pendidikan akan mencetak generasi-generasi yang cemerlang. Apalagi pascabencana ini, negara harus benar-benar sigap dalam menormalkan kembali kondisi yang membuat mereka nyaman untuk menuntut ilmu.
Negara akan selalu menjamin kesejahteraan rakyat dengan sepenuh hati. Keadaan seperti ini sangat diharapkan oleh rakyat, setidaknya tingkat kejahatan akan minim sekali. Mengapa? Karena seorang pemimpin selalu berpegang teguh pada Al-Qur'an dan As Sunnah yang selalu dijadikan rujukan dalam memimpin rakyatnya. Sebagaimana firman Allah Swt.: "Dan Kami telah turunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) untuk menjelaskan segala sesuatu." (QS. An-Nahl: 89)
Dengan gambaran yang gamblang dan jelas, mengapa kita tidak mau kembali menuju ampunan Allah dan kembali kepada syariatNya. Allah Swt. akan mengampuni dosa setiap hamba yang bertaubat dengan sungguh-sungguh. Allah Swt. akan memberikan kehidupan yang aman, tenteram, dan sejahtera ketika para manusianya juga mau diatur dengan syariatNya.
Maka dari itu, mengapa kita masih ragu untuk mendapatkan ampunan dan kehidupan yang sejahtera dengan syariat Allah? Sudah sepatutnya kita tidak ragu dengan syariat Allah. Dengan kita mau menjalankan apa-apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarangNya.
Kebahagiaan itu akan kita raih dengan mutlak dan kita akan dilindungi dari bencana, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Karena hidup itu tidak untuk hari ini saja, kita juga harus memikirkan bagaimana untuk kehidupan di hari esok, yakni di kehidupan akhirat kelak yang menjadi tujuan abadi kita. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]


