Sekularisme Merusak Fungsi Keluarga
ReportaseDalam Islam, pendidikan dijalankan dengan prinsip ketakwaan
bukan sekuler dan berorientasi materi
______________________________
Penulis Linda Ariyanti
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, REPORTASE- Keluarga adalah institusi terkecil di masyarakat. Dari sana, diharapkan lahir generasi penerus peradaban. Namun, ketika institusi terkecil ini kehilangan fungsinya, generasi yang lahir justru memunculkan masalah-masalah baru. Hal ini yang terjadi di negeri ini, termasuk di Provinsi Jambi. Ketika angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) meningkat, kekerasan yang berasal dari remaja/pemuda juga ikut meramaikan pemberitaan.
Permasalahan ini diangkat dalam forum Diskusi Tokoh Muslimah Jambi dengan tema “Muslimah Bicara Generasi: Disfungsi Keluarga, Selamatkan dengan Islam” pada hari Ahad, 09 November 2025, di salah satu hotel di Kota Jambi. Acara ini dihadiri oleh tokoh muslimah dari kalangan mubalighat, tokoh politik, organisasi kemasyarakatan, guru, tenaga kesehatan, dosen, intelektual, aktivis kampus dan organisasi kepemudaan, serta aktivis muslimah yang peduli terhadap nasib keluarga dan generasi.
Dalam kesempatan tersebut, Ustazah Renny Kurniawati, S.Hut, memaparkan materi tentang disfungsi keluarga akibat praktik kehidupan sekuler. Beliau menjelaskan bahwa kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya menimpa perempuan dan anak, tetapi laki-laki pun bisa menjadi korban KDRT. Keluarga broken home akhirnya melahirkan kenakalan remaja. Bahkan hal ini sudah sampai membentuk karakter kriminal di kalangan remaja.
Beliau kemudian menjelaskan bahwa kerusakan keluarga dan generasi terjadi karena beberapa hal. Pertama, praktik sekularisme dalam kehidupan menjadikan keluarga tidak berlandaskan Islam dan jauh dari tanggung jawab moral. Kedua, kurikulum pendidikan sekuler liberal yang berlandaskan kebebasan tanpa batas dan sikap individualistik tidak berhasil membangun generasi cemerlang.
Ketiga, tujuan hidup materialistik menjadikan kebahagiaan dinilai dari hal duniawi sehingga membuat tekanan hidup memicu keretakan dan kekerasan. Terakhir, tidak hadirnya peran negara; demokrasi sekuler tidak hadir dan bertanggung jawab atas seluruh permasalahan di masyarakat. UU PKDRT, UU Perlindungan Anak, dan perundangan lain tidak mampu melindungi generasi dan mencegah terjadinya KDRT.
Materi dilanjutkan oleh Ustazah Hj. Umi Diwanti, S.Pd dengan tema, "Islam mewujudkan generasi unggul melalui pendidikan dan optimalisasi fungsi keluarga". Beliau fokus menyampaikan solusi fundamental untuk membentuk individu bertakwa dan membangun peradaban yang kuat.
Beliau mengawali paparan materinya dengan menjelaskan tafsir QS. Ar-Rum ayat 41 bahwa kerusakan yang terjadi hari ini—kerusakan generasi, rusaknya keluarga, hancurnya tatanan kehidupan—disebabkan oleh ulah manusia yang meninggalkan aturan Allah Swt.. Beliau kemudian menjelaskan bahwa Islam memiliki solusi komprehensif dan menyeluruh yang mampu mencegah kekerasan dalam keluarga dan mencetak generasi unggul.
Dalam Islam, pendidikan dijalankan dengan prinsip ketakwaan, bukan sekuler dan berorientasi materi. Syariat Islam menjadi asas dalam membangun keluarga sehingga peran qawwam seorang ayah bisa terlaksana, peran ibu juga akan terwujud sempurna dalam bingkai syariat Islam. Negara dalam Islam akan menjalankan tugasnya sebagai raa’in (pengatur, penjaga, pelindung), bukan hanya sekadar pembuat regulasi. Negara akan memastikan sistem ekonomi yang menyejahterakan serta mewujudkan keamanan bagi rakyatnya. Terakhir, negara akan menegakkan sanksi hukum bagi pelanggar aturan hukum yang ditetapkan dalam Islam.
Ustazah Hj. Umi Diwanti juga mengajak seluruh peserta yang hadir untuk kembali memahami perannya sebagai ummun warabatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga), ummu ajyal (ibu para generasi pemimpin masa depan) dan tugas sebagai muslimah yang wajib mengemban amanah dakwah, sebab saat ini Islam masih ditinggalkan. Beliau mengajak seluruh peserta untuk mewujudkan generasi unggul dengan memperjuangkan kembali penerapan syariat Islam kafah menjadi solusi terbaik dari Sang Pencipta.
Dalam sesi diskusi, peserta sangat antusias bertanya, baik dari kalangan aktivis muda maupun dari kalangan ibu-ibu tokoh. Pertanyaan mengerucut pada bagaimana menyikapi fenomena married is scary, individualisme, sekularisme, dan bagaimana melakukan dakwah kepada anak, suami, keluarga, tetangga dan masyarakat, serta bagaimana bisa istikamah dalam ketaatan. Wallahualam bissawab.


