Alt Title

Kekerasan pada Guru Sebab Sistem Pendidikan yang Rusak

Kekerasan pada Guru Sebab Sistem Pendidikan yang Rusak



Kasus guru dikeroyok murid bukan sekadar konflik personal atau luapan emosi sesaat

Ini adalah problem serius dari dunia pendidikan yang sedang tidak baik-baik saja

______________________


Penulis Ika Fath

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Lagi-lagi, dunia pendidikan Indonesia dihebohkan dengan sebuah video yang beredar di media sosial. Video tersebut memperlihatkan seorang guru yang  dikeroyok oleh beberapa siswa. Guru tersebut bernama Agus Saputra, pengajar di SMKN 3 Berbak Kab. Tanjung Jabung Timur, Jambi.  


Kejadian ini bermula karena guru tersebut tersinggung dengan siswa yang mengejeknya dengan kata yang tidak pantas. Beliau refleks menampar murid tersebut. Tindakannya memicu amarah siswa lain sehingga terjadi pengeroyokan. Namun, dari penuturan siswa yang berinisial MUF mengatakan bahwa guru tersebut sering berbicara kasar, menghina siswa dan wali murid. Beliau juga tidak ingin dipanggil bapak tapi ‘Prince atau Pangeran’. (Regionalkompas.com, 18-01-2026)


Dalam video lain diperlihatkan, guru tersebut mengacungkan celurit untuk membubarkan siswa yang melemparinya batu. Bapak Ubaid Matraji Koordinator Nasional JPPI (Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia) memberi tanggapan atas insiden ini. Beliau mengatakan bahwa peristiwa ini melanggar konstitusi dan UU Perlindungan Anak.

 

Anak-anak berhak mendapatkan perlindungan dan pendidikan yang aman tanpa kekerasan. Beliau menambahkan, sekolah merupakan wadah untuk anak belajar dan berkembang. Mereka bukan menjadi sasaran kekerasan dari orang dewasa dalam lingkungan sekolah. (detik.com, 15-01-2026)


Potret Dunia Pendidikan


Kasus guru dikeroyok murid bukan sekadar konflik personal atau luapan emosi sesaat. Ini adalah problem serius dari dunia pendidikan yang sedang tidak baik-baik saja. Relasi guru–murid yang semestinya dibangun di atas penghormatan dan keteladanan justru berubah menjadi relasi penuh ketegangan, bahkan kekerasan. Ketika sekolah tidak lagi aman untuk siswa, berarti ada yang salah dengan sistem pendidikan sekarang.


Fenomena ini tidak lahir begitu saja. Wewenang guru yang terkikis oleh berbagai faktor. Kebijakan pendidikan yang tidak pernah memihak pada guru. Guru dituntut untuk mendidik sepenuh hati, tetapi dibatasi dalam menegakkan kedisiplinan siswa. Sedikit menegakkan kedisiplinan berujung dilaporkan ke pihak yang berwajib, dikriminalisasi. Akibatnya hubungan antara guru dan siswa tidak lagi dibangun atas rasa hormat dan mendidik, tetapi berubah menjadi hubungan yang defensif.


Namun di sisi lain, tidak dapat kita pungkiri bahwa masih ada beberapa oknum guru yang menjalankan perannya dengan keliru. Alih-alih mendidik dan memberi teladan, sebagian memilih berbicara dengan kasar, menghina, dan melabeli siswa dengan kata-kata yang melukai psikologisnya. Berdampak menghancurkan rasa percaya diri siswa, memicu kemarahan yang terpendam, dan menumbuhkan rasa benci pada guru.


Sementara itu, siswa tumbuh di lingkungan sosial yang tidak baik. Mereka tumbuh di era digital yang segalanya bisa diakses dengan mudah. Isi konten media sosial yang sama sekali tidak mendidik dan mengandung kekerasan. Akhirnya, berdampak dalam membentuk individu yang terbiasa melihat kekerasan. Sistem pendidikan yang tidak mampu mencetak pribadi berkarakter, berakhlak mulia, dan beradab sehingga mereka krisis keteladanan orang dewasa, dan kehilangan kemampuan dalam mengontrol emosi sekaligus tidak mampu menghormati yang lebih tua.


Inilah buah dari pendidikan sistem yang rusak. Dalam sistem sekuler kapitalisme yang pendidikan dijauhkan dari agama. Pendidikan dibangun dengan menjadikan materi sebagai tujuan sehingga hanya fokus pada mengejar angka prestasi, peringkat dan pencapaian secara administratif untuk mencetak SDM robot para kapitalis dan mencetak manusia yang materialis dan individualis.


Pendidikan dalam Islam


Berbeda dengan sistem sekuler kapitalisme yang mengesampingkan agama dalam pendidikan bahkan seluruh aspek kehidupan. Islam hadir bukan hanya sebagai agama spiritual saja, ia juga sebuah mabda atau ideologi yang mengatur segala urusan manusia. Ideologi Islam yang berasaskan akidah, hadir bukan hanya mengurusi ibadah saja, tetapi mengatur semua aspek, baik agama,sosial, politik dan pendidikan.


Dalam Islam, pendidikan adalah salah satu prioritas utama negara. Hal ini terbukti dengan sejarah Islam yang melahirkan manusia-manusia hebat, yang karyanya masih kita nikmati hingga sekarang. Imam Syafi'i contohnya, beliau merupakan guru dari Imam Ahmad bin Hambal yakni pendiri mazhab Hanbali, dikenal sebagai salah satu murid paling berilmu.


Selain Imam Ahmad bin Hambal, beliau juga memiliki murid lain yang bernama Ar-Rabi bin Sulaiman yang terkenal lambat dalam memahami materi dibanding murid-muridnya yang lain. Namun, dengan kesabarannya beliau tetap mengajari sampai mengulang 39 kali. Imam Syafii tidak pernah melabeli murid tersebut dengan label buruk yang mematahkan semangat belajar murid.


Buah atas kesabaran, kebaikan dan keteladanan imam Syafi’i, akhirnya Ar-Rabi bin Sulaiman menjadi salah satu ulama besar. Beliau menjadi salah satu perawi hadis yang sangat kredibel dalam periwayatannya. Kisah ini menjadi bukti bahwa hubungan baik yang terjalin antara guru dan murid dan didukung oleh sistem pendidikan Islam yang mulia, melahirkan manusia-manusia terbaik pada masanya hingga ilmunya bermanfaat hingga sekarang.


Bahwa hasil ulama seperti Imam Syafi'i dan lain-lain tidak akan lahir dari sistem sekuler melainkan sistem Islam yang sangat prioritaskan pendidikan sesuai dengan panduan yang tepat. Karena itu, kewajiban hidup dalam naungan Islam adalah kebutuhan bukan sekadar kewajiban yang dibebankan oleh Allah kepada manusia. 


Sesuai firman Allah Swt.: "Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam (kedamaian) secara menyeluruh dan janganlah ikuti langkah-langkah setan! Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagimu." (QS. Al-Baqarah: 208)


Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]