Board of Peace dan New Gaza Topeng untuk Menutupi Jejak Genosida
Opini
Amerika Serikat mengambil upaya sistemis untuk mengusir penduduk G4za
dan mengubahnya menjadi proyek keuntungan ekonomi baru di bawah dominasi Barat
________________________
Penulis Amriane Hidayati
Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Ibu Rumah Tangga
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Hidup dalam kondisi kemanusiaan yang memprihatinkan, sampai saat ini warga P4lestina masih terombang-ambing nasibnya. Rumah-rumah mereka hancur, banyak keluarga dan saudara-saudara mereka syahid oleh gempuran bom Zion*s Isra*l.
Tentara Isra*l telah membunuh lebih dari 71.000 warga P4lestina di Jalur G4za. Sebagian besar korbannya adalah perempuan dan anak-anak. Begitu pun serangan Isra*l telah melukai lebih dari 171.000 orang dalam serangan brutal sejak Oktober 2023. (sindonews.com, 03-02-2026)
Namun, angka-angka korban hanya sebuah gambaran dingin dari penderitaan yang dirasakan setiap saat oleh warga P4lestina. Penderitaan tersebut berlangsung bahkan di tengah gencatan senjata yang telah disepakati. Sebelumnya, Menteri Keuangan Isra*l Bezalel Smothrich bahkan terang-terangan ingin menghapus negara P4lestina dan berupaya mendirikan pemukiman ilegal bagi warga Isra*l di wilayah Tepi Barat.
Isra*l yang didukung penuh oleh Amerika Serikat (AS) kini telah memiliki rencana baru untuk menghancurkan seluruh G4za dengan membangun kembali “New G4za atau G4za Baru.” Sebuah proyek pembangunan dari nol bagi wilayah P4lestina yang sudah hancur.
Visi rekonstruksi berskala besar ini diungkapkan oleh Jared Kushner yang merupakan menantu dan penasihat senior Presiden AS Donald Trump. Kushner membawa cara pandang yang tidak lazim dalam isu perdamaian Timur Tengah dengan menempatkan pembangunan ekonomi sebagai titik awal. (mediaindonesia.com, 23-01-2026)
Untuk menggerakkan rencana tersebut, AS juga telah meresmikan pembentukan Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) pada tanggal 22 Januari lalu, sebagai bagian dari rencananya dalam mengakhiri perang dengan mengelola pemulihan tata kelola G4za yang mencakup penyelesaian konflik dan pembangunan perdamaian global. Kurang lebih 19 dari 36 negara diundang (di antaranya negara mayoritas muslim seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Mesir, Jordania, Maroko, Pakistan, Turki, dan Indonesia) telah menandatangani piagam tersebut. (kompas.id, 28-01-2026)
Board of Peace dan New G4za untuk Siapa?
Dari pernyataan pemerintah Isra*l sebelumnya melalui menteri Bezalel Smothrich yang menginginkan penghapusan negara P4lestina. Kita bisa menarik kesimpulan bahwa pembentukan rencana “G4za Baru” dan Dewan Perdamaian G4za oleh AS dilakukan bukan untuk kepentingan warga G4za. AS dan Isra*l berambisi untuk menguasai G4za dan berusaha menutupi genosida yang telah dilakukan dengan janji-janji semu pemulihan dan perdamaian bagi warga G4za.
Sebaliknya, pembentukan Dewan Perdamaian G4za dilakukan untuk memperkuat posisi kendali politik internasional AS dengan jalan merangkul negeri-negeri muslim sebagai dalih pemulihan pascaperang. Wakil Ketua Komisi I DPR Sukamta menyampaikan kekhawatirannya terkait pembentukan Dewan Perdamaian G4za yang berpotensi mereduksi isu P4lestina sebatas proyek stabilisasi keamanan semata. Sementara akar persoalan berupa pendudukan dan pelanggaran hukum internasional diabaikan. (tempo.co, 22-01-2026)
Namun, sejatinya seluruh rencana tersebut dilakukan sebagai upaya sistemis mengusir penduduk G4za dan mengubahnya menjadi proyek keuntungan ekonomi baru di bawah dominasi Barat. Semua itu dilakukan sebagai siasat untuk menguasai dan mengendalikan G4za secara totalitas sekaligus topeng untuk menutupi jejak genosida Zion*s Isra*l.
Persatuan Umat untuk Melawan Negara Kafir Penjajah
Wilayah G4za dan P4lestina sejatinya merupakan tanah milik umat Islam yang dirampas oleh Isra*l. Ia adalah tanah yang diberkahi, tempat turunnya wahyu, dan panggung bagi kisah para Nabi. Tanah P4lestina sering disebut sebagai "wakaf" umat Islam.
Tanah P4lestina bukan hanya milik bangsa P4lestina, tetapi juga milik seluruh umat Islam di dunia. Istilah wakaf ini menunjukkan bahwa tanah P4lestina tidak boleh dijual atau diserahkan kepada selain muslim.
Selain itu, Allah Swt. melarang umat Islam untuk tunduk dan patuh pada negara kafir, sebagaimana Allah Swt. berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, jangan kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali Imran[3]: 118)
Oleh karena itu, haram juga bagi para pemimpin negeri-negeri muslim untuk ikut bergabung dalam keanggotaan "Board of Peace". Sudah seharusnya umat Islam dan penguasa muslim melawan semua makar maupun rencana AS dan Isra*l untuk menguasai wilayah G4za, bukan dengan bergabung dalam Dewan Perdamaian yang berpotensi melenyapkan apa yang tersisa dari negara P4lestina. Namun, kita wajib membebaskan P4lestina dengan perjuangan jihad dan memboikot rencana-rencana negara kafir penjajah yang jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip tauhid dan keadilan dalam Islam.
Maka sejatinya, solusi pembebasan P4lestina tidak akan pernah diberikan oleh negara kafir begitu saja, sebaliknya persatuan umat Islam di bawah naungan kepemimpinan Islam yang menerapkan hukum Allah Swt., melalui jihad dan menegakkan sistem Islam merupakan prioritas perjuangan untuk mengakhiri penderitaan warga P4lestina dan negara-negara muslim yang tertindas lainnya. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]


