Alt Title

Fatherless: Luka yang Tak Terlihat tapi Terasa

Fatherless: Luka yang Tak Terlihat tapi Terasa



Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari masalah 

sosial dan ekonomi yang saling terhubung


________________________


Penulis Melina Caesar Wahyuningtyas, S.Kom

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - “Ayah, hari ini aku kesepian dan nggak tahu harus lari ke mana lagi. Ayah, ini arahnya ke mana, ya? Anak kecil ini kehilangan jalan pulangnya.” Kutipan dari buku Ayah, Ini Arahnya ke Mana, ya? karya Khoirul Trian (2024).


Kedengarannya seperti obrolan ringan antarteman atau mungkin ini pengalaman pribadi yang tak sempat diucap. Obrolan ini bukan kasus satu dua orang saja. Fenomena ini punya nama: “fatherless”. Kenapa fenomena fatherless ini bisa terjadi?


Istilah “fatherless” merujuk pada kondisi di mana anak tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah baik secara fisik, emosional maupun spiritual. Kehadiran ayah bukan cuma soal ada di rumah, tapi soal terlibat, membimbing, melekat secara manusiawi. Namun hari ini, banyak yang bilang: “Ayah ada, tetapi tak benar-benar hadir.”


Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari masalah sosial dan ekonomi yang saling terhubung. Salah satu penyebab utamanya: kemiskinan struktural. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan Indonesia per Maret 2024 mencapai 9,03%, setara 25,22 juta jiwa penduduk hidup di bawah garis kemiskinan. (bps.go.id, 01-07-2024) 


Meski turun sedikit dari tahun sebelumnya, angka ini tetap menunjukkan jutaan keluarga hidup dalam tekanan ekonomi berat.


Di sisi lain, banyak ayah meninggalkan keluarga demi pekerjaan. Data BP2MI pada (databoks.katadata.co.id, 24-04-2025) mencatat pekerja migran laki-laki terbanyak berasal dari daerah miskin seperti NTB, NTT, dan Jawa Timur, dengan total 71.392 orang.


Mereka pergi karena sulit mendapat pekerjaan layak di daerah asal. Akibatnya, muncul keluarga jarak jauh: ayah di luar negeri atau kota besar, sementara anak tumbuh bersama ibu atau kakek-nenek.


Data BPS lewat Susenas Maret 2024 menunjukkan, sekitar 15,9 juta anak Indonesia (≈20,1%) tumbuh tanpa pengasuhan ayah yang aktif. Dari jumlah itu, 4,4 juta anak tanpa ayah sama sekali. Sementara, 11,5 juta lainnya punya ayah dengan jam kerja ekstrem lebih dari 60 jam per minggu.


Bahkan laporan (antaranews.com, 10-07-2025) menyebut 20,9% anak Indonesia kehilangan sosok ayah secara aktif dalam keluarga. Ini menunjukkan bahwa fatherless bukan cuma karena ayah meninggal, tetapi juga akibat perceraian dan jam kerja yang berlebih.


Data lain dari malang.disway.id, 30-06-2025 menegaskan rata-rata pekerja Indonesia bekerja 41 jam per minggu, dan jutaan lainnya lebih dari 45–60 jam. Artinya, banyak ayah hadir secara fisik, tapi waktu dan energinya terkuras jauh dari proses tumbuh anaknya.


Akar Sistemik yang Jadi Pemicu


“Ayah bukan nggak mau hadir. Kadang dia nggak punya pilihan.” Masalahnya bukan sekadar ayah buruk atau ayah cuek, tetapi ada sistem yang menjadikan ayah mesin pencari uang dan keluarga jadi sisipan.


Tekanan ekonomi & kemiskinan tersistemasi. Sistem ekonomi yang menempatkan manusia hanya sebagai unit produksi menyebabkan banyak pekerja laki-laki dipaksa bekerja lama demi sekadar bertahan. Jika sebuah keluarga hidup dalam keadaan ekonomi yang sulit, maka ayah jadi fokus ke cukupkan kebutuhan materi padahal perlindungan emosional, bimbingan, kehadiran spiritual juga penting.


Di sisi lain, mindset masyarakat cenderung mengukur keberhasilan keluarga dari aspek materi (mobil, gadget, liburan, dan lain-lain). Bukan dari fungsi keluarga membina, mengasuh, memimpin dalam iman dan akhlak.


Gaya hidup hedonistik dan sekularisme. Hidup yang makin modern juga konsumtif mendorong individualisme: aku, kebutuhanku, karirku. Waktu untuk keluarga sering jadi korban.


Dalam sistem yang jauh dari nilai Islam, ayah hanya dianggap sebagai pencari nafkah, bukan qawwam (pemimpin, pelindung, penanggung jawab). Akibatnya, fungsi ayah sebagai teladan dalam iman dan akhlak melemah mengundang generasi yang hadir, tetapi kosong.


Kebijakan negara dan struktur sosial yang lemah dalam melindungi keluarga. Ketika negara tidak memberikan jaminan lapangan kerja yang layak, upah yang adil, jam kerja yang manusiawi  maka beban jatuh pada individu. Padahal dalam pandangan Islam, negara punya tanggung jawab untuk menjaga keutuhan keluarga, membantu ayah agar bisa menjalankan perannya. Tanpa sistem yang mendukung, ayah terpaksa hadir tapi tak benar-benar ada.


Perspektif Islam: Ayah sebagai Qawwam


Dalam Islam, peran ayah sangat jelas. Allah Swt. berfirman: “Kaum laki-laki adalah qawwam (pemimpin, pelindung, penanggung jawab) atas kaum wanita…” (QS. An-Nisa [4]: 34)


Qawwam bukan sekadar urus nafkah, tetapi urus keluarga: pendidikan, bimbingan, akhlak, keamanan spiritual. Ayah tak bisa sendiri ibu juga punya peran sentral sebagai pengasuh, pendidik, pengatur rumah tangga. Keduanya saling melengkapi.


Jika ayah wafat atau tak ada, dalam Islam ada sistem perwalian yang mengatur wali nasab (kakek, paman, saudara laki-laki). Namun, jika kondisi wali dari nasab ayah tidak ada atau tidak mampu maka wajib bagi negara mengambil alih peran perwalian tersebut.


Hal ini disandarkan pada salah satu hadis Rasulullah saw., “Apabila mereka (perempuan) tidak memiliki wali, maka penguasa (sulthān) adalah wali bagi siapa saja yang tidak memiliki wali.” (HR. Abu Dawud no. 2083)


Semua pengaturan ini hanya dapat terwujudkan dalam penerapan Islam secara menyeluruh dibawah institusi Daulah Khil4fah. Semoga Allah segera mewujudkan hal tersebut. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]